Kisah Arpandi Memajukan Pertanian di Kecamatan Terentang, Sulap Kebun Karet Jadi Pertanian Terintegrasi

BIBIT: Arpandi menunjukkan bibit pohon yang akan ditanamnya. (YUSUF/PONTIANAK POST)

Perhatian Arpandi dalam dunia pertanian sudah tidak perlu diragukan lagi. Gagal di pemilihan anggota dewan tak membuat mantan kades ini frustasi. Ia justru semakin semangat dalam mengembangkan pertanian di wilayah Kecamatan Terentang.

YUSUF AN-NASIR, TERENTANG

Kolam renang sepanjang 80×10 meter dengan deretan pohon pisang dan lengkeng di sampingnya menjadi pemandangan pertama yang menyambut kedatangan saya ke kebun seluas lima hektare ini, Rabu (06/10) lalu.

Tempat ini bernama Integrated PARM Empening Mandiri, sebuah perkebunan dengan sistem integrasi satu-satunya di Kecamatan Terentang Kubu Raya, tepatnya di Parit Pak Salam Desa Teluk Empening.

Untuk sampai ke sini, dibutuhkan sekitar tiga jam perjalanan menggunakan sepeda motor dari Kota Pontianak. Sebelumnya, saya masih mampir ke beberapa orang untuk menanyakan lokasi kebun ini.

Sampai di sana, saya masih menunggu sang pemilik yang sedang ada urusan. Tak berselang lama, ia datang dan membawa saya menuju saung yang menjadi tempat peristirahatan.

Kami melewati jalan setapak dan kandang sapi yang dibelakangnya terdapat tiga kolam ikan nila. Di sampingnya, terdapat tempat pembuatan pupuk kandang dan sebuah kolam tempat fermentasi kotoran sapi.

Saung dengan dua tingkat ini, dikelilingi oleh pohon jambu air yang sedang ranum. Sebelah timur saung terdapat lokasi pembibitan serta  kebun jeruk sebelah baratnya.

Oleh masyarakat sekitar, tempat ini familiar dengan sebutan Kebun Pak Arpandi. Hal ini, dikarenakan susahnya masyarakat di sana dalam penyebutan nama tersebut sehingga difamiliarkan dengan nama sang pemilik.

Arpandi (48) merupakan kepala desa Teluk Empening periode 2008-2013. Sebelum menjadi kades, ia sudah menekuni pertanian dan mendirikan kelompok tani di desanya.

“Gen saya petani, orang tua juga petani, jadi terbiasa jadi petani. Ingat, terbiasa bukan berarti bapaknya petani anaknya harus jadi petani, tapi setidaknya jika kita anak petani dan menggeluti dunia pertanian, maka pertanian kita harus dengan kelas yang lebih tinggi,” tuturnya.

Sebelumnya, selama sembilan tahun ia merupakan karyawan pabrik kayu di bagian pengawasan dan perencanaan. Namun karena dirasa dirinya kurang berkembang akhirnya ia pulang kampung. Di kampung halaman, hal pertama yang ia lakukan adalah pengumpulkan para petani dan membuat kelompok-kelompok kecil pertanian.

“Saya sudah baca ini, petani kurang diedukasi dan tidak punya akses kepada pemerintah maupun akses modal, saya buatlah kelompok-kelompok kecil dan saya berusaha mencarikan jalur-jalur birokrasi,” ungkap pria dua anak ini.

Belum selesai urusan pertanian, ada orang meminta dirinya untuk maju menjadi calon kepala desa yang kemudian mengantarkan dirinya memenangi pesta demokrasi tingkat desa tersebut dengan meraup 94 persen suara.

“Jadi tertundalah cerita saya mau bertani, tapi sebelum itu saya sudah mulai bertani walau dalam ruang lingkup yang kecil sejak 2006, ternak ayam kampung dan nanam jahe, bahkan ayam kampung saya tembus di angka 500 ekor, tapi bingung mau dijual ke mana” jelasnya sambil tertawa.

Setelah lengser dari jabatan kepala desa, ia kemudian mencoba keberuntungan dengan mencalonkan diri untuk menjadi anggota legislatif pada tahun 2014. Namun, takdir tidak berpihak kepada dirinya.

Ketidakberhasilan dalam pencalonan legislatif tak membuatnya frustasi, sebab ia befikir bahwa tujuan utamanya adalah memajukan pertanian, sementara pencalonan dirinya tak lebih hanyalah untuk mencapai tujuan tersebut.

“Kalau saya ilustrasikan, saya ingin ke Mempawah cuma masih mampir di Pinyuh untuk ngopi, siapa tau ada can yang bisa lebih memudahkan saya untuk ke Mempawah, kalau ternyata tidak ada, ya udah tinggal berangkat lagi ke Mempawah, kan tujuan utama saya Mempawah bukan Pinyuh,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, pertanian merupakan potensi yang sangat menjanjikan untuk wilayah Terentang. “Dunia pangan merupakan hal yang tidak akan pernah ada habisnya dan selalu dibutuhkan, selama kita masih hidup,” ungkapnya.

Menurutnya, untuk menjadi orang sukses harus menguasi minimal satu di antara tiga hal yaitu teknologi, energi dan pangan.

“Bicara teknologi kita kalah dengan Eropa dan barat, masalah energi kita kalah dengan timur tengah, tapi persoalan pangan? kita memiliki potensi yang luar biasa dibanding negara-negara lain, tinggal bagaimana kita melihat dan mengembangkang potensi tersebut,” jelasnya.

“Salah satu karunia yang negara lain tidak punya adalah dua musim yang kita punya, selain itu kita juga punya tanah yang subur, sampai kata orang nancapkan tongkat jadi tanaman, dan ini saya jadikan peluang,” imbuhnya.

Maka, pada September 2014 ia mulai kembali turun ke pertanian. Hal pertama yang ia lakukan adalah membabat lahan seluas 5 ha tersebut dengan bertahap.

“Dari depan itu adalah pohon karet sekitar 2.500 batang sampai ke belakang, saya tebang secara bertahap, setengah hektar dulu, yang sekarang jadi lokasi kandang sapi itu,” ungkapnya sambil menunjuk kandang sapi yang sekitar 50 meter dari depan saung.

Ia menjelaskan, jika bertani ingin sukses maka jangan menjalankan konsep yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu. “Seperti yang saya bilang, boleh kita jadi petani, tapi kelasnya harus lebih tinggi,” jelasnya.

Dari sinilah ia kemudian menkonsep lahannya dengan sistem terintegrasi, yaitu pola pertanian yang antara komoditi satu dengan komoditi lainnya saling mendukung, sehingga biaya produksi semaksimal mungkin bisa dikurangi dengan memanfaatkan komoditi yang lain.

“Tanaman perlu asupan nutrisi, nutrisi utamanya pasti nitrogen, fosfat dan kalium NPK. Dimana kita dapat nutrisi ini? mestinya dapat dari bahan kimia lainnya yang kita beli, nah kita harus berfikir, kalau ini beli terus, besar biayanya, tapi kalau kita bikin sendiri, kan mengurangi pembiayaan minimal separuhnya,” jelasnya.

“Makanya selain bertani saya juga memelihara sapi, karena kotorannya bisa kita olah kembali menjadi pupuk. Sementara dari tanaman kita akan menghasilkan dua yaitu buah dan limbah, buahnya kita jual, limbahnya kita manfaatkan kembali untuk kesuburan tanah,” tambahnya.

Dalam usaha pertanian terintegrasi, desain lahan, pilihan komoditi dan metode budidaya dapat disesuaikan dengan keinginan. Untuk komoditi dalam pertanian terintegrasi sendiri sebenarnya tidak ada batasan, tergantung dengan potensi yanga ada di wilayah tersebut.

“Intinya komoditi yang dikelola harus ada 3 kelompok yaitu jangka pendek, menengah dan panjang, sehingga saling megisi dan menguntungkan,” ungkapnya.

Saat ini, di kebun yang terdapat hampir di ujung kampung ini, selain budidaya sapi juga mengembangkan tanaman palawija seperti jahe, cabai dan sayur mayur serta tanaman holtikultura seperti jambu air, pisang, jeruk, alpukat, kelengkeng dan durian.

Selain itu, terdapat pula pembibitan tanaman seperti durian, alpukat, pinang, kelengkeng dan jeruk serta 10 kolam lele dan 3 kolam Nila.

“Ada orang bilang, usia saya sudah segini kalau nanam sekarang kapan saya mau makannya, nah ini pola pikir yang salah, padahal hasilnya bisa kita nikmati walau belum berbuah yaitu dengan pembibitan,” ujarnya.

Ia beralasan, dibangunnya lahan pertanian berkonsep integrasi ini untuk memberikan edukasi kepada para pemuda dan petani. “Bahwa bertani yang baik itu seperti ini, sesuai dengan standar sistem pembangunan pertanian yang diingkan pemerintah, tak bisa kita bertani sepotong-sepotong,” ujarnya.

Menurutnya, jika pertanian sudah terintegrasi maka akses kepada perintah akan mudah, sehingga pada satu sisi pertanian akan berhasil dan di sisi lain akan diperhatikan oleh pemerintan. Namun, saat ini masyarakat banyak salah dalam berfikir, mereka kebanyakan lebih dulu meminta fasilitas kepada pemerintah daripada membuka lahan terlebih dahulu.

“Logikanya begini, yang minta bantu siapa? yang namanya minta bantu ya harus kerja dulu dong baru minta tolong, masyarakat maunya minta bantuan baru mau kerja, ini terbalik, giliran bantuan pemerintah datang ke tempat saya, barulah ada omongan, tengoklah tuh,” ungkapnya.

Ia berharap, dunia pertanian, peternakan dan perikanan bisa berkembang pesat karena sektor ini merupakan tulang punggung masyarakat.

“Saat ini 270 juta penduduk Indonesia, jika pertumbuhan dua persen pertahun, bisa kita hitung sepuluh tahun ke depan. Kalau tidak diimbangi dengan pertumbuhan pangan, bisa jadi suatu saat negara kita akan menjadi miskin,” pungkasnya.**

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!