KPK Geledah Kantor Bupati

GELEDAH: Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah ruang kerja pejabat di lingkungan Pemda Kabupaten Bengkayang. Penggeledahan ini menyusul operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Bupati Bengkayang, Suryadman Gidot dan Kadis PUPR, Aleksius serta beberapa pihak swasta.ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST

Sejumlah Kardus, Koper dan Tas Disita

BENGKAYANG – Satuan Tugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah sejumlah ruang kerja dan rumah pribadi pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bengkayang, Jumat (6/9) pagi. Penggeledahan dilakukan pasca-penetapan Bupati Bengkayang, Suryadman Gidot dan sejumlah pihak lain sebagai tersangka oleh KPK beberapa hari lalu.

Sejumlah kardus dan koper barang bukti dibawa penyidik dari ruangan yang digeledah. Adapun ruang yang diobok-obok KPK tersebut antara lain ruang kerja Bupati Bengkayang, Suryadman Gidot, ruang sekda, ruang staf TU Sekda, ruang staf TU Asisten III yang berada di lantai III Kantor Bupati, ruang kerja Kepala Dinas PUPR serta Aula PUPR, ruang kerja Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta rumah pribadi bupati di Jalan Langawi, Kelurahan Sebalo.

Berdasarkan pantauan Pontianak Post, penggeledahan dilakukan secara marathon. Sejumlah penyidik tampak keluar masuk dari ruangan satu ke ruangan lainnya. Penggeledahan yang berlangsung tertutup itu juga mendapat pengawalan ketat dari aparat Polres Bengkayang. Di luar area gedung hingga di setiap sudut Kantor Bupati ada polisi yang berjaga.

Selain menggeledah sejumlah ruangan, penyidik KPK juga memeriksa sejumlah orang terkait dengan persoalan yang sedang terjadi.  Usai penggeledahan dan pemeriksaan, penyidik keluar membawa sejumlah kardus, koper dan tas yang diduga kuat berisi barang bukti yang ditemukan dalam ruangan. Barang-barang itu kemudian dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Selanjutnya, tim langsung meninggalkan lokasi menggunakan tiga mobil. Dua di antaranya berwarna hitam dan satu warna silver.

Terpisah, Plh Bupati Bengkayang, Agustinus Naon meminta masyarakat dan ASN di lingkungan Pemkab Bengkayang untuk tidak berlebihan menyikapi pemberitaan terkait kasus ini, terutama di media sosial. Jangan sampai ikut-ikutan berkomentar yang dapat menimbulkan keresahan dan permasalahan baru.

“Saya berharap dalam menyikapi pemberitaan di media sosial  yang berkembang pada saat ini, jangan terlalu banyak berkomentar yang bukan-bukan sehingga dapat menimbulkan permasalahan baru dan dapat menimbulkan keresahan pada masyarakat,” ujar Naon.

Ia tidak banyak memberikan tanggapan tentang kasus yang sedang terjadi. Ia hanya mengingatkan ASN di Pemkab Bengkayang untuk tetap menyelenggarakan roda pemerintahan dan pelayanan publik (masyarakat) secara maksimal.

Sementara itu, Ketua DAD Kecamatan Bengkayang, Yulius Heri mengaku prihatin dan sedih atas kasus yang menyeret orang nomor satu di daerah itu. Menurut Yulius, Gidot merupakan sosok yang sederhana dan memasyarakat. “Saya sangat prihatin, sangat sedih, terutama kepada Bupati Bengkayang, Suryadman Gidot dan termasuk keluarga beliau,” ujarnya.

Menurutnya, selama ini Gidot dikenal sebagai sosok yang peduli dengan masyarakat yang kurang mampu. “Beliau itu adalah teman seperjuangan dan kami saling kenal. Bahkan sangat akrab sekali. Saya tahu betul sifat beliau. Dia orangnya sangat sederhana, sangat bermasyarakat dan sangat memperhatikan orang kurang mampu,” sambungnya.

Yulius menuturkan, Gidot terlahir dari keluarga yang sederhana. Ia berasal dari desa dan hidup pas-pasan semasa kecil. Orang tua Gidot sendiri merupakan petani. Namun, kata Yulius, karier Gidot sangat luar biasa hingga menjadi orang nomor satu di Kabupaten Bengkayang.

“Saya merasa bangga terhadap karier beliau karena memberi inspirasi kepada masyarakat khususnya pedalaman,” ujarnya.  Atas peristiwa yang terjadi, Yulius berharap masyarakat untuk tidak mengucilkan Gidot dan keluarganya.

“Selaku manusia tidak ada yang sempurna. Kesempurnaan adalah milik Tuhan. Ada pepatah mengatakan, walaupun beribu perbuatan kita yang baik, sekali saja tersandung kasus yang berkaitan dengan hukum maka semuanya akan hilang,” katanya. Mengingat kasus ini adalah perkara hukum, ia mengajak masyarakat untuk memercayakan proses penanganannya kepada pihak yang berwenang.

“Kepada Pemerintah Kabupaten Bengkayang dan masyarakat semuanya, jangan sampai kejadian seperti ini terulang kembali, karena memang keinginan kita semua untuk memajukan daerah,” harapnya.
Ungkapan keprihatinan juga disampaikan Sri Cahyawati, kader Partai Demokrat. Menurutnya, Gidot merupakan kader Partai Demokrat terbaik di Kalimantan Barat. Selama menjabat sebagai Ketua DPD Partai Demorat Kalbar, Gidot merupakan pemimpin yang dinilai bijaksana dan sederhana.

“Saya ikut prihatin terlepas apa kesalahan beliau. Yang jelas, beliau  adalah kader terbaik Kalbar. Beliau pemimpin yang bijaksana, sederhana dan selalu memberikan semangat kepada kader-kader lainnya,” ungkap Cahya kepada Pontianak Post. Selaku pribadi maupun kader Partai Demokrat, dirinya siap memberikan dukungan moral selama Gidot menjalani proses hukum. “Saya secara pribadi maupun sebagai Kader Demokrat  akan tetap memberi support kepada beliau,” pungkasnya.

Sebelumnya, KPK menetapkan tujuh tersangka korupsi dengan modus jual beli proyek. Mereka adalah Bupati Bengkayang Suryadman Gidot, Kadis PUPR Bengkayang Aleksius, dan lima kontraktor yakni Rodi, Yosef, Nelly Margaretha, Bun Si Fat  dan Pandus. Dalam operasi tangkap tangan, KPK juga menyita uang tunai Rp336 juta.

Kasus ini terbongkar setelah lembaga anti-rasuah itu mengendus adanya perintah permintaan uang Rp300 juta dari Suryadman Gidot kepada Kepala Dinas PUPR, Aleksius dan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Agustinus Yan. Permintaan ini dilatari adanya keperluan urusan pribadi yang sedang dihadapi Gidot yang juga Ketua DPD Partai Demokrat Kalbar. (arf)

Read Previous

Kalimantan Barat Darurat Karhutla

Read Next

Pikap Esemka Dijual Rp95 Juta

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *