Ketika YouTuber Jadi Pilihan

Perkembangan teknologi saat ini membuat kesempatan kerja makin luas tercipta. Tidak perlu menunggu lowongan kerja dari perusahaan, kini kaum milenial bisa menciptakan sendiri lapangan pekerjaan yang diinginkan. Salah satunya menjadi seorang YouTuber.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Profesi YouTuber di era digital sekarang ini ternyata mulai banyak digandrungi, khususnya oleh generasi milenial. Popularitas tinggi, media menyalurkan hobi, penghasilan menggiurkan dan jam kerja lebih fleksibel, membuat pola pikir sebagian generasi milenial berubah dalam memilih profesi ini.

Namun, dari sekian banyak YouTuber, beberapa diantaranya justru menyajikan konten yang menimbulkan perdebatan, bahkan cenderung bernilai negatif. Seperti prank yang dilakukan oleh YouTuber Ferdian Paleka asal Bandung, Jawa Barat. YouTuber berusia muda dengan followers sebanyak 93.8 ribu ini tengah menjadi pembicaraan publik karena menipu waria dengan memberi paket sembako berisi sampah dan batu bata.

Aksi yang dilakukan Ferdian tentu sangat miris dan dinilai sangat menyakiti hati para waria. Video yang diunggah Ferdian di akun YouTube-nya ini menuai komentar negatif. Salah satunya, “Efek negatif dari bayangan ketenaran di medsos, tanpa diiringi akal dan budi pekerti. Mengakibatkan orang melakukan hal-hal di luar nilai kemanusiaan dan batas kewajaran. Miris”.

Maraknya kontroversi yang dihadirkan para YouTuber ini, tentu saja menjadi pertanyaan dalam benak masyarakat. Apakah untuk menjadi terkenal dan mendapatkan banyak uang harus melakukan sesuatu yang meresahkan dan merugikan orang lain? Adakah kaitan perilaku ini dengan sisi psikologis? Apakah sebelum terjun di bidang ini perlu mempersiapkan psikologis diri?

Dari sudut pandang psikologi, menyiapkan mental sebelum terjun sebagai YouTuber sangat penting. Psikolog Klinis Maria Nofaola, S.Psi., M.Psi., CHt mengatakan karena saat membuka diri menjadi publik figure, tentu saja respons yang diberikan setiap orang berbeda-beda. Tidak semua orang (masyarakat) akan menyukai konten yang ditampilkan dalam channel YouTube-nya.

“Seorang YouTuber harus mempersiapkan diri untuk menerima kritikan dan saran dari orang lain. Baik itu kritikan pada penampilan fisik atau kemampuan diri,” katanya.

Maria menuturkan seorang YouTuber juga harus menyadari ada hal-hal pada diri yang tidak bisa diubah. Jangan sampai hal ini justru menjatuhkan mental diri. Tentu saat memutuskan terjun di dunia ini, diri sudah harus siap akan hal itu. Ada tiga hal lain yang perlu dipersiapkan selain soal mental.

Pertama, mempertimbangkan sisi manfaat dan kekurangan. Hal ini perlu dipikirkan terkait kesiapan mental diri terhadap kritikan orang lain bahwa konten yang ditampilkan mungkin kurang disukai, tidak bermanfaat, norak, dan sebagainya. Kedua, mau mengembangkan diri terus menerus.

“Karena hal ini akan terlihat oleh orang lain,” tutur Maria.

Ketiga, menyiapkan diri bila kenyataan tidak sesuai harapan. Psikolog di RS Anugerah Bunda Khatulistiwa Pontianak ini menyatakan setiap kesuksesan pasti butuh perjuangan. Untuk berhasil dalam satu bidang dibutuhkan ketekunan. Namun, diri juga perlu siap bila yang diharapkan tidak sesuai target.

“Saat dihadapi masa itu, diri harus bisa menentukan jalan. Apakah memilih untuk menyerah atau terus berjuang sampai target itu tercapai,” ujarnya.

Dampak buruk bila tidak siap bisa kehilangan rasa percaya diri, harga diri menurun dan konsep diri justru menjadi buruk. Ketika seseorang mendapat kritikan, otomatis hal itu akan menyerang harga dirinya. Diri tidak akan tahu apa yang akan dikatakan orang. Bisa saja itu tidak benar, penilaian itu keliru, atau asal bunyi saja. Karena di luar sana kualitas mental orang beragam.

Maria menjelaskan mungkin saja mentalnya tidak sehat, lalu menilai diri secara negatif. Bila tidak siap, ini justru membuat hilang rasa percaya diri. Akhirnya, terpikir untuk berhenti menjadi seorang YouTuber karena merasa tidak layak. Ini justru membuat YouTuber menilai dirinya sendiri secara negatif. Akibat lebih panjang yang terjadi, YouTuber bisa saja depresi dan sebagainya.

Tidak ada batasan usia untuk bisa berhasil menjadi seorang YouTuber yang dikenal luas oleh masyarakat. Kesuksesan bergantung pada kualitas konten, kreativitas dan profesionalisme YouTuber itu sendiri. Contohnya, ada seorang YouTuber berusia matang, tetapi gayanya saat di depan kamera kaku dan konten yang ditampilkan dinilai membosankan dan menjenuhkan penonton.

Bandingkan dengan YouTuber berusia muda dengan gaya yang asyik saat tampil di depan kamera dan suaranya enak didengar. Konten yang dihadirkan menarik dan bisa membuat masyarakat tertawa.

“”Dari perbandingan di atas tentu masyarakat tidak akan melihat dari sisi usia sang YouTuber, melainkan profesionalisme dan kualitas pribadi yang ditampilkannya,” pungkasnya. **

Read Previous

Perdagangan Satwa Liar di Media Sosial, Total Transaksi Capai Jutaan Rupiah

Read Next

PT PLJ  Turut Perangi Covid-19, Bagi Sembako, APD, Hingga Penyemprotan