Klaim Asuransi Tak Kunjung Cair

Ilustrasi-Asuransi - www.getbudget.com

Pemegang Polis AJBB Tunggu Pembayaran Bertahun-tahun

PONTIANAK – Pemegang polis Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera (AJBB) 1912 yang telah jatuh tempo terus menantikan pembayaran klaim dari perusahaan. Tenggat waktu yang dijanjikan perusahaan asuransi itu nyatanya kerap diingkari. Ada yang menunggu pembayaran hingga bertahun-tahun.

Mereka mengeluh kesulitan dana untuk biaya pendidikan anak hingga terpaksa berutang. Seorang pemegang polis, berinisial A (50) mengaku telah menunggu pencairan dana sejak Oktober 2018. Hingga kini, dana senilai Rp40 juta yang ditunggu itu tak kunjung cair.

Beberapa kali perusahaan menyatakan akan mencairkan dana tersebut, namun tidak ditepati. “Waktu dapat informasi bahwa belum bisa cair, saya sempat syok. Alasan mereka waktu itu ada restrukturisasi. Jadi belum bisa dicairkan,” ungkap A, kepada Pontianak Post, Kamis (20/2).

Setelah melewati tenggat jatuh tempo, A menceritakan bahwa perusahaan meminta dirinya datang tiga bulan kemudian. Tetapi lagi-lagi ia tidak mendapat kepastian dari AJBB. Alasannya karena saat ini perusahaan tengah menghadapi masalah likuiditas. A kemudian dijanjikan lagi bahwa dananya akan dicairkan pada Agustus 2019.

“Tetapi lagi-lagi dana itu belum bisa diambil. Sampailah saat ini. Alasan mereka uangnya masih belum ada, tidak cukup,” kata dia. Sedianya uang yang diharapkan cair pada Oktober 2018 itu diperuntukkan bagi biaya pendidikan anaknya masuk perguruan tinggi.

A menjadi pemegang polis asuransi tersebut mulai 2003. Sejak awal memutuskan menjadi nasabah AJBB, niatnya memang untuk perlindungan finansial, khususnya biaya pendidikan sang buah hati. Sayangnya, harapan itu nyaris putus karena dana pendidikan tersebut terhambat pencairannya.

“Jadi tiap semester harus berusaha lebih keras untuk biaya pendidikan. Bahkan kadang harus sampai pinjam sana pinjam sini,” ungkap pengajar di salah satu perguruan tinggi di Kota Pontianak ini.

Ia berharap agar AJBB segera mencairkan dana asuransinya. Penundaan yang dilakukan oleh perusahaan dinilainya sudah terlalu lama. “Jangan lagi tidak tepat janji,” katanya.

Nasib serupa juga dialami oleh D (38). Bedanya, pemegang polis yang satu ini belum jatuh tempo, tetapi memutuskan untuk berhenti pada awal 2018 lalu. Keputusan berhenti itu diambilnya setelah mengetahui gonjang-ganjing permasalahan yang mendera perusahaan asuransi tersebut.

“Setelah memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan asuransi, saya dapat informasi bahwa sekitar Agustus 2018 akan dicairkan. Tetapi saya konfirmasi lagi mendekati hari pencairan, pihak asuransi mengatakan kondisinya masih belum memungkinkan untuk dicairkan,” jelas D.

Pihak asuransi lalu menjanjikan bahwa dana akan cair pada Januari 2019. Sampai waktu tersebut, ia kembali datang untuk melakukan pengecekan. Nyatanya tidak ada kepastian. Pegawai kantor cabang di Pontianak berdalih bahwa mereka tidak punya kuasa untuk mencairkan dana karena hal tersebut merupakan otoritas dari pusat.

“Sejak tahun 2018, mungkin ada empat lima kali saya ke kantor cabang untuk meminta kejelasan,” katanya. Dia juga mengkritisi pihak kantor cabang yang tidak memiliki itikad baik untuk menjelaskan kepada para pemegang polis terkait terhambatnya pencairan dana. “Hampir tidak ada itikad baik dari Bumiputera daerah. Setidaknya ya mereka memberikan informasi yang harus kita terima. Ini terkesan kita harus mengejar mereka,” ujarnya.

Sementara itu, saat dikonfirmasi, Branch Manager AJBB 1912 Cabang Pontianak, Novie Riyanto tidak dapat menyanggupi permintaan wawancara dari Pontianak Post. “Mohon maaf, kami tidak diperkenankan menyampaikan informasi ke media, karena sudah ada bagian humas di Jakarta. Mohon dipahami posisi kami,” tulisnya dalam pesan singkat, Rabu (19/2).

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalbar, Moch Riezky F Purnomo menyatakan, sejauh ini pihaknya telah mendapatkan sejumlah aduan dari para pemegang polis AJBB berkaitan dengan klaim yang belum dibayarkan oleh perusahaan asuransi tersebut. Menyikapi masalah ini, OJK di tingkat daerah terus berkoordinasi dengan OJK Pusat.

“OJK sudah koordinasi dengan AJBB Kalbar dan  pengawas AJBB di OJK Pusat,” ungkapnya. Info yang didapat hingga saat ini, kata dia, premi yang jatuh tempo sudah dikaji ulang untuk menentukan mana yang terlebih dahulu dibayarkan. Tetapi untuk melakukan pembayaran itu sangat tergantung pada kemampuan AJBB, yang terlihat dari arus kas atau cash flow.

“Karena semua tergantung kepada kemampuan cash flow AJBB,” katanya. Pihak AJBB nantinya akan melihat skala prioritas, pemegang polis mana yang akan dicairkan terlebih dahulu.  “AJBB yang punya kriterianya, antara lain dilihat dari jenis asuransi, besaran premi dan jangka waktu premi,” kata dia.

Dalam kesempatan sebelumnya, Riezky juga mengatakan bahwa OJK Kalbar sepanjang tahun 2019 mendapatkan sejumlah pengaduan dari masyarakat terkait dengan layanan industri jasa keuangan yang ada di provinsi ini. Pengaduan terbanyak menyangkut layanan lembaga asuransi.

Pengaduan tersebut, kata dia, tidak lain adalah klaim yang belum dibayarkan perusahaan asuransi kepada pemegang polis. Dalam kasus AJBB, dia meyakini pengaduan itu akan terus berlanjut selama restrukturisasi perusahaan masih berjalan.

“Tetap yang paling banyak adalah AJBB, dan ini saya rasa akan terus (ada pengaduan). Selama restrukturisasi masih berjalan, maka tetap akan ada penundaan (pembayaran klaim),” ucapnya. (sti)

 

 

error: Content is protected !!