Kisah Mendu ‘Menghadang Maut’

Mendu merupakan seni lakon rakyat Melayu. Nyanyian dan tarian menyatu. Tak sekadar pertunjukan seni, melainkan cara melestarikan budaya yang sarat pesan.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Bagi Yuda Adhari, pementasan drama kesenian mendu perlu persiapan cukup panjang. Dia dan tim melakukan riset data tentang mendu lebih dulu. Khususnya tentang pakem-pakem mendu. Dilanjutkan proses pencarian naskah-naskah yang sudah dipentaskan.

Akhirnya Yuda dan tim menemukan sekitar 10 naskah milik almarhum Satarudin Ramli yang dibuat buku dan terbit pada November 2020. Satarudin adalah tokoh mendu yang berkontribusi besar dalam seni peran tersebut.

Dari 10 naskah tersebut, Yudan dan tim sepakat untuk menggunakan satu naskah dalam pementasan mendu ‘Menghadang Maut’. Tentunya dengan melibatkan teman-teman teater Pontianak. Pemain dan pendukung pementasan drama ini dari beberapa sanggar yang ada di Pontianak seperti Komsan, Topeng, Terbit12, Termos, Tembak dengan penata musik Topan dan Nabila Manjakani, beserta teman-teman dari Ikanmas.

“Dibantu juga teman-teman dari Ruang Tamu Corps,” ujar Yuda.

Yuda Adhari / Sutradara

Pentas mendu ‘Menghadang Maut’ bercerita tentang seorang anak yang di fitnah oleh ibu tirinya. Dimana sang raja memiliki tiga anak, yakni Usman Upari, Usman Dadari dan Putri Hina Hayamdah. Putri ini adalah anak bungsu yang paling disayang Raja. Namun, ketika permaisuri menikah dengan raja, ia merasa putri jadi penghalang baginya.

Permaisuri pun mencoba memfitnah Putri. Ia bekerja sama dengan Datuk Penasehat Kerajaan yang sekaligus abang darinya. Keduanya bersekongkol untuk memfitnah Putri. Setelah difitnah, Putri akhirnya dibuang di simpang tiga tapal batas kerajaan. Di situlah si Putri dikubur hidup-hidup di tiga tapal kerajaan tersebut.

Tapi, keajaiban diberikan oleh Putri dan ia pun diselamatkan. Berawal dari dua abangnya yang tanpa sengaja melihat kuburan mencurigakan. Tak disangka saat melihat kuburan itu ternyata ada Putri yang sedang menyanyi di dalamnya. Kedunya pun menyelamatkan Putri dengan ilmu yang didapatkan dari perantauan.

Keluar lah putri dari liang kuburnya. Ketiganya pun kembali ke kerajaan. Mendengar sang putri masih hidup dan kembali ke kerajaan, permaisuri dan datuk penasehat kerajaan pun melarikan diri. Melihat sang putri selamat, Raja berubah pikiran. Ia meminta permaisuri dan datuk kerajaan ditangkap hingga akhirnya dipenjarakan.

Yuda mengaku sempat mengalami kendala. Yakni, sulitnya mencari data berkenaan dengan pakem-pakem mendu itu sendiri. Sebab, beberapa tokoh-tokoh mendu juga tiada.

“Beruntung, ada satu narasumber generasi pertama mendu, Om Jerie Anwar yang juga turut dilibatkan untuk memberikan masukan. Disamping itu juga ada Bang Kamel, bang agus, Kak Uli dan beberapa saksi seni pertunjukan di masa itu yang jadi teman untuk berbagi memgenai pakem ini,” ungkap Yuda.

Menurut Yuda, pakem yang paling dijaga adalah lagu-lagu yang ada pada pakem mendu itu sendiri dan beberapa aktor yang tak bisa digantikan. Termasuk juga etika-etika panggung yang ada dalam kerajaan.

Mengatasi tantangan pakem tersebut, ia dan tim terus berkonsultasi dengan Om Jerie. “Sehingga, terasa lebih mudah mengetahui bagaimana, apa saja dan seperti apa pakem yang harus dijaga,” kata Yuda.

Yuda berharap kedepannya ada regenerasi tradisi berikutnya. Atau mungkin bahkan regenerasi pertama, kedua dan ketigan ikut mementaskan mendu kembali dan ikut serta melestarikan supaya punya warisan budaya ini tak putus.

Dia juga berharap Pituah Instituate tetap eksis dan memiliki karya rutin. “Mudah-mudahan harapan untuk menjadi salah satu wadah kesenian di Kalbar dan teater khususnya bisa terus berjalan dan berkembang seiring perkembangan zaman,” ungkapnya.**

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!