Ketika Orangtua Terus Membela Anak

Setiap orangtua pasti menyayangi anak-anaknya. Namun, tanpa disadari rasa sayang itu menyebabkan sikap berlebihan. Salah satunya terus membenarkan perbuatan buah hati dan membelanya saat melakukan kesalahan.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Tak ada orangtua yang ingin anaknya sedih, terluka, maupun kecewa. Begitu pula dalam bermain, selalu mengawasi agar tak terjadi hal tersebut. Seperti dilakukan sebut saja Sri. Perempuan berusia 45 tahun ini selalu membela anaknya, walau sang anak menjadi biang keonaran.
Suatu ketika, anak Sri yang berusia delapan tahun mengejek teman sekelasnya. Lalu, sang teman membalas. Anak Sri pun kembali membalas dengan memukul temannya. Akhirnya saling pukul dan anak Sri terluka. Bukannya menasehati anaknya, Sri malah mencari teman sang anak dan memarahinya.

Tindakan seperti ini sering dilakukan Sri, jika anaknya berselisih dengan temannya. Sri selalu menganggap anak satu-satunya paling benar dan menyalahkan orang lain. Akhirnya Sri dan anaknya dikucilkan orangtua murid lainnya. Tak ada yang mau berteman dengan Sri dan anaknya.

Psikolog Dewi Widiastuti Lubis mengatakan tak hanya oleh orang lain, ketika si kecil ditegur atau dimarahi oleh ayah, ibu bisa tak terima. Begitu pula sebaliknya. Hal ini tak bisa disalahkan karena ayah maupun ibu memiliki rasa tak tega pada anaknya. Terutama ibu yang telah mengandung dan melahirkan si kecil ke dunia.

Dewi Widiastuti Lubis // Psikolog

“Merasa tak tega wajar, tapi jika memang anak melakukan kesalahan, ayah maupun ibu wajib untuk menegur. Salah rasanya jika orangtua membiarkan anak melakukan kesalahan,” kata Dewi.

Bentuk teguran yang diberikan tentunya disesuaikan dengan usia anak, jenis kelamin, dan hukuman yang mungkin akan diberikan pada anak. Dan, orangtua tak bisa langsung main fisik.

“Main fisik untuk menegur kesalahan yang diperbuat anak bukan langkah tepat,” katanya.

Ketika salah satu orangtua menegur, ibu atau ayah tak boleh membela. Pembelaan yang diberikan justru akan membuat anak tak bertanggung jawab. Anak merasa ia akan selalu dilindungi ayah atau ibunya.

“Contohnya, ketika mendapati mainan anak yang baru dibeli rusak. Orangtua harus bisa membuat anak sadar bahwa ia melakukan kesalahan hingga menyebabkan mainan barunya rusak,” papar Dewi.

Orangtua bisa menjelaskan alasan sehingga anak mendapat teguran. Teguran ini bukan bentuk melukai anak. Tapi, membuat anak mempelajari sesuatu dan belajar tanggung jawab.

“Biasakan mulai dari hal kecil. Tentu saja pembiasaan ini akan berlanjut hingga dewasa. Sehingga, ketika nantinya anak melakukan kesalahan, ia bisa bertanggung jawab. Jika anak terus-menerus dibela, tentu ia akan menjadi sosok yang manja,” ungkap Dewi.

Dewi tak menampik masih banyak orangtua yang permisif dan berpikiran bahwa kesalahan anak adalah hal lumrah terjadi. Orangtua yakin lama-kelamaan anak juga bisa berubah.

“Namun, bagaimana perilaku tersebut bisa diubah jika orangtua tak membentuk karakter anak sejak dini. Penting bagi orangtua untuk menanamkan hal positif pada anak sejak dini,” tutur Dewi.

Jika orangtua merasa paling mengenal anak sehingga tak mungkin melakukan kesalahan pada orang lain, menurut Psikolog di RSJ Daerah Sungai Bangkong Pontianak ini, akan berdampak buruk bagi kehidupan anak kedepannya. Anak akan cenderung mengabaikan orang lain.

“Karena pola asuh yang didapatnya sejak kecil seperti itu. Ketika anak melakukan kesalahan, akan sulit baginya untuk meminta maaf,” ujar Dewi.

Orangtua harus paham membela anak boleh saja dilakukan.

“Tapi, ketika anak berbuat salah, tetap harus ditegur dan hindari membiarkan hanya karena tak tega atau terlalu sayang pada anak,” pungkas Dewi. **

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!