Dua Tetangga Pemegang ”Rekor” Kematian Tertinggi Se-Jawa Barat
Kota Tasikmalaya Sampai Kehabisan Peti Jenazah

KORBAN BERJATUHAN: Petugas pemulasaran RSUD dr Soekardjo, Kota Tasikmalaya, menggotong peti jenazah pasien Covid-19 kemarin. RSUD dr Soekardjo for Radar Tasikmalaya

Sejak dini hari sampai pagi, tim pemulasaraan harus berjibaku menangani jenazah. Akibat stigma terhadap pasien Covid-19, sebagian baru mau terbuka dan bersedia diisolasi saat kondisinya sudah berat.

RANGGA JATNIKA-DIKI SETIAWAN, Kota-Kabupaten Tasikmalaya

WAJAH Dona Darmawan tampak kepayahan. Maklum, sejak dini hari dia harus berjibaku menangani pemulasaraan korban Covid-19. ”Dini hari tadi dua, pagi ini tadi tiga,” kata petugas pemulasaraan RSUD dr Soekardjo, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat (Jabar), tersebut di sela istirahat kemarin siang (7/6) kepada Radar Tasikmalaya (jaringan Pontianak Post).

Sampai kemarin pagi, tingkat kematian akibat Covid-19 di Kota Tasikmalaya berkisar 2,06 persen. Angka itu sebenarnya tidak termasuk tinggi di provinsi yang dipimpin Ridwan Kamil tersebut meski juga tidak bisa dibilang rendah.

Persoalannya, Kota Tasikmalaya diapit dua tetangga yang tingkat kematian akibat Covid-19 menempati peringkat pertama dan kedua di Jabar: Kabupaten Ciamis (3,63 persen) dan Kabupaten Tasikmalaya (3,62 persen). Dan, menurut Kabid Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya dr Asep Hendra, tidak semua pasien yang meninggal di wilayahnya adalah warga Kota Tasikmalaya. ”Ada juga warga luar daerah seperti Kabupaten Tasikmalaya,” ungkapnya.

Selain menguras tenaga, rentetan pasien Covid-19 yang meninggal berdampak pada persediaan peti jenazah. Semakin banyak pasien yang meninggal, kebutuhan peti tentu perlu ditambah. ”Sekarang habis, kami harus membuatnya lagi dan itu butuh waktu,” ujar Dona.

Pasien-pasien meninggal, dijelaskan Asep, merupakan mereka yang memang punya penyakit penyerta. ”Tapi, tidak semua yang bergejala meninggal. Banyak juga yang sembuh,” ungkapnya.

Asep menuturkan, sebagian pasien baru terbuka dan mau diisolasi setelah kondisinya berat. Keberhasilan penanganan pun semakin kecil. Menurut dia, itu diawali dengan masih adanya stigma negatif di masyarakat terkait Covid-19. Akibatnya, ketika merasakan gejala, seseorang cenderung menutup diri karena khawatir diusir warga. ”Termasuk pasien yang sudah menjalani pemeriksaan mandiri dan hasilnya positif. Sebagian enggak mau lapor,” jelasnya.

Pihaknya berharap masyarakat berlaku bijaksana ketika ada warga yang terindikasi positif. Di sisi lain, warga yang terindikasi pun harus bisa bersikap kooperatif. ”Kan tidak semua harus diisolasi di rumah sakit, bisa juga isolasi mandiri di rumah dengan pengawasan,” ujarnya.

Berdasar hasil virtual meeting yang dipimpin langsung oleh Presiden Joko Widodo pada Kamis pekan lalu (27/5), angka kesembuhan di Kota Tasikmalaya dari evaluasi nasional atas daerah se-Jawa Barat tercatat 73 persen. Ini menempatkan Kota Tasikmalaya di urutan keempat dari bawah. Di bawahnya, ada Kabupaten Garut dengan 71 persen, Bogor (53 persen), dan Cianjur (52 persen). ”Ini menjadi perhatian dan catatan kami bersama supaya tidak mengendurkan kewaspadaan persebaran Covid-19,” tutur Sekretaris Daerah Kota Tasikmalaya Ivan Dicksan.

Di wilayah tetangga, Direktur Utama (Dirut) RSUD SMC (Singaparna Medika Citrautama), Kabupaten Tasikmalaya, dr Iman Firmansyah MMKes menyebutkan bahwa jumlah kasus kematian akibat Covid-19 di Kabupaten Tasikmalaya sudah mencapai 128 orang. ”Berdasar data sejak Covid-19 kali pertama muncul pada Maret 2020 sampai 2 Juni 2021, tercatat ada 119 pasien yang meninggal karena positif Covid-19 yang dirawat di RSUD SMC,” jelas Iman kepada Radar Tasikmalaya kemarin.

Ke-119 pasien yang terpapar Covid-19, lanjut Iman, tidak mempunyai riwayat perjalanan dari luar daerah. Termasuk tidak melakukan mobilisasi atau berkerumun. ”Seperti klaster keluarga atau terpapar oleh orang yang datang dari luar daerah ke Kabupaten Tasikmalaya,” ungkap dia.

Apalagi, tambah dia, setelah mudik Lebaran dan libur panjang, kasus Covid-19 meningkat. Ini terlihat dari keterisian tempat tidur ruang isolasi RSUD SMC. Sebanyak 33 di antara 36 bed telah terisi. ”Ini harus menjadi catatan serius supaya kita lebih sama-sama mengendalikan. Sekali lagi, Covid-19 ini nyata adanya,” tegas Wakil Bupati Tasikmalaya Cecep Nurul Yakin.

Senyata kelelahan yang dialami Dona Darmawan dan kawan-kawannya di tim pemulasaraan. Sebab, kematian terus berjatuhan. Sampai peti jenazah pun kehabisan.*

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!