Korban Dikenal Sosok Tertutup

PENYIDIKAN: Personel kepolisian melakukan penyidikan di TKP penemuan dua mayat berjenis kelamin wanita berstatus ibu dan anak yang diduga menjadi korban pembunuhan, di Jalan Tanjung Harapan, Kelurahan Banjar Serasan, Pontianak Timur, Kamis (24/9). SIGIT ADRIYANTO/PONTIANAK POST

Kasus Pembunuhan Ibu-Anak di Banjar Serasan

PONTIANAK – Peristiwa penemuan dua sosok mayat wanita berstatus ibu  bernama Sumi alias Umi (39) dan anak Geby (19) di Jalan Tanjung Harapan, Kelurahan Banjar Serasan, Kecamatan Pontianak Timur masih menyisakan tanda tanya. Bahkan hingga sehari berselang, rumah korban masih menjadi sorotan warga setempat yang penasaran terkait penyebab kematian kedua korban.

Selain itu, rumah yang telah terpasang garis polisi tersebut saat ini juga tengah dijaga oleh aparat kepolisian yang sampai saat ini juga masih melakukan serangkaian penyidikan dan olah TKP guna memastikan penyebab kematian kedua wanita berstatus ibu dan anak tersebut.

Berdasarkan keterangan yang didapat Pontianak Post dari tetangga yang tinggal bersebelahan dengan korban, yakni Titin menyebutkan kedua korban merupakan warga yang tergolong jarang berkomunikasi dengan warga lainnya. Dari kesaksiannya, baik korban Sumi maupun Gebi memang jarang beraktivitas di luar rumah. Bahkan untuk berinteraksi dengan masyarakat setempat pun hanya sekadar saat ada pelanggan yang datang ke tempatnya, mengingat korban memiliki usaha warung sembako di rumahnya.

“Terakhir kali lihat itu hari Minggu (20/9) saat warungnya buka. Waktu itu memang mata Bu Sumi tampak sembab seperti habis menangis. Sesudah itu, hari Senin sama Selasa warungnya sudah tidak ada buka lagi dan korban pun sudah tidak pernah terlihat,” jelas Titin saat diwawancarai, Kamis (24/9).

Dia juga mengaku tak mengetahui apa yang terjadi setelah melihat korban terakhir kalinya. Bahkan, dirinya juga tak mendengar apapun, baik itu teriakan minta tolong, barang jatuh, ataupun suara riuh lainnya dari rumah korban sebelum ditemukan tewas. Padahal, kata dia, jarak antara rumahnya dan rumah korban sangat berhimpitan, bahkan hampir tak menyisakan celah.

“Korban memang hanya tinggal berdua anaknya (GP) di rumah tersebut. Bapaknya (suami ketiga korban Sumi) jarang berada di rumah, kalaupun datang itu cuma sekali-kali,” tuturnya.

Sementara itu, berdasarkan keterangan tetangga lainnya, yakni Juleha yang tinggal berseberangan dengan rumah korban mengungkapkan bahwa dirinya terakhir kali melihat kedua korban saat memandikan kucing di pekarangan rumahnya, baru-baru ini. Ia juga mengungkapkan bahwa kedua ibu dan anak tersebut memang sudah mulai tak menampakkan diri sejak Senin (21/9) pagi.

“Warung dan semua pintu hingga jendela rumahnya tertutup rapat. Saya tahu karena anak saya seringkali berbelanja di warung milik korban yang biasanya buka mulai siang hari hingga malam hari,” katanya.

Ia juga mengungkapkan bahwa kedua korban adalah pendatang di wilayah tersebut. Namun sudah tinggal di rumah tersebut sekitar enam tahun. Sementara terkait perasaan curiga, Juleha mengaku tak merasa curiga apa-apa lantaran memang sifat korban yang tertutup dengan lingkungan sekitar.

Selain itu, sebelum korban ditemukan tewas dirinya menduga bahwa kedua sedang berada dirumah lainnya yang berada di daerah Siantan, Kecamatan Pontianak Utara dan kadang pula keduanya ikut pulang ke rumah suami ketiga korban yang berada di daerah Rasau, Kabupaten Kubu Raya.

“Awalnya tak heran, karena biasanya memang begitu. Keduanya pergi sekitar seminggu sampai 10 hari, dan rumahnya sepi. Tapi kemarin dapat kabar keduanya meninggal cukup membuat saya kaget juga,” pungkasnya.

Selain itu sebagai informasi, dari hasil penyidikan sementara yang dilakukan, pihak kepolisian turut mengamankan sejumlah barang bukti yang ditemukan di rumah yang menjadi TKP penemuan mayat ibu dan anak tersebut. Beberapa barang bukti yang diamankan yakni berupa alat perkakas tumpul dan juga senjata tajam, berupa dua buah palu dan sebilah parang. (Sig)

error: Content is protected !!