Kisah Para Lansia yang Sembuh dari Covid-19

SEMBUH: Para lansia penderita covid-19 yang telah dinyatakan sembuh saat bertemu gubernur Kalbar, sutarmidji beberapa waktu lalu. SHANDO SAFELA/PONTIANAK POST

Suka Duka Dikarantina Hingga Rindu Keluarga

Delapan pasien konfirmasi (positif) Covid-19 yang dinyatakan sembuh pada Senin (18/5), rata-rata berusia lanjut (lansia). Di usia senjanya, mereka harus berjuang melewati masa penyembuhan selama belasan hingga puluhan hari. Bagaimana awal mereka terpapar Covid-19 hingga akhirnya sembuh, berikut kisahnya!

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

Sejauh ini, virus Corona (Covid-19) dinilai lebih sering menyebabkan infeksi berat atau bahkan kematian pada lansia dibandingkan orang dewasa atau anak-anak. Meski demikian bukan tidak mungkin para lansia juga tetap bisa bertahan hingga benar-benar sembuh dan sehat.

Seperti yang dialami satu dari delapan pasien yang dinyatakan sembuh kemarin, HM (65 tahun). Laki-laki warga Kota Pontianak ini merupakan salah satu pasien Covid-19 dari kluster SF. Dimana ia menceritakan, sebelumnya pernah melakukan perjalanan dari Kota Pontianak ke Kabupaten Kapuas Hulu bersama rombongan untuk mengikuti suatu kegiatan.

Ternyata setelah kembali ke Pontianak, salah seorang dari anggota rombongan tersebut ada yang meninggal dunia dan dinyatakan positif Covid-19. “Mulai dari situlah rombongan dilakukan rapid test. Lalu ada 18 orang diambil sampel (swab) pada 19 Maret di RSUD Soedarso dan menunggu hasil selama 14 hari dan disuruh istirahat di rumah,” ceritanya.

Cukup lama menunggu, pada hari ke-16 akhirnya ia dinyatakan positif Covid-19 dan langsung dibawa ke Rusunawa milik Pemkot Pontianak pada 23 April 2020. Di tempat karantina itu kemudian ia kembali diambil sampel pada 28 April 2020. Hasil dari sampel pertamanya sempat masih dinyatakan positif Covid-19. Hingga total masa karantina sampai ia dinyatakan sembuh mencapai sekitar 26 hari.

“Jadi saya diisolasi di Rusunawa sampai 26 hari. Setelah 26 hari di sana barulah kami mendapatkan kabar bahwa kami sudah dinyatakan negatif dari hasil swab,” terangnya.

Banyak suka duka ia rasakan selama menjalanai masa karantina yang hampir satu bulan itu. Terutama rasa sepi karena harus selalu sendiri. Aktivitas sehari-hari lebih banyak ia habisakan untuk beribadah. Seperti membaca Alquran, sudah satu kali ia khatam.

Selain itu di setiap pagi ia juga rutin berolahraga dimulai pukul 10.00 WIB. “Di sana selalu diadakan senam dan makanan yang diberikan juga sehat-sehat,” kenangnya.

Secara umum menurutnya pelayanan di Rusunawa sudah sangat baik. Mulai dari tenaga kesehatan yang melayani hingga makanan yang disajikan tak pernah mengecewakan. Sejak dinyatakan positif Covid-19 ia berusaha sekuat mungkin untuk melawan. Pikiran jangan dibawa susah melainakan harus selalu gembira. “Selama diisolasi 26 hari saya tidak pernah nonton televisi. Itu menjadi kunci dan memang saya memilih untuk menenangkan diri,” ucapnya.

HM merasa bersykur telah dinyatakan sembuh, bisa kembali ke rumah dan berkumpul dengan keluarga. Dirinya mengingatkan bahwa sebisa mungkin harus selalu menjaga kesehatan dan jangan sampai diisolasi seperti pengalamannya. Sebab selama di sana tidak diperkenankan ada satu pun sanak keluarga yang menjenguk. “Jadi setiap saya sujud saya selalu berdoa untuk cepat selesai waktu isolasi ini. Jadi bukan sedih gimana ya, jadi memang ini ada pelajaran berharga,” imbuhnya.

Selama diisolasi ia sempat melewati satu kabar duka dan satu gembira. Duka saat mertuanya meninggal dunia, karena ia tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa. Dan kabar gembira ketika ia mendapatkan seorang cicit. “Jadi cucu saya sudah dapat anak dan kebetulan kemarin saya yang kasi nama untuk cicit saya,” pungkasnya.

Hal serupa juga dirasakan S (72 tahun). Perempuan warga Kota Pontianak ini telah melewati masa isolasi selama 18 hari hingga kemudian dinyatakan sembuh. Ia merasakan benar-benar kesepian ketika harus tinggal sendiri di kamar isolasi.

Usianya yang sudah cukup tua membuatnya sempat merasa takut. Apalagi selama diisolasi ia pernah mengalami vertigo dan keram kaki karena asam urat yang tiba-tiba kambuh. “Di situ saya ngeri, Allah SWT yang menjaga saya di situ,” ungkapnya.

Setelah melewati masa penantian yang cukup panjang, ia pun bersyukur telah dinyatakan sembuh hingga dipebolehkan pulang ke rumah. Rasa rindu terhadap keluarga dirasakan begitu luar biasa. Karena memang selama karantina tak boleh ada satu pun keluarga yang menjenguknya. “Selama karantina hanya sering teleponan sama keluarga. Memang saya terus terang tidak pandai main HP, namanya orang tua. Anak saya video call, dia nelpon saya tinggal menyambut. Nampak lah mukanya, kumpul di sana, rasanya sedih, nangis saya,” kenangnya.

Selama berkomunikasi dengan keluarga ia pun selalu mengajak semuanya berdoa agar bisa kembali dikumpulkan bersama. Dan doa selama ini akhirnya terwujud. “Setelah sembuh saya lega, agak ringan. Sekarang tidak ada keluhan (sakit),” ujarnya.

S berjanji akan tetap menjaga kesehatannya serta menjalankan anjuran dari pemerintah. Sesuai yang ia alami selama karantina, makan tidak pernah telat dan selalu memakan makanan bergizi seperti sayur dan buah. Lalu, meski sudah dinyatakan sembuh ia juga wajib tetap taat pada protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah.

“Katanya kalau keluar tetap pakai masker, jaga jarak jauh, jangan kumpul yang tidak perlu. Saya juga mohon kepada semua warga agar selalu menaati aturan anjuran kesehatan dari pemerintah. Mudah-mudahan kita selalu dilindungi Allah SWT dari marabahaya,” pesannya. (*)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!