Kisah Sukses Babe Udin, Pengusaha Asal Pontianak

BERI MOTIVASI: Safiudin atau Babe Udin, pengusaha asal Pontianak memberi motivasi pada sebuah seminar.

Dulu Jualan Telur di Sungai Jawi, Kini Pimpin 26 Cabang Perusahaan

Kesuksesan bisa dicapai siapapun, namun perjuangan dan ketekunanlah yang menentukan keberhasilan seseorang. Safiudin, lelaki 40 tahun asal Pontianak yang kerap disapa Babe Udin, bisa menjadi inspirasi setiap orang. Memulai usaha dari bawah, kini Babe Udin sukses memimpin puluhan cabang perusahaan.

SHANDO SAFELA, Pontianak

Babe Udin memulai semuanya saat masih menjadi penjual telur di Sungai Jawi pada 1998. Lapak jualannya tepat di depan Supermarket Garuda Mitra. Bermodal selembar terpal, ia harus berjuang menjual telurnya dalam situasi hujan maupun panas terik. Suatu hari, di bawah terpal dia membaca tentang lowongan di koran sebagai sales panci. Merasa tertantang, dia pun memutuskan untuk mencobanya.

Berjualan telur dan menjadi sales panci keliling, membuatnya semakin tertarik menekuni dunia marketing. Menjadi sales mengantarnya ke posisi manajer, hingga akhirnya dia keluar dan membuat perusahaan sendiri.

Jatuh bangunnya Babe Udin mewarnai perjalanan hidupnya. Sejak duduk di bangku SD, Udin berusaha membiayai hidupnya sendiri dengan menoreh karet dan berjualan koran di perempatan. Di kelas 1 bangku SMA, Udin remaja memilih berhenti sekolah karena kasihan melihat orang tuanya tidak mampu membayar uang sekolah. Dia memutuskan merantau ke Malaysia, namun nasib sial menimpa dirinya. Di Malaysia dirinya ditipu karena tempatnya bekerja tidak mengurus visa kerjanya, mengakibatkan Udin harus masuk penjara dan dideportasi oleh imigrasi Malaysia.

Hidup di tengah kemiskinan dan sering dianggap remeh orang lain, menjadikan Udin bersemangat mengubah nasib dirinya dan keluarganya. Ketekunan dan kerja keras dalam perjalanan panjangnya, membuahkan hasil manis menjelang usia 40.

Pada 2005 Babe Udin resmi mendirikan Borneo Group. Perusahaan ini bergerak dibidang Management Trainee dan Business Development. Fokusnya pada pengembangan sumber daya manusia. Semuanya dimulai dari nol.

Seiring berjalannya waktu, Borneo Group berkembang pesat hingga mempunyai berbagai macam anak usaha. Diantaranya Borneo Herbs, Borneo Digitek hingga Borneo Skincare. Kini Borneo Group telah mempunyai cabang di 26 daerah di seluruh Indonesia. Bahkan, salah satu anak usahanya beroperasi di Singapura. Tak lama lagi, dia akan meresmikan gedung empat lantai di Pontianak yang akan dijadikannya kantor pusat Borneo Group.

Konsep bisnis yang dibangun Babe Udin tergolong unik. Disamping produksi dan menjual produknya, Babe Udin lebih fokus membangun sumber daya manusia lewat ilmu marketing yang dikuasainya. Mulai dari pembangunan mental para sales, hingga seni menjual produk di pasaran.
Dia tak ingin para sales di lapangan dipandang sebelah mata di masyarakat. Oleh sebab itu dia membantu para sales untuk mengembangkan dirinya.

“Banyak masyarakat yang belum mengerti perjuangan para sales di lapangan. Banyak yang memandangnya sebelah mata, namun belum mengerti apa yang ditawarkannya. Oleh sebab itu saya selalu memberi dorongan kepada sales produk di lapangan untuk mengembangkan kemampuan diri mereka, terutama dalam skill marketing. Saya juga memberi pengertian kepada mereka tentang perkembangan dunia marketing jaman sekarang yang serba digital, dan insyaallah kita siap,” kata Babe Udin di sela hobinya merawat mobil sport dua pintunya.

Kesuksesan tak lantas membuat Udin tinggi hati dan lupa daratan. Dia mendirikan Borneo Foundation, bentuknya seperti yayasan atau lembaga sosial. Tugasnya menyalurkan seluruh keuntungan anak usaha Borneo Group dalam kegiatan sosial dan ditujukan bagi yang membutuhkan. Kegiatan sosial pun dilaksanakan nyaris setiap minggu, mulai dari menyantuni fakir miskin hingga membantu tempat ibadah.

Kisah sukses Udin kerap menjadi inspirasi dan motivasi karyawannya. Semangatnya yang pantang menyerah, membuatnya disegani semua orang. Tak banyak orang Pontianak yang mengenalnya, maklum, Udin sibuk mengembangkan usahanya di luar. Namun sejak awal ia komit tak menghilangkan identitasnya sebagai orang Kalimantan, hingga digunakannya nama Borneo pada perusahaannya. (*)

error: Content is protected !!