Komisi B Harapkan Serap TBS asal Landak

PEMANTAUAN: Komis B DPRD Landak saat memantau pembangunan pabrik kelapa sawit di PT PBL Desa Engkadu, Senin (30/11). ISTIMEWA

Pantau Pembangunan Pabrik Kelapa Sawit PT. PBL

NGABANG – Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Landak memantau pembangunan pabrik kelapa sawit PT. Palma Bumi Lestari di Desa Engkadu, Kecamatan Ngabang, Senin (30/11). Dalam kunjungan tersebut Ketua Komisi B Evi Yuvenalis berharap adanya pabrik tandan buah segar (TBS) di Kabupaten Landak dapat memaksimalkan pelayanan agar TBS asal Landak tidak dijual ke luar daerah.

Dengan begitu tingginya harga sawit sekarang ini sangat disayangkan dia TBS dari Kabupaten Landak dijual di pabrik luar Kabupaten Landak. Hal tersebut diungkapkan dia saat memantau pembangunan pabrik PT PBL didampingi anggota Komisi B DPRD Landak seperti Minadinata, Fransiskus Romy Ginting, dan Fabianus Suparda.

Pihaknya ingin melihat secara langsung sejauh mana pembangunan pabrik kelapa sawit tersebut. Seperti diketahui, Kabupaten Landak memiliki luas kebun sawit yang cukup tinggi.

“Apa salahnya dengan kita di Kabupaten Landak ini sehingga kita tidak mampu menampung buah petani. Nah itukan merugikan daerah sendiri,” ungkapnya.

Ia pun berharap pabrik-pabrik TBS yang ada di Kabupaten Landak ini memaksimalkan pelayanan, agar penjualan TBS di kabupaten ini.

“Supaya TBS ini tidak lari ke mana-mana,” kata Evi.

Sementara itu, SSL PT. Palma Bumi Lestari, Suyanto saat diwawancarai media ini mengatakan, proses pembangunan pabrik kelapa sawit sudah mencapai 70 – 80 persen.

“Target kita selesai semula bulan Desember 2020, karena kondisi curah hujan di bulan Oktober – November sangat tinggi sehingga kita mundurkan satu bulan lagi yaitu Januari atau awal Februari 2021,” ungkapnya.

Suyanto menjelaskan, pabrik tersebut memiliki kapasitas 60 ton perjam. Meski tidak serta merta, namun dengan proyeksi satu tahun ke depan mereka baru dapat dicapai angka maskimal.

“Sementara luasan lahan kebun ada 12 ribu hektare, itu semua terdiri dari kemitraan koperasi-koperasi pendukung kita. Dan koperasi-koperasi ini sudah disahkan oleh dinas terkait dan bahkan sudah mendapatkan makro dari Provinsi termasuk IUP-nya juga sudah ada. Lahan pabrik Kelapa sawit PT. PBL ini kurang lebih 70-an hektare dan ini sudah kita selesaikan dengan beli putus lahan masyarakat,” katanya. (mif)

error: Content is protected !!