Ketika ‘Like or Dislike’ Berbicara

Setiap orang ingin bekerja di perusahaan yang memiliki sistem manajemen yang bagus. Namun, tak sedikit pula yang terlanjur bekerja di perusahaan yang menganut sistem ‘like or dislike’. Tak melihat kemampuan, tapi mengisi jabatan dengan sistem suka atau tidak terhadap karyawan.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Memiliki pimpinan yang menganut sistem like or dislike memang tak menyenangkan. Namun, banyak perusahaan yang melaksanakan sistem tersebut.

Psikolog Dewi Widiastuti Lubis menyatakan dari segi psikologis, sistem like or dislike yang ditunjukkan perusahaan atau pimpinan bukanlah hal yang baik.

“Sebagai pimpinan, seharusnya dia mampu bersikap adil dan merata,” ujar Dewi.

Jika melihat karyawan memiliki kemampuan, bisa memberinya kesempatan untuk memajukan perusahaan. Hindari untuk mengandalkan satu karyawan (yang disukai) dan menyampingkan kemampuan karyawan lain.

“Atau, hanya karena tak menyukai pribadi karyawan, pimpinan lalu bersikap tak suka. Padahal, bisa saja karyawan yang tak disuka membawa pengaruh besar dalam kesuksesan perusahaan,” ujarnya.

Psikolog di RSJ Daerah Sungai Bangkong Pontianak ini mengatakan pimpinan bisa mengooreksi diri saat bersikap tak suka terhadap karyawannya.  Perusahaan atau pimpinan yang menerapkan sistem like or dislike akan membuatnya tak bisa mengayomi dan bersikap netral. Akhirnya tak mampu mencapai target perusahaan.

Kondisi tersebut juga membuat adu domba antarkaryawan lebih mudah terjadi. Karyawan dapat saling menjatuhkan.

“Karyawan lebih senang bekerja dengan cara menjilat dan mencari muka di depan pimpinan. Khususnya, karyawan yang disenangi pimpinan,” tutur Dewi.

Psikolog di Apotek Pelangi Kasih ini mengatakan pimpinan seharusnya bisa menganyomi. Jika ada yang salah, introspeksi diri apakah bisa mengatur perusahaan dengan baik.

“Apabila terus-menerus mengedepankan sistem like or dislike, dirinya tentu belum bisa menjadi sosok pimpinan yang baik bagi perusahaan,” ungkap Dewi.

Jika ada yang tak disukai dari diri karyawan,  pimpinan sebaiknya mengajak berbicara empat mata. Daripada harus memperlihatkan ketidaaksukaan secara terang-terangan. Pimpinan harus bersikap netral.

“Penting bagi perusahaan atau pimpinan untuk menghilangkan sistem like or dislike. Masa kerja, usia, dan pendidikan tak menjamin seseorang mampu memimpin perusahaan dengan sukses,” pungkasnya.**

Read Previous

Ada Perantara di Antara Kita

Read Next

Tujuh Pekan, Liverpool Belum Terhentikan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *