Kisah Usaha Wawa Mart Lahir di Masa Pandemi; Mudahkan Belanja Hari-hari, Produk Belacan jadi Kekinian

Krisis kesehatan dan ekonomi akibat Pandemi Covid-19 memukul banyak pelaku usaha. Tak sedikit yang akhirnya gulung tikar, tapi ada pula yang tetap bertahan dan bahkan lebih maju dari sebelumnya. Seperti kisah Wawa Mart Pontianak yang lahir di saat situasi sulit itu.

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

PANDEMI Covid-19 berdampak di setiap aspek kehidupan. Termasuk ekonomi dan bidang usaha tertentu. Para pelaku usaha harus mampu beradaptasi untuk bisa bertahan. Bahkan tak jarang mereka harus merubah haluan. Mengganti jenis usaha atau menyesuaikan dengan tatanan kehidupan masyarakat yang berubah.

Itulah yang dilakukan Owner Wawa Mart Pontianak. Kak Nia sapaan akrabnya mengisahkan, usaha yang ia beri nama Wawa Mart ini justru lahir di saat awal pandemi Covid-19 melanda beberapa bulan lalu.

Sebelumnya ia memiliki usaha sebagai penjual pakaian. Namun di masa pandemi, barang dagangannya sulit terjual. Adanya wabah virus yang menjadi bencana hampir di seluruh negara di dunia ini, membuat orang lebih memilih bertahan di rumah. Pakaian seperti yang dijual Kak Nia, tentu menjadi kebutuhan yang belum begitu mendesak bagi masyarakat. “Jadi pas zaman corona hanya golek-golek (nganggur) saja di rumah, sampai akhirnya kepikiran buat Wawa Mart,” ceritanya kepada Pontianak Post, Jumat (31/7).

Kebijakan pembatasan sosial di masa pendemi membuat sebagian besar orang memilih melakukan pekerjaan hingga berbelanja secara daring. Termasuk untuk kebutuhan makanan sehari-hari. Dimana kebutuhan tersebut tidak bisa ditunda-tunda. Sementara di sisi lain, ada kekhawatiran orang untuk keluar rumah berbelanja di pasar.

Saat itulah Kak Nia hadir menawarkan konsep menjual bahan kebutuhan pokok yang masih segar namun secara online. Lewat akun instagramnya @wawamart.id berbagai jenis bahan makanan ia jual. Pembeli cukup memesan lewat DM dan barangnya bisa di antar langsung ke rumah oleh kurir.

Mulai dari sayur, buah-buahan, daging segar, forozen food dan lain sebaginya ia tawarkan melalui media sosial. Bedanya ia tidak hanya sembarang menjual produk-produk pilihan yang umumnya dijumpai di pasar tapi juga membranding ulang dan mengemasnya menjadi lebih menarik.

Produk yang biasa-biasa saja seperti terasi atau yang di daerah ini dikenal dengan nama belacan, dikemas menjadi kekinian. Menggunakan wadah botol plastik dan dilabeli nama tokonya. Cara promosinya pun terbilang unik. Dengan membuat video-video pendek yang lucu. Bahkan video belacan yang diunggah di akun instagramnya sempat viral.

Selain terasi, di Wawa Mart juga dijual makanan daerah seperti ikan teri, telur ayam, ikan asin, terasi, bakso, cumi kering, calok, bumbu-bumbu dapur serta olahan makanan tradisional lainnya yang dikemas lebih menarik. Produk olahan lokal yang tidak memiliki merek menjadi lebih berkelas setelah dilabeli brand Wawa Mart ini.

Tapi tak hanya itu, Kak Nia juga terbuka membantu merek-merek produk UMKM atau industri rumah tangga yang sudah ada untuk dijual dan dipromosikan lewat @wawamart.id. “Jadi kami istilahnya juga ikut memberdayakan dan membantu pemasaran dari UMKM lokal yang ada,” jelasnya.

Terbukti usahanya ini mulai ramai sejak awal dibuka. Dari yang tidak memiliki kurir, sampai memiliki kurir yang harus mengantar sebanyak tiga sif per hari. Pagi, siang hingga malam, pesanan terus masuk ke DM instagramnya. Bahkan Kak Nia bercerita pernah suatu waktu ada kurir yang sampai menyerah karena dalam satu hari terlalu banyak pesanan yang harus diantar.

Dengan hadirnya Wawa Mart, masyarakat mendapat kemudahan untuk belanja produk lokal kebutuhan sehari-hari, cukup dengan membuka telepon pintar. “Mungkin karena corona, orang-orang tidak mau keluar rumah, jadi banyak yang pesan minta antar,” ucapnya.

Setelah berjalan beberapa bulan, kini @wawamart.id sudah memiliki pengikut di instagram hampir 14 ribu. Dan dengan mulai longgarnya pembatasan sosial serta aktivitas masyarakat yang perlahan pulih, Wawa Mart sudah membuka toko sendiri di Jalan Urai Bawadi No.38 C.

Di sana pembeli bisa datang langsung dan memilih sendiri barang-barang kebutuhan yang diinginkan. Branding Wawa Mart yang sudah cukup kuat di online, ternyata berdampak positif terhadap toko yang baru saja dibuka Kak Nia ini. Dan memang barang-barang yang dijual di sana merupakan barang pilihan yang secara mutu dan rasa benar-benar ia jaga.

Saat ini dalam sehari orang yang berbelanja langsung datang ke tokonya bisa mencapai 40 orang. “Itu yang benar-benar beli 40 orang, kan ada juga yang datang hanya lihat-lihat atau mencari sesuatu tapi barangnya tidak ada,” imbuhnya.

Saking kuatnya branding Wawa Mart, kini usaha yang lahir di masa sulit karena adanya pendemi itu, sudah menjelma seperti pusat oleh-oleh khas daerah. Banyak orang yang ingin pergi ke luar kota atau luar daerah, selalu membeli buah tangan di Wawa Mart.

Sementara untuk penjualan secara online menurut ibu rumah tangga itu sudah tak sekencang dulu. Pembeli saat ini kebanyakan lebih memilih datang langsung ke toko. Terkecuali memang untuk pesanan-pesanan dari luar kota yang memang harus dipesan online dan dikirim. Karena itu, sekarang Wawa Mart cukup hanya memiliki satu kurir yang siap mengantar pesanan dari pagi sampai sore.[]

 

loading...