Konsisten Jadi Kunci Utama

Huda Rabbani | Content Creator

Dunia content creator begitu menyenangkan bagi Huda Rabbani. Selama tujuh tahun menggeluti bidang tersebut, pria yang dikenal dengan nama @hudarasegar ini mendapat banyak pengalaman menarik. Bahkan, menorehkan banyak prestasi.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Huda Rabbani menggeluti bidang digital creator sejak 2013. Kala itu dia baru pertama kali memegang kamera pocket hadiah dari ayahnya. Dia mendokumentasikan perjalanan suatu kegiatan.

Huda yang menjadi salah satu delegasi National Young Leader Forum (NYLF) di Jakarta bersama teman-temannya dari Forum Anak Cinta Khatulistiwa (Foranchika) mendokumentasikan kegiatan dalam bentuk video. Proses pengerjaannya didampingi Foranchika dan Wahana Visi Indonesia.

“Alhamdulillah, video tersebut berhasil mengantarkan saya meraih juara harapan I tingkat nasional,” katanya.

Hal ini menjadikan Huda makin tekun mempelajari aplikasi editing video, Windows Movie Maker. Namun, ketika itu dia mengaku belum mempelajari teknis pengambilan video dan pengaturannya. Baru sekadar tahu menggabungkan foto yang dijadikan dalam bentuk slide dan potongan-potongan lagu saja.

“Laptop yang digunakan pun masih sangat tanggung,” ungkap pria kelahiran Pontianak, 8 Februari 2000 ini.

Pada 2014 hingga pertengahan 2016, Huda sempat vakum. Saat itu dia ditawari sebagai mentor di PKBI untuk mengikuti lomba desain poster mewakili Kalbar Youth Forum dampingan PKBI Kalbar. Tema yang diangkat adalah Pernikahan Dini di Indonesia. Karya Huda dan dua temannya  berhasil masuk 10 besar tingkat nasional dan melakukan presentasi di DKI Jakarta. Akhirnya mereka berhasil meraih juara pertama.

Saat duduk di kelas XI SMA pada pertengahan 2016, Huda diajari teman sebangkunya, Nouval Isnin tentang editing dasar Adobe Primer 2014, seperti import file, potongan footage dan lagu, serta cara mencari effect dip to white dan dip to black. Huda menganggap Nouval sudah seperti guru, mentor, dan orang yang paling berpengaruh hingga kini.

Tahun 2017 menjadi awal perjalanan  Huda, Nouval, dan beberapa temannya. Mereka mulai menekuni bidang content creator, khususnya dalam bidang videografi. Huda mulai belajar teknis penggunaan kamera dan pengaturannya, serta mulai membuat video-video DJ. Bahkan, dia nekad membeli kamera mirrorless dan PC menggunakan uang beasiswa.

Pada 2018, Huda kembali belajar dan diamanatkan memegang proyek besar berupa dokumentasi Forum Anak Daerah (FAD) Provinsi Kalbar.

“Dunia video luas, sehingga tidak boleh menutup diri dengan masukan siapa pun. Sebab, beragam karya yang diciptakan adalah untuk dinikmati oleh setiap orang yang menontonnya,” ujar Huda . Dari 100 video yang dihasilkan sejauh ini, ada tiga yang paling berkesan yakni Company Profile Bea Cukai Pontianak, Vlog Competition KRTV, dan Lomba Astra Internasional. Saat membuat video Company Profile Bea Cukai Pontianak, Huda bisa ikut berkeliling dan masuk ke beberapa tempat.

“Keren rasanya bisa masuk ke wilayah akses terbatas. Benar-benar pengalaman berharga bagi saya,” tutur mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah IAIN Pontianak.

 

Pada lomba Vlog Competition KRTV, Huda berhasil menyabet empat kategori award, yakni juara 2 Vlog Competition, Best Pembawa Vlog, Best Cameraman dan Juara Favorit. Huda tak menyangka bisa meraih banyak penghargaan karena video yang dibuat tak menggunakan script. Benar-benar dilakukan secara spontanitas.

Terakhir adalah Lomba Astra Internasional. Lomba ini merupakan kompetisi short movie sebagai bentuk menumbuhkan rasa kepedulian masyarakat terhadap lingkungan hidup. Khususnya di bidang persampahan melalui kampanye kreatif dengan menunjukkan fakta maupun inovasi yang dilakukan untuk menanggulangi masalah sampah.

Secara mendadak Huda dan beberapa teman merencanakan liburan singkat dan melakukan syuting lomba Astra ini. Mereka fokus pada perjalanan dengan mengambil jalur Sanggau-Sintang, karena ingin mengangkat potensi wisata air terjun Pancur Aji. Mereka mengangkat tentang pengelola wisata dapat mengatasi penumpukan sampah dari wisatawan yang berkunjung.

“Dalam waktu dua hari satu malam saya dan tim kebut bolak-balik Pontianak-Sintang dengan drama ban mobil pecah saat subuh hari dalam perjalanan balik. Kemudian proses editing dikejar hanya dalam waktu tujuh jam dimulai dari brainstroming hingga eksekusi story,” kenang Huda.

Saat penjurian video yang dibuat berhasil menempati posisi juara 2 tingkat nasional. Video sederhana yang dibuat tanpa persiapan cukup ternyata menyadarkan Huda dan tim untuk banyak bersyukur.

Meski telah menorehkan banyak prestasi, bukan berarti Huda tak mengalami kesulitan saat mengerjakan video. Salah satunya, saat membangun cerita dengan pertanyaan-pertanyaan spontan. Huda tak membuat konsep yang cukup jelas pada saat syuting di lapangan, sehingga saat editing video cerita yang belum tersusun rapi dan pertanyaan spontanitas. Dia pun harus mendengar kembali satu persatu  hasil wawancara. Kemudian menyinkronkan dengan data yang sudah dipilah untuk dijadikan dasar cerita dari video tersebut.

Untuk mempermudah pekerjaan, dilakukan pembagian tugas bersama tim. Biasanya Huda memilah footage dan mencari data lalu menyambungkannya menjadi cerita mentah dan ditambah dengan dubbing. Nouval bertugas menyempurnakan video mentah yang telah diedit Huda, serta melakukan finishing.

Huda selalu menggunakan skala prioritas, tetapi tak meninggalkan tanggung jawab yang diberikan. Adanya tim bisa juga saling membantu satu sama lain. Menurut Huda, fase profesional sebagai content creator terbagi dalam tiga tahap yakni komitmen, konsisten dan kompeten. Komitmen bermula dari ketertarikan, minat, dan hobi yang ditekuni dengan niat. Dengan komitmen otomatis diri bisa konsisten.

Konsisten menjadi kunci utama. Segala sesuatu yang dikerjakan berulang kali bahkan hingga jenuh dan dilakukan lagi akan menjadikan diri lebih berkompeten. Ketika dinilai sudah kompeten, diri telah terbiasa menguasai beberapa hal dari bidang yang digeluti tersebut, karena telah berpengalaman mengerjakan berulang kali.

Huda menyatakan tak perlu merasa kurang percaya diri karena melihat karya orang lain yang bagus. “Justru jadikan itu sebagai motivasi, amati, tiru, buat hal baru. Berdayakan peralatan yang ada,” tutur Huda. **

loading...