Korban Banjir Butuh Bantuan

TENDA PENGUNGSIAN: Warga korban banjir Melawi mendirikan posko pengungsian secara swadaya dengan perlengkapan seadanya, Kamis (17/9). Mereka membutuhkan bantuan berupa bahan makanan, air bersih, pakaian hingga obatan-obatan.  MUHAMMAD FIRMAN FOR PONTIANAK POST

Terkendala Putusnya Akses Jalan Utama

MELAWI – Kesulitan pendistribusian menjadi kendala dalam penanganan banjir di Melawi. Alat angkut yang terbatas dan akses darat yang terputus menjadi penyebab. Beberapa titik pengungsian yang jauh dari pengungsian utama di Nanga Pinoh masih belum mendapatkan bantuan, Kamis (17/9).

Daerah-daerah tersebut seperti Sungai Pinang, Nanga Belimbing, Menunuk, dan Kelakik. Kenual Pantai, dan Tanjung Arak juga dilaporkan oleh relawan masih belum dapat distribusi bantuan kebutuhan pokok.

Selain pasokan bantuan yang kurang akibat banyaknya warga yang terdampak banjir, akses dan alat angkut yang kurang juga menjadi kendala. Sedangkan jumlah pengungsi dan titik pengungsian juga bertambah. Tercatat sudah ada 14 titik pengungsian yang menampung 912 jiwa.

Kepala Badan Pengendalian Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Melawi, Syafarudin mengatakan, dapur umum di pengungsian saat ini membutuhkan bahan-bahan kebutuhan pokok. “Dapur umum butuh bantuan bahan pokok seperti sayur, mi, telur dan beras,” ungkapnya, Kamis (19/9).

Syafarudin menambahkan, bantuan dari provinsi masih tertahan di Sintang karena terputusnya akses darat. “Kami ada bantuan beras dari provinsi. Tapi masih ndak bisa lewat. Masih di Sintang,” katanya.

Kondisi ketinggian air saat ini, seperti yang dikatakan oleh Syafarudin, sudah mulai surut. “Surut dikit, 60 sentimeter,” ungkapnya.

Kepala Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Melawi, Nurbetty Eka Mulyastri mengatakan kendala pendistribusian bantuan ada pada penyaluran bantuan. Karena luasan banjir dan akses yang jauh membuat bantuan sulit sampai kepada pengungsi.

“Ada pengungsi di di daerah yang jauh. Mereka menolak untuk mengungsi di pusat-pusat pengungsian di Nanga Pinoh. Kita mau bolak-balik ke sana juga jauh,” katanya, Kamis (19/9).

“Jadi kami hanya bisa melayani titik-titik pengungsian terdekat. Dapur umum sudah dapat menyediakan 1.000 porsi makanan untuk keperluan pengungsi di Nanga Pinoh,” tambahnya.

Di pengungsian, ungkap Nurbetty, beberapa pasien mengalami gangguan kesehatan seperti diare, demam, batuk, dan gatal-gatal. Namun ia mengaku, tenaga kesehatan maupun obat-obatan yang ada saat ini cukup untuk mengatasi tersebut.

“Persediaan obat kita mencukupi. Tenaga kesehatan kita juga sudah disebar di berbagai titik,” katanya.

Di posko-posko pengungsian, protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19 juga diterapkan. “Kita membagikan masker kepada para pengungsi. Kita juga mengingatkan mereka untuk jaga jarak,” ucapnya.

Muhammad Firman, Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Pinoh Selatan yang ikut menjadi relawan mengatakan, untuk menyiasati kekurangan alat angkut, ia harus mengeluarkan uang untuk menyewa sampan dari warga. “Bisa habis 700 ribu sehari. Untung ada bantuan dana dari teman-teman lain. Jadi bisa membantu dalam mendistribusikan bantuan,” katanya.

Damri Hentikan Operasional

Perum Damri Cabang Pontianak sebagai penyedia jasa angkutan umum di Kalbar saat ini sudah menghentikan operasional di Kabupaten Kapuas Hulu dan Melawi dampak dari bencana banjir yang melanda kedua daerah tersebut.

“Dampak banjir di dua kabupaten tersebut, bus Damri tertahan. Sehingga tidak beroperasi baik untuk angkutan penumpang maupun barang,” ujar General Manager Perum Damri Cabang Pontianak, Yulianto di Pontianak, Kamis.

Ia menyebutkan saat hari normal atau tidak ada bencana banjir, armada dari Pontianak dan Melawi setiap harinya ada delapan unit.

“Sedangkan untuk Pontianak – Kapuas Hulu sendiri yang beroperasi saat normal sekitar tiga hingga empat unit per harinya. Namun semua saat ini harus berhenti operasi,” jelas dia.
Ia menjelaskan pihaknya akan mulai beroperasi lagi apabila banjir surut atau ruas jalan yang dilalui armada Damri sudah kering atau tidak tergenang.

“Kita masih menunggu kondisi bencana banjir di dua daerah itu. Semoga secepatnya surut sehingga semua aktivitas masyarakat di sana bisa kembali korban. Kita dari Damri juga tentu prihatin dengan kondisi ini,” jelas dia.

Saat ini, kondisi banjir di Kota Putussibau dan sekitarnya di wilayah Kapuas Hulu, Kalbar saat ini mulai surut, meski pun sejumlah titik masih terendam banjir namun aktivitas di pusat Ibu Kota Kabupaten Kapuas Hulu sudah mulai terlihat.

Kapolres Kapuas Hulu, AKBP Wedy Mahadi mengatakan bahwa dari pantauan di lapangan di Kota Putussibau dan sekitarnya ada beberapa titik yang masih terendam banjir diantaranya yaitu daerah Dogom, Kampung Jati, Teluk Barak, Komplek Kodim Putussibau, Pasar Inpres, dan sejumlah dataran rendah lainnya.

Menurut dia, aktivitas warga kota Putussibau dan sekitarnya sudah berangsur normal, meski pun demikian harus tetap waspada bencana.

” Dalam menghadapi bencana harus tetap kita jaga keselamatan serta keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat,” kata Wedy.

Dikatakan Wedy, saat ini sejumlah warga sudah mulai membersihkan rumah yang sempat terendam banjir dan mengambil kembali kendaraan yang sempat diungsikan.

” Alhamdulillah banjir tidak ada korban jiwa, namun kami imbau masyarakat di hilir bersiap – siap dan waspada banjir kiriman,” pesan Wedy.

(ris/ant)

error: Content is protected !!