Kisah Rosnawati, Korban yang Mengalami Kebutaan Akibat Tabrak Lari
Tak Sanggup Lagi Bekerja, Kerap Sakit Kepala Saat Bersedih

SEDERHANA: Rosnawati beserta suami dan keluarganya saat ditemui di kediaman mereka di Gang Asoka, Sungai Pinyuh. WAHYU/PONTIANAKPOST

Rosnawati (41), warga Kelurahan Sungai Pinyuh, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah mengalami kebutaan total akibat kecelakaan lalu lintas yang dialaminya pada Maret 2020 lalu. Peristiwa nahas itu terjadi di Jalan Raya Desa Sungai Batang. Kini, ibu dua anak tersebut harus menjalani kehidupan dengan kondisi kedua mata tak dapat melihat dunia.

Wahyu Ismir, Sungai Pinyuh

PONTIANAK Post berkesempatan menyambangi kediaman wanita yang berulang tahun pada 7 April itu. Rosnawati didampingi suaminya Sapri Ibrahim (47) menyambut dengan hangat dan ramah. Asnawati bersama suami dan anak bungsunya yang berusia enam tahun, bermukim di sebuah rumah sangat sederhana berukuran 4×3 meter.

Rumah yang terletak di Jalan Jurusan Pontianak, Gang Asoka, RT 04 RW 03, Kelurahan Sungai Pinyuh tersebut memiliki satu ruang tamu, satu kamar dan dapur. Di rumah itulah, Rosnawati dan keluarganya menghabiskan hari. Sedangkan anak sulungnya tinggal di rumah sang nenek yang tidak jauh dari kediaman mereka.

Dia mengaku sudah dua tahun terakhir menempati rumah tersebut. Material bangunan rumah itu sendiri merupakan sisa bangunan yang diberikan warga lain yang iba dengan kondisi tempat tinggal Rosnawati.

Dia tak sungkan menceritakan insiden kecelakaan lalu lintas yang dialaminya pada 2 Maret 2020 silam. ‘Mimpi buruk’ itu bermula ketika dia hendak berangkat kerja di Desa Sungai Batang. Rosnawati merupakan asisten rumah tangga di salah satu rumah di sebuah kompleks perumahan. Dengan menggunakan sepeda motor, dia menempuh perjalanan kurang lebih 5-10 menit untuk sampai ke tempat kerjanya.

Petaka datang ketika dirinya berniat menyeberangi jalan. Tatkala kendaraannya hendak berbelok, dari arah belakang muncul kendaraan lain yang tidak diketahui identitasnya menabrak sepeda motornya.

“Padahal saya sudah sangat berhati-hati. Saya lihat dari kaca spion, tidak ada kendaraan di belakang. Saya bahkan sempat menoleh dulu sebelum menyeberang jalan. Namun, tiba-tiba saja datang kendaraan dari arah Sungai Pinyuh menabrak,” kenangnya.

Akibat kecelakaan itu, Rosnawati mengalami cedera di bagian kaki dan kepala. Bahkan, luka-lukanya harus dijahit. Setelah kecelakaan itu, Rosnawati belum merasakan tanda-tanda akan kehilangan penglihatan.

“Sekitar sebulan setelah kecelakaan, saya sering merasakan pusing dan pemandangan agak kabur. Namun, saat itu masih bisa melihat cahaya. Tepat sehari sebelum Ramadan, saya pergi berobat ke daerah Segedong,” tuturnya.

Usahanya untuk memulihkan rasa pusing dan pandangan yang mulai samar belum membuahkan hasil. Seiring waktu, sekitar tiga bulan pasca kecelakaan lalu lintas itu, penglihatannya semakin memburuk. Rosnawati  mengalami kebutaan total.

“Perlahan-perlahan saya semakin tidak bisa melihat. Hingga akhirnya benar-benar gelap total seperti lampu padam,” katanya lirih.

Dia menduga, kebutaan tersebut disebabkan benturan pada bagian kepalanya saat kecelakaan. Sebelum mengalami kecelakaan, dirinya memang sudah mengalami gangguan di salah satu matanya, sehingga membuat dirinya kesulitan melihat. Waktu itu dokter pun sudah menyarankannya untuk selalu menjaga kepala supaya tidak terbentur agar kondisi matanya tidak semakin parah. Tapi nasib berkata lain. Dua hari setelah diperingatkan dokter, Rosnawati  mengalami kecelakaan tabrak lari tersebut. Akibatnya, tak hanya satu tetapi kedua matanya tidak lagi bisa melihat.  Sampai sekarang pun Rosnawati masih kerap merasakan sakit di bagian kepala jika sedang stres atau bersedih.

“Selama setahun ini, saya tetap berusaha berobat ke sejumlah tempat, baik pengobatan secara medis maupun herbal. Misalnya berobat di Desa Bakau, Segedong, Mempawah, di RS Soedarso Pontianak dan lainnya. Tapi sampai sekarang masih belum ada perubahan,” tuturnya.

Sejak mengalami kebutaan, Rosnawati  tak dapat beraktivitas secara maksimal di rumah. Bahkan, untuk pekerjaan rumah tangga pun lebih banyak dilakukan oleh suaminya jika sedang tidak bekerja di luar.

“Saya masih bisa mencuci piring atau memasak nasi. Itu pun dilakukan dengan perlahan dan meraba-raba,” akunya.

Terhadap kondisinya itu, Rosnawati  telah ikhlas menerima takdir dari Allah Ta’ala. Dia hanya berdoa agar Yang Kuasa senantiasa memberikan kesehatan untuk dia dan keluarganya dalam menjalani kehidupan.

“Saya sudah mengikhlaskan semuanya. Termasuk mengikhlaskan tindakan pelaku yang menabrak dan melarikan diri. Sampai sekarang saya tidak pernah tahu siapa orang yang menabrak hingga menyebabkan saya mengalami kebutaan total,” ujarnya.(*)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!