Ketika Sekolah Jadi Tempat Perundungan

Tindakan perundungan bisa terjadi di mana saja. Bahkan, aksi ini bisa dilakukan di tempat anak menuntut ilmu. Yakni, sekolah. 

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Psikolog Tantu Wrespati, M.Pd., M.Psi mengatakan perundungan (bullying) merupakan kasus yang sangat kompleks. Banyak alasan yang menyebabkan siswa sebagai pelaki.

“Bisa melihat dari beberapa sisi. Misal, dari keluarga dan sekolah,” ujar Tantu.

Dari sisi keluarga, aksi perundungan bisa meniru perilaku orang tua  yang suka berkata atau bertindak kasar.

“Hal inilah yang akhirnya dilihat dan ditiru oleh anak kemudian perilaku tersebut muncul di sekolah,” katanya.

Dari sisi sekolah, bisa dikarenakan sekolah  kurang konsisten dalam menetapkan konsekuensi terhadap pelaku perundungan. Bahkan, guru bisa juga melakukan tindakan itu tanpa disadari. Misal, ada anak yang beberapa kali tidak mengerjakan pekerjaan rumah sehingga guru menyebut anak itu ‘malas’. Labelling seperti ini adalah salah satu bentuk perundungan secara verbal.

“Dan ketika guru yang melakukan hal itu maka siswa yang lain merasa bahwa anak tersebut memang malas dan melanjutkan labeling tersebut,” tutur Tantu.

Direktur Utama Borneo Parenting Club menuturkan secara umum yang biasa menjadi korban adalah siswa-siswi yang ‘berbeda’ dari teman-temannya. Perbedaan ini bisa berbagai macam, seperti perbedaan secara fisik, kondisi ekonomi, sifat pemalu, dan lainnya.

Beberapa ahli menyebut perilaku perundungan ini sebagai dominance behavior atau perilaku mendominasi. Ketika melakukan tindakan perundungan,  merasa puas karena telah berhasil mendominasi atau menguasai korbannya.

“Ketika sudah menyebabkan kematian tentu hal ini diluar keinginan pelaku. Dampaknya tentu secara psikologis pelaku merasa bersalah,” jelasnya.

Ketika korban tidak melawan atau membela diri, pelaku merasa memiliki power atau kekuatan yang lebih besar dibanding korban, sehingga akan membuatnya semakin melakukan hal tersebut.

“Sebaiknya, korban melawan atau setidaknya mengatakan bahwa dirinya tidak senang ketika orang lain melakukan hal tersebut kepadanya contoh menghina,” jelas Tantu.

Ketika ‘melawan’ harus diikuti dengan gerak tubuh (nonverbal) yang sesuai. Misalnya, diri tidak mau diejek oleh teman, tetapi mengatakannya sambil malu-malu atau marah. Hal ini akan semakin membuat pelaku senang dan akan mengulangi hal tersebut.

Guru BK di Sekolah Immanuel Unit 2 Pontianak mengungkapkan rasa percaya diri yang rendah, pemalu, atau penakut membuat korban tidak berani melapor ke guru. Terlebih dalam kasus yang ekstrim biasanya pelaku akan ‘mengancam’ korban kalau berani melapor.

“Untuk kasus-kasus yang terjadi sehari-hari, misal mengejek atau menghina, seakan-akan mengganggap bahwa hal ini adalah hal yang biasa terjadi. Sehingga membiarkannya, walaupun sebenarnya itu adalah salah satu bentuk perundungan,” ungkap Tantu.

Psikolog di Biro Psikologi Gaverta ini menambahkan bisa saja siswa sudah melapor, tapi guru membiarkan karena merasa ejekan hal adalah biasa. Akibatnya, siswa cenderung akan tidak mau untuk melapor lagi.

“Karena sudah melapor pun guru juga tidak memberi respon apa-apa,” jelas Tantu.

Bagaimana menghilangkan rasa trauma setelah menjadi korban? Konselor di Bidang Psikologi Pendidikan menyatakan psikologis harus melakukan pendekatan personal.

“Selain itu yang tidak kalah penting adalah adanya dukungan, meluangkan waktu untuk menunjukkan bahwa kita ada untuk mereka, menunjukkan bahwa ‘kita’ menerima mereka tanpa ada judgement dan lainnya. Dukungan-dukungan seperti ini yang penting dan dibutuhkan,” katanya.

Menurut Tantu,  setiap sekolah pasti sudah memiliki peraturan mengenai hal itu (tindakan perundungan).

“Yang perlu sekolah lakukan sebenarnya adalah konsisten dalam penegakkan aturan tersebut,” ungkap Tantu sembari menambahkan ketika melihat bibit-bibit perundungan seperti mengolok muncul,  pelaku harus diingatkan dan dibina. **

 

loading...