Kisah Pernikahan Dini di Tengah Pandemi

RESTU KELUARGA: Y dan AG memperlihatkan foto pernikahan mereka di Lombok Timur. LOMBOK POST

Kalau Waktu Itu Sekolah, Pasti Tidak Ketemu Suami Saya Ini

Y mengaku AG meminang dirinya saat minatnya bersekolah menurun jauh buntut libur panjang akibat pandemi. Sekolah dan instansi terkait sudah berusaha mencegah, tapi keluarga merestui.

FATIH KUDUS JAELANI, Lombok Timur

SEKOLAH libur pagi itu. Y pun memanfaatkannya untuk jalan-jalan bersama sejumlah kawan. Tak jauh sebenarnya lokasi remaja 15 tahun yang duduk di kelas IX SMP itu berjalan-jalan. Di sekitar tempat tinggalnya di kawasan Kecamatan Selong, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Tapi, Dewa Amor rupanya sedang berada di tempat yang sama. AG melihatnya, terpikat, meminta nomor ponselnya, dan tak terlalu lama kemudian Y sudah jadi istri pemuda yang cuma berusia dua tahun di atasnya itu.

’’Inilah janji saya. Sudah takdir dari Yang di Atas,” kata AG kepada Lombok Post yang menemuinya di kediaman keluarga Y.

Mereka menikah secara agama pada 13 Mei lalu. Belum sah secara negara karena menurut Undang-Undang Pernikahan, batas usia pernikahan adalah usia 19 tahun.

Tapi, AG dan Y tak terlalu mempermasalahkan hal itu.

’’Ibu saya mengizinkan,” ujar Y yang turut mendampingi sang suami saat menemui Lombok Post (jaringan Pontianak Post).

AG dan Y adalah satu di antara 15 pasangan yang menikah di bawah umur sepanjang 2020 ini. Menurut catatan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Lombok Timur, 11 di antara 15 kasus itu terjadi pada Mei, Juni, dan Juli ketika pandemi Covid-19 menghantam Indonesia.

Itu pun hanya yang dilaporkan. Jadi, ada kemungkinan ini fenomena gunung es. Masih banyak pernikahan dini yang tidak terlaporkan atau belum tercatat.

AG yang sehari-hari hanya tinggal bersama sang ayah di kawasan kecamatan yang sama dengan Y itu memilih tidak melanjutkan ke SMA. Dia bekerja sebagai buruh harian.

Sementara itu, Y merupakan anak kedua di antara enam bersaudara. Dia tinggal bersama sang ibu, sedangkan ayahnya sudah lama merantau ke Malaysia.

Kata AG, keinginan untuk menikahi Y tiba-tiba saja tebersit di pikirannya. Waktu itu, dia langsung mengutarakan keinginan tersebut kepada ibunda Y. Awalnya main-main, tapi ditanggapi serius dan terjadilah.

M, ibunda Y, tak berkata banyak saat ditanya mengenai pilihan putri keduanya untuk menikah di usia 15 tahun. ’’Yang penting dia yakin dan bisa memberikan yang terbaik untuk suaminya,” katanya.

Niat pasangan itu sebenarnya sempat dicegah UPTD PPA (unit pelaksana teknis daerah pemberdayaan perempuan dan anak), DP3AKB, dan pihak sekolah bersama kelurahan. Namun, upaya berbagai pihak tak membuahkan hasil.

R, kepala lingkungan tempat AG tinggal, mengatakan, setiap kali ada kasus pernikahan anak, pada saat itu juga dirinya merasa seperti berada di ujung dua mata pisau yang siap melukainya. ’’Di satu sisi, ada aturan yang harus ditegakkan. Di sisi lain, masyarakat harus diamankan,” katanya.

Berdasar pengalamannya, saat mediasi terjadi, keluarga perempuan mengatakan bisa saja anaknya dikembalikan. Namun, mereka juga menegaskan pihak lelaki harus bersedia menanggung risikonya.

Persoalannya, kata R, risiko yang dimaksud penuh ancaman. Kalau denda, mungkin tinggal disebutkan dan dengan mudah bisa dibayar. ’’Tapi, bagaimana jika risiko yang dimaksud adalah ancaman yang bisa saja membahayakan warga saya,” jelasnya.

Di kelasnya, Y merupakan siswi ketiga yang menikah selama pandemi ini. Dia menggelengkan kepala saat ditanya apakah mereka bersepakat menikah bersama atau memengaruhi satu sama lain. Katanya, justru banyak temannya yang belum mengetahui bahwa dirinya kini sudah menikah.

Y juga mengaku bahwa minatnya bersekolah berkurang setelah dua bulan lebih tidak masuk. Tapi, tidak hanya itu. Alasan lainnya tentu ada. Namun, dia tak bisa menjelaskan lebih lanjut mengenai faktor ekonomi.

’’Tapi, kalau waktu itu sekolah, pasti saya tidak ketemu sama suami saya ini. Karena libur sekolah, saya bisa jalan-jalan pagi, lalu ketemu (dan terjadilah pernikahan ini),” terangnya.

GA tak terlalu cemas soal menafkahi sang istri kendati tak punya pekerjaan tetap. Pernikahan itu justru menjadi kiat yang menyemangati dia untuk mencari uang.

’’Di mana ada pekerjaan harian, di sana saya bekerja,” jelas AG.

Selain itu, pikirannya lebih fokus dan tenang daripada saat masih lajang. Dia juga bakal sabar menunggu sampai pernikahannya dengan Y disahkan negara.

error: Content is protected !!