Kiprah Indari Mastuti Membangun Ekosistem Ibu-Ibu Doyan Nulis

TERUS BERKARYA: Indari Mastuti bersama putri sulungnya, Qanita Muthmainatunnisa, tetap produktif menulis selama pandemi. INDARI MASTUTI FOR JAWA POS

Kaki Mengakar Kuat di Rumah, tapi Tangan Menggenggam Dunia

Produktivitasnya justru melesat selama pandemi. Hanya dalam waktu enam bulan, dia membuahkan 61 buku dan 100 e-book. Lewat jejaring Ibu-Ibu Doyan Nulis, seluruhnya laris terjual.

SAHRUL YUNIZAR, Jakarta

IZINKAN Aku Mencinta. Itulah judul buku pertama karya Indari. Meluncur 24 tahun lalu melalui penerbit Pustaka Malka. Sejak duduk di bangku sekolah, perempuan bernama lengkap Indari Mastuti Rezki Resmiyati Soleh Addy tersebut memang senang menulis. Perjalanan hidupnya selalu dekat dengan dunia tulis-menulis. Sampai sekarang. Ketika ribuan ibu rumah tangga bergabung dalam komunitas yang dia buat.

Ibu-Ibu Doyan Nulis nama komunitas tersebut. Berdiri sejak 2010, komunitas itu berkembang cukup pesat. Banyak sekali jumlah anggotanya. Saat ini sudah 22 ribu ibu yang ambil bagian di komunitas tersebut. Berikut adalah kisahnya.

Ibu tiga anak itu tergerak membentuk Ibu-Ibu Doyan Nulis supaya para ibu rumah tangga bisa berkarya. Khususnya yang ingin menjadi penulis. Bermodal pengalaman yang dimiliki sejak menerbitkan buku pada 2004, Indari memberanikan diri untuk melangkah.

’’Harapannya, tambah banyak penulis yang direkrut penerbit,’’ imbuhnya.

Ibu-Ibu Doyan Nulis tidak ubahnya jembatan bagi kaum ibu. Terutama ibu rumah tangga atau IRT. ’’Saya tahu ibu rumah tangga masih kurang perhatian,’’ kata dia. Mereka sering kali terpaksa menghentikan impian menjadi penulis. Padahal, tidak sedikit yang berbakat. Banyak pula yang punya bahan tulisan luar biasa hebat. Indari tidak ingin potensi itu terkubur begitu saja.

Lewat komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis, Indari membangun ekosistem baru. Yang memberikan lebih banyak ruang kepada para IRT. Hasilnya tidak terduga. Banyak buku berkualitas yang lahir dari tangan-tangan terampil anggota komunitasnya. Total sudah lebih dari lima ribu buku yang mereka ciptakan.

Dari puluhan ribu penulis yang berhasil menerbitkan buku melalui Ibu-Ibu Doyan Nulis, Indari menyebut nama Nurul Asmayani. Penulis buku berjudul Perempuan Bertanya, Fikih Menjawab. Diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. ’’Selalu cetak ulang,’’ imbuhnya. Ada juga nama Arini Tathagati yang membikin penerbit buku Penebar Swadaya. Buku-bukunya, kata Indari, laris terjual.

Tentu, capaian tersebut membuat perempuan yang juga pebisnis itu bahagia. Namun, dia tidak lantas besar kepala. Sepuluh tahun berdiri, kiprah Ibu-Ibu Doyan Nulis semakin terang. ’’Sampai muncul satu per satu penulis ibu-ibu di Ibu-Ibu Doyan Nulis,’’ ungkapnya. Indari kian senang lantaran tidak sedikit buku mereka yang dilirik penerbit besar sekaliber Gramedia dan Elex Media. Dia pun semakin yakin komunitasnya terus eksis.

Untuk menambah kemampuan para ibu yang sudah bergabung di komunitasnya, sembilan tahun lalu dia mendirikan Ibu-Ibu Doyan Bisnis. Bagi Indari, menulis dan berbisnis sama-sama penting. Penulis tanpa menguasai bisnis akan sulit memasarkan buku mereka. Demikian juga pebisnis. Jika tidak mampu menulis dengan baik, mereka akan sulit menjual produk.

Ibu-Ibu Doyan Nulis dan Ibu-Ibu Doyan Bisnis sering berkolaborasi. Anggota Ibu-Ibu Doyan Bisnis yang mencapai 108 ribu orang tidak jarang membantu memasarkan buku-buku yang dihasilkan Ibu-Ibu Doyan Nulis. Termasuk buku yang diterbitkan Indari.

Sejak kali pertama menerbitkan buku pada 2004, kesibukan membangun komunitas-komunitas baru tidak menghentikan Indari untuk berkarya. Justru dia semakin produktif. Namun, Indari mengakui sejak 2007 dirinya lebih sering menulis buku bisnis. Jauh berbeda dengan genre buku pertama yang dia tulis. Yakni, novel-novel chicklit. Perubahan itu dipengaruhi pilihan Indari untuk turut menekuni dunia bisnis. Siapa sangka, pilihan itu turut memudahkan jalan Indari. Saat pandemi terjadi, Indari dengan fondasi komunitas yang kuat semakin eksis.

Medio 2004 sampai 2019, istri Deky Tasdikin tersebut menerbitkan 150 buku. Jumlah yang tidak sedikit memang. Boleh jadi itu rekor tersendiri bagi Indari. Namun, rekor itu terpecahkan tahun ini. Hanya selama pandemi. Dia menulis 161 karya. Sebanyak 61 buku dan 100 e-book. Mulai buku bisnis, antologi, sampai biografi. Yang terbanyak buku bisnis. ’’Yang tidak bikin mengerut dahi dan siap distribusi,’’ imbuh Indari.

Pilihannya jatuh ke guidance book. Buku tipis-tipis. Tebalnya tidak lebih dari 90 halaman. ’’Yang fokus sama hal-hal yang siap dipraktikkan langsung,’’ imbuhnya. Misalnya, buku berjudul Sekali Posting Langsung Closing. Kemudian, buku Facebookan Jadi Banjir Orderan. Atau, Omzet 100 Juta Cuma dari WA. Buku-buku itu dihargai murah. Paling mahal Rp 79 ribu. Bahkan ada yang Rp 39 ribu dan Rp 49 ribu.

Bagaimana bisa menjadi 161 karya hanya dalam tempo enam bulan? Perempuan 40 tahun itu menyebut pandemi tidak menggoyahkan tangannya untuk terus bergerak. ’’Produktif adalah keharusan,’’ ungkapnya. Malahan, lanjut Indari, dirinya bersama ribuan ibu yang sudah biasa kerja dari rumah tidak kaget saat pandemi ’’menyandera’’ banyak orang di dalam rumah.

Mereka justru semakin asyik berkreasi. ’’Kaki mereka mengakar dengan kuat di rumah. Tapi, tangan mereka itu menggenggam dunia,’’ kata Indari bangga. Dia mengakui, mentok atau bertemu jalan buntu selama menulis guidance book sering muncul. ’’Itu manusiawi sekali,’’ ujarnya. Namun, tidak lantas gerak jari Indari terhenti. Dia tetap menulis. Jejaring yang dimiliki membuat Indari tidak pernah kehabisan ide.

Interaksi Indari dengan anggota komunitasnya memang tidak pernah berhenti. Setiap hari selalu ada yang mereka bahas, selalu ada yang mereka kerjakan, dan selalu ada yang menghasilkan pundi-pundi uang. Hanya lewat media sosial, semua itu mereka lakukan bersama. Khusus 61 buku yang diterbitkan selama pandemi, Indari menerbitkannya lewat publisher miliknya sendiri. Yang baru seumur jagung. Namanya: BUKUIN Aja! Baru berdiri Januari tahun ini.

Kali pertama menerbitkan buku pada Februari. Kini sudah ribuan buku yang dicetak dan disebarluaskan penerbit tersebut. Tujuannya membuat penerbit indie tidak lain adalah menguatkan ekosistem yang sudah dia bangun. Ketika para ibu sulit mendapat penerbit, Indari bisa membantu mereka. Yang penting bagi dia, mimpi para ibu itu tidak terhenti.

Indari tidak ingin, karena menikah dan berumah tangga, para ibu yang punya cita-cita menjadi penulis berhenti bermimpi. Bagi Indari, mereka adalah kotak harta karun yang bisa menghasilkan karya-karya menarik. Bahkan di saat-saat genting seperti pandemi saat ini. Bersama Indari, mereka bisa menulis apa saja. Misalnya, Roza Rianita Nursetia. Dia masuk Ibu-Ibu Doyan Nulis sejak pertama berdiri. Ocha, begitu dia biasa dipanggil, tidak menyangka impiannya menulis buku keterampilan berkreasi terwujud. Ragam Kreasi Seserahan Pengantin adalah buku pertama Ocha. ’’Bertahan lama di toko buku,’’ imbuhnya.(*)

loading...