Kisah Penghuni Lapas Tetap Berkarya di Masa Pandemi Covid-19

MEMBUAT BATAKO: Warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Pontianak menyelesaikan pesanan pembuatan batako.

Di masa pandemi Covid-19, kehidupan di penjara tak sepenuhnya membosankan. Mengisi hari-hari di balik jeruji, para penghuni Lapas tetap mampu menghasilkan produk-produk berkualitas, karya dari kreasi tangan terampil warga binaan. Bagaimana kisahnya?

Pagi itu ruangan bengkel kerja di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Pontianak, sudah disibukkan dengan berbagai aktivitas. Beberapa warga binaan sedang fokus menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Ada yang sedang mengelas guna merangkai menjadi teralis besi hingga bekerja membuat batako dengan mesin.

Salah satu warga binaan, Samsuni, mengaku sudah hampir tiga tahun mengikuti bimbingan kerja di Lapas Kelas IIA Pontianak. Awalnya ia  tertarik mengikuti bimbingan kerja di bidang usaha kerajinan tikar kayu. Meski saat itu tak memiliki keterampilan di bidang kerajinan.

“Keterampilan saya dapatkan dari pelatihan dan bimbingan yang diberikan di bengkel kerja, sehingga sekarang bisa terampil membuat kerajinan tikar,” ungkapnya.

Ia mengatakan, menganyam tikar kayu memang butuh ketelitian. Potongan-potongan kayu jabon harus disatukan dengan benang nilon menggunakan jarum. “Potongan kayu yang memiliki dua warna dominan itu harus dibentuk dengan motif yang telah ditentukan agar tikarnya menjadi menarik,” tuturnya.

Tak puas hanya mempelajari keterampilan membuat tikar kayu, pria yang  murah senyum ini juga mempelajari pembuatan kerajinan rotan sitentis. Meski tak serumit membuat kerajinan tikar kayu, namun dirinya tetap serius mempelajari keterampilan tersebut. Beberapa keterampilan kini sudah dikuasinya dengan baik.

“Selain mengisi waktu dengan hal yang positif selama di Lapas, saya berharap keterampilan yang didapat bisa berguna saat saya sudah keluar nanti,” harapnya.

Menurut Kepala Seksi  kegiatan kerja Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Pontianak, Roldy Agus CR, sejak 2017 Lapas Kelas II A Pontianak ditunjuk menjadi lapas industri.

Di masa pandemi saat ini, aktivitas para warga binaan memang dibatasi. Terutama kunjungan dari keluarga. Sebagai gantinya, para penghuni lapas diberi keleluasaan memanfaatkan waktu untuk menambah kemampuan usaha.

Selain sebagai penunjang pembinaan bagi warga binaan dengan dilatih untuk menguasi berbagai keterampilan. Mereka juga bisa bekerja di bengkel kerja lapas dan akan mendapatkan komisi dari pekerjaannya. Ada beberapa kegiatan usaha yang menjadi unggulan di Lapas Kelas II A Pontianak. Salah satunya adalah kerajinan tikar kayu.

“Tahun 2019 lalu kerajinan tikar kayu mendapatkan penghargaan juara ketiga sebagai produk paling laris dijual saat mengikuti pameran di Jakarta,” kenangnya.

Produksi tikar yang menggunakan potongan-potongan dari kayu jati belanda memang membutuhkan waktu yang lumayan lama pengerjaannya. Pembuatan satu tikar kayu yang dikerjakan oleh satu orang bisa membutuhkan waktu sekitar seminggu.

“Pemasaran tikar kayu sudah menjangkau pulau Jawa, harganya berkisar dari Rp300 ribu hingga Rp1 juta tergantung ukuran,” terangnya.

Selain kerajinan tikar kayu, bidang usaha lainnya yang dikembangkan di lapas adalah pengelolaan limbah plastik. Plastik botol dan jenis lainnya diolah dalam bentuk cacahan.

Sebulan bisa memproduksi 15 ton plastik  melalui mesin. Pengolahan limbah plastik sendiri penjualannya dikirim ke pulau Jawa. Di sana ada pihak ketiga yang membelinya. Sekali pengiriman limbah plastik yang sudah diproses bisa mendapatkan omset sekitar Rp100 juta.

“Untuk memenuhi bahan baku kami bekerjasama pemerintah Kabupaten Kubu Raya dan menerima dari pengumpul barang bekas,” terangnya.

Roldy menambahkan, ada pula usaha pembuatan kursi rotan sintetis.  Kursi rotan sintetis bahan baku harus didatangkan dari Pulau Jawa. Selain membuat kursi, warga binaan juga berkreasi membuat kursi ayunan dengan berbagai bentuk yang menarik. Guna menarik minat pembeli bentuk kursi  bisa dipesan sesuai desain yang diinginkan.

“Kalau untuk kursi sintetis harga satu setnya sekitar Rp4 juta dan kursi ayunan sekitar Rp2 juta per buah, pemasarannya masih menjangkau di sekitaran Kalimantan Barat,” jelasnya.

Selain usaha di atas ada pula bentuk usaha baru yang dikembangkan di lapas, yaitu usaha budidaya ikan hias, sayuran hidroponik dan pembuatan batako. Untuk usaha pembuatan batako sudah cukup banyak dipesan oleh masyarakat. Harga perbijinya sekitar Rp 1700. Hingga saat ini penjualan sudah mencapai 50 ribu lebih. Pemasarannya sendiri selain menggunakan media sosial juga dilakukan melalui mulut ke mulut. Belum lama ini ada pemesan batako dari pihak pengembang perumahan.

“Untuk usaha batako, budidaya ikan hias dan sayuran hidroponik masih mulai dirintis secara bertahap. Ini sebagai upaya menutupi sepinya orderan beberapa bidang usaha akibat imbas dari pendemi Covid-19,” tuturnya.

Roldy mengungkapkan bengkel kerja di lapas kelas IIA Pontianak masih perlu banyak dukungan dari berbagai pihak guna menjadi mitra kerja. Dukungan pengusaha, pihak swasta dan badan usaha memang perlu didorong dalam mengembangkan lapas industri. Mereka yang mau bekerja untuk mengembangkan usahanya di lapas sebenarnya hanya mengeluarkan biasa jasa dan menyediakan mesin apabila produksinya menggunakan mesin.

Harapannya agar usaha di lapas bisa berkembang dengan baik apabila ada pengusaha atau mitra yang melirik berkerjasama dengan lapas.

“Beban operasional pekerja seperti makan, minum dan fasilitas kesehatan di lapas sudah ditanggung oleh negara. Pengusaha atau mitra hanya menggeluarkan biaya jasa saja sehingga dapat memangkas biaya operasional produksi,” jelasnya.

Salah satu mitra dalam membantu memasarkan produk warga binaan Lapas Kelas IIA Pontianak adalah Dewan Kerajinan Nasional Daerah Kabupaten Kubu Raya. Harlina, Bendahara Dekransda Kabupaten Kubu Raya mengungkapkan awal ketertarikan bekerjasama dengan pihak lapas kelas II A Pontianak karena warga binaannya membuat kerajinan tikar kayu. Di setiap pameran yang diikuti deskranasda Kubu Raya tikar kayu hasil kerajinan warga binaan lapas selalu diikutkan promosi sejak 2010.

“Tikar kayu hasil kerajinan warga binaan menjadi produk yang selalu dicari konsumen saat pameran dan peminatnya lumanyan banyak,” jelasnya.

Selain membantu mempromosikan tikar kayu, Dekranasda Kubu Raya pernah melakukan pesanan khusus kotak tisu dan nampan kayu. Dua jenis kerajinan itu  langsung di pesan oleh Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan yang cukup mengapresiasi hasil kerajinan warga binaan lapas.

“Secara kualitas produk kerajinan yang dibuat oleh warga binaan lapas cukup baik dan tidak kalah bersaing dengan beberapa produk yang dibuat oleh perajin-perajin di luar lapas,” tuturnya. (*)

 

Editor: Heriyanto

Reporter: Haryadi

 

 

error: Content is protected !!