Kisah Herry Anggara: Dituduh Kabur dari RS Soedarso, hingga Keluarga Diusir dari Kampung

Herry Tri Anggara Swardana

Betapa pilu sekaligus lucu cerita Herry Tri Anggara Swardana. Warga Siantan ini diberitakan positif Covid-19. Lalu dituduh kabur dari RSUD Dr Soedarso. Hingga yang paling parah, adiknya didatangi orang-orang, dan diusir dari rumahnya sendiri. Keluarganya pun dijauhi oleh lingkungan.

Padahal hasil tes awalnya belum pasti. Lucunya, ketika diberitakan kabur dari rumah sakit, lelaki bujang ini seharian berada di ruang isolasi rumah sakit itu. Dia tidak kemana-mana.

Pemuda 27 tahun ini belum lama merantau ke Jakarta untuk bekerja. Sialnya, pada awal Maret Jakarta berkecamuk lantaran pandemi Covid-19. Tempat dia bekerja diliburkan. Cilakanya, di tengah wabah itu dia terserang demam. Takut itu gejala Covid-19, Herry pun memeriksakan diri ke rumah sakit dekat indekosnya. “Kira-kira pertengahan Maret saya dites rapid. Itu setelah demam reda. Hasilnya negatif. Tapi saya tetap mengisolasi diri,” ujarnya kepada Pontianak Post.

Lantaran tak ada kerjaan dan keuangan menipis, pada 1 April 2020, Herry pun memutuskan untuk pulang ke Pontianak. Di Bandara Supadio, semua penumpang dari Jakarta menerima kartu kuning dan otomatis dia menjadi OPD atau orang yang dipantau. Dia lalu tinggal bersama adiknya. Bahkan dia tidak ke rumah orangtuanya. Selama di rumah dia mengurung diri. “Saya juga minta disediakan motor sama adik. Siapapun tidak boleh pakai kecuali saya,” sebut dia.

Pada Senin, 5 April, dia ditelepon oleh pihak dinas kesehatan di Jakarta. Dia diminta tes ulang Covid, karena, ragu akan hasil sebelumnya. Dia pun patuh. “Maklum ibu dan bapak saya sudah berumur. Takut kalau saya bawa virus dan mereka kenapa-kenapa”.

Keesokan harinya, sekira jam 11.30 siang, dia berangkat ke RS Soedarso. Sesampainya di sana dia disuruh menunggu. Baru sekira jam 1 dia mendapatkan pemeriksaan pertama. Setelah diperiksa dia bertanya, “habis ini apa?”. “Saya pun tak tahu bang. Tunggu saja dulu di sini, nanti kami kabarin,” kata perawat yang memeriksanya.

Tunggu punya tunggu, jam dua Herry diperiksa lagi. Kali ini sampel darahnya yang diambil. Pertanyaan yang sama dia tanyakan lagi. Jawaban yang sama juga dilontarkan perawat. Dia lalu duduk bengong lagi. Baru sekitar jam 4 sore dia menjalani tes terakhir, yaitu tes tensi darah dan suhu badan.

Selepas tes berakhir, dia tanya lagi soal tahapan selanjutnya. Petugas pun seperti bingung dan tak memberikan jawaban sepatah kata pun. Bengong lagi lah dia di ruang itu. Hingga azan magrib berkumandang. “Perut saya sudah bunyi keroncongan. Belum makan dari pagi. Saya cari petugasnya, ternyata tidak ada. Mau izin cari makan dan salat,” kata dia.

Dia pun keluar ruang isolasi dan menemui satpam. Lalu bertanya dia harus apa. “Pak saya kan dari siang di sini sudah tiga kali tes. Terus saya disuruh apa lagi”. “Lalu satpamnya bilang, kalau dia pun tidak tahu harus apa,” ucapnya. Si Satpam pun mengambilkan kantong berisi KTP dan kartu berobat RS Soedarso.

Herry lalu ke parkiran samping masjid RS Soearso lalu dia dihubungi pihak Puskesmas siantan yg menanyakan keadaanya “Saya bingung tidak diarahkan,” ujarnya. Pihak Puskesmas lalu minta waktu untuk menghubungi pihak rumah sakit. “Bang mereka juga bingung,” kata petugas Puskesmas. “Jadi saya gimana ini? Saya lapar dan mau magriban juga. Boleh ya,” izinnya. “Makan dulu saja mas. Hati-hati. Kalau ada perlu hubungi saja,” ucap petugas Puskesmas.

Dia lantas menunaikan salat magrib, lalu makan malam yang dijamak dengan makan siang. Setelah kenyang, dia dihubungi oleh pihak Puskesmas Siantan. “Mas dicari pihak rumah sakit”. “Ini saya dekat Soedarso lagi makan. Habis makan langsung ke sana,” kata dia.

Tak lama, video call dari ayahnya membuat Herry kaget. Sembari bertanya sang anak dimana, ayah Herry menunjukkan gambar polisi yang datang ke rumah. “Ini ada polisi cari. Kata polisi kamu kabur dari rumah sakit?” “Tidak lah, saya di ruangan dari tadi siang,”katanya.

Kekagetan Herry tak sampai di situ. Aplikasi Whatsapp-nya dibanjiri kiriman link berita online dari teman-temannya. Diberitakan bahwa dia kabur dari rumah sakit. “Kabur bagaimana. Orang saya seharian di ruang isolasi. Saya bertanya ke petugas tidak ada yang menjawab,” ucapnya.

Lebih tragis, adiknya didatangi warga dan diminta tak tinggal di situ. “Benar-benar tak menyangka, adik saya diusir dari rumahnya sendiri. Karena abangnya dibilang positif Covid-19. Sekarang rumah saya kosong. Kan takut kalau kemalingan,” sebut Herry.

Sampai sekarang Herry masih berada di rumah sakit. Dia masih menunggu hasil test. “Sebenarnya sudah bisa pulang dan isolasi sendiri di rumah. Tapi rumah sakit dan keluarga menyarankan saya tetap rumah sakit saja. Takut kalau saya dihakimi massa, karena berita simpang siur” kata dia.

“Karena di medsos dan berita saya dibilang positif Covid-19. Padahal hasilnya saya belum tahu. Yang jelas sekarang saya sehat. Mudah-mudahan hasil tes cepat keluar agar ada kepastian,” sambungnya.

RS Soedarso memang tak pernah meminta nomor teleponnya. Puskesmas minta dia tidak kabur kembali ke rumah sakit. “Saya jelaskan ke mereka. Saya ini tidak kabur. Saya hanya keluar cari makan. Rumah sakit juga tak kasih arahan apa-apa. Saya insiatif sendiri menunggu. Karena lapar makanya saya keluar cari makan,” jelas dia.

Herry berharap penganan dan pelayanan orang yang ingin memeriksakan diri di RS Soedarso diperbaiki. “Saya di sana terus terang bengong seharian. Bertanya tapi tak dijawab. Saya bingung harus apa. Lalu saya dituduh kabur. Rumah sakit kan punya CCTV. Bisa juga tanya ke petugas dan satpam yang ada. Sekarang nama saya jadi jelek,” kesal Herry. (ars)

error: Content is protected !!