Ketika Jalan Berubah Menjadi Parit

Abdul Hamid

Oleh: Abdul Hamid

HARIAN ini dua hari berurutan, 19 dan 20 September 2021, kembali mengangkat topik tentang kota parit Pontianak yang kehilangan identitas paritnya, dan mengharapkan agar dikembalikan menjadi Kota Seribu Parit.

Sebenarnya saya sejak beberapa tahun yang lalu sudah kurang begitu tertarik lagi membicarakan hal yang satu ini. Mengapa demikian?

Di samping hal ini sudah cukup sering dibicarakan baik dalam diskusi maupun dalam seminar,  tulisan, kini juga kian bermunculan sarjana teknik sipil yang memilih dan mendalami bidang pengairan/irigasi, dan sumber daya air, dan saya pun sudah lebih terfokus pada bidang konstruksi bangunan gedung, dan rekayasa gempa.

Terbaru seminar tentang drainase dimana saya ikut sebagai pembicara adalah seminar drainase Kota Pontianak yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura(IAFT-Untan) pada Kamis 12 Maret 2020, di salah satu hotel di kota Pontianak. Apa yang Saya sampaikan dapat dibaca secara lengkap di  https://www.researchgate.net/profile/Abdul-Hamid-28/research.

Persoalan drainase di kota Pontianak kian terasa sejak dibangunnya Pelabuhan Dwikora sekitar tahun 1970-an. Persoalan kian bertambah dengan didirikannya sejumlah bangunan rumah toko(Ruko), kantor, rumah tinggal, yang mempekecil dan menutupi parit-parit yang ada, seperti . Pasar Kapuas Indah,  Seroja, Nusa Indah dan pengembangannya di depan RRI/Jln Sudirman, dan bangunan-bangunan di Jalan Gajah Mada.

Pemerintah kota pun ikut-ikutan menutup permukaan parit yang ada, “memperindah” nya dengan saluran beton bertulang, padahal desain drainasenya sudah dibuat. Dulu diantaranya ada yang “bermimpi angsa/bebek berenang” di parit Jalan Gajah Mada, yang kalau tidak salah juga diberitakan harian ini (AKCAYA-Pontianak Pos).

Secara umum banyak faktor yang mempengaruhi dan patut dipertimbangkan secara matang dalam perencanaan drainase kota, termasuk kota Pontianak. Kota Pontianak dengan kemiringan 0-2%, secara umum dapat dikatakan datar. Dengan demikian aliran air lamban, dan sebagai akibatnya tingkat pengendapan menjadi tinggi. Kita bisa lihat sendiri betapa cepatnya terjadi pendangkalan parit / sungai di kota ini, sehingga pengerukan perlu selalu dilakukan.

Luas wilayah yang kecil, dengan pertambahan penduduk cukup cepat, mengakibatkan kepadatan penduduk menjadi tinggi, yang kini lebih dari 6000 jiwa/KM2. Hampir 13 persen penduduk Kalimantan Barat bermukim di kota Khatulistiwa ini. Kepadatan penduduk yang tinggi, dengan tingkat disiplin yang juga masih dikatakan rendah, mengakibatkan sebagian parit menjadi tempat sampah panjang, dan lagi mempercepat mendangkalnya parit. Beruntung ada pengaruh pasang surut setiap bulannya sehingga buangan air kotor tidak menimbulkan aroma kurang sedap setiap hari. Tampaknya kota ini perlu membuat bak sampah terapung pada wilayah-wilayah tertentu. Aliran permukaan kian besar karena bertambahnya lahan yang tertutup dari waktu ke waktu.

Menutup bagian atas parit sebenarnya bukan persoalan apabila solusinya sudah sekaligus dipersiapkan.Apa yang perlu dilakukan?

Tampaknya perlu dipertimbangkan untuk menyusun kembali perencanaan sistem drainase kota yang sesuai dengan visi, misi kota, dan tujuan, serta sasaran  yang diinginkan, bersamaan dengan meneruskan pekerjaan pembangunan drainase, dikerjakan setiap tahun berdasarkan prioritas, dan disesuaikan dengan anggaran yang tersedia. Pekerjaan dapat saja dilakukan dengan mendahulukan: menyelamatkan parit-parit utama pada setiap kecamatan/kelurahan.

Memperhatikan kondisi yang ada sekarang, tampaknya pada bagian wilayah tertentu perlu(terpaksa?) menggunakan sistem pompa.

Dampak negatif dari permukaan parit yang ditutup, seperti lokasi di  Jalan Ahmad Yani, dan sekitarnya, termasuk Jalan Gajah Mada, sudah dirasakan, dimana jalan pun tiba-tiba  menjadi parit. Permukaan parit ditutup menjadi jalan/tempat parkir, dan jalan pun tak mau kalah, sekali-kali menjadi parit. Tetap semangat Pak Wali Kota! (*)

*Penulis pernah menjabat sebagai Ketua/ Anggota Pusat Studi Lingkungan Untan, profesi teknik sipil.

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!