Kreatifitas Guru dan Inovasi PJJ di Masa Pandemi Covid-19

Oleh : Dian Christian, S.Pd

Pandemi Covid-19 membuat berbagai kegiatan pembelajaran yang tadinya dilakukan dengan tatap muka kini dipaksa berubah menjadi pembelajaran jarak jauh ( PJJ) memanfaatkan media dalam jaringan ( daring) maupun luar jaringan ( luring). Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dirjen GTK Kemendikbud), Iwan Syahril, mengungkapkan dengan adanya pandemi Covid-19 ini justru menghasilkan berbagai praktik baik yang telah dilakukan para guru dalam melakukan PJJ.

Banyak guru mencoba berinovasi dan mengembangkan kreativitas. Ini merupakan sebuah bentuk bagaimana seorang guru melakukan hal yang relevan dengan keadaan siswa tetapi tetap masuk dalam koridor mata pelajaran. Peningkatan mutu pendidikan tidak berpatokan pada bagaimana kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dilaksanakan di lapangan semata. Pelaku pendidikan seperti guru juga berperan besar sebagai penentu kualitas pendidikan yang bagus.Kecakapan guru dalam mengajar setidaknya berpegang pada keterampilan 4C yaitu communication (komunikasi), collaboration (kolaborasi), critical thinking (berpikir kritis), dan creativity (kreativitas).

Bukan hal mudah memang untuk menata diri sehingga menjadi guru profesional yang memenuhi kualifikasi akademik dan mempunyai sertifikat sebagai pendidik. Guru semestinya memenuhi empat standar kompetensi yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.Terutama di masa revolusi industri 4.0 yaitu tren di dunia industri yang menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi siber.Siswa yang termasuk dalam kaum milineal yang hidup di ekosistem digital sudah terbiasa dengan teknologi informasi dan komunikasi. Budaya digital sudah menjadi bagian utama kehidupan mereka.Semua sumber informasi terbuka dan mudah diakses. Siswa terbiasa mencari informasi di internet, serta bekerja tim menjadi model belajar utama mereka.

Maka, guru pun dituntut menjadi kreatif dengan penggunaan internet di kelas. Classroom learning yang dulu biasa dilakukan seorang guru sekarang diubah blended learning yang menggabungkan pengajaran langsung (face-to-face) dan e-learning.Pada konsep e-learning, siswa dapat belajar sendiri memakai laptop, komputer, atau ponselnya. Namun, tentu saja penggunaan ponsel di luar kelas perlu terus dipantau.Ponsel memang perlu, kemajuan teknologi perlu diterapkan, tetapi tetap harus dikontrol. Di samping itu, cara penyampaian guru ketika di kelas juga menjadi hal penting untuk diperhatikan. Siswa tidak akan mencerna materi pelajaran dengan baik jika diajar guru yang kurang menyenangkan.Gaya bicara ramah dan mampu berdialog dengan nuansa humor saja kurang cukup untuk menjadi pengajar yang baik. Gesture atau gerak tubuh juga penting. Guru tidak boleh merengut wajahnya, tampil ramah dan mudah diajak berkomunikasi akan membuat siswa menjadi senang. Kelas yang sehat kelak menghasilkan siswa yang sehat dan berbakat pula.

Berbagai kendala yang dihadapi para guru dalam melakukan PJJ ini tidak menyurutkan semangat mereka. Hal ini terbukti dari upaya yang dilakukan agar dengan sumber daya yang ada, mereka bisa tetap memberikan pembelajaran yang berarti untuk para siswa. Poin pemanfaatan teknologi dalam kondisi pandemi ini merupakan hal yang luar biasa. Salah satu masalah terbesar dalam mengadopsi teknologi pada pendidikan di Indonesia adalah kecemasan bukan kemampuan.

Sebenarnya para guru kita ini mampu tetapi cemas. Sekarang karena dikondisikan oleh Covid-19 sehingga mau tidak mau harus mencoba. Mencoba suatu hal baru memang membutuhkan proses dan waktu. Banyak guru mencoba berinovasi dan mengembangkan kreativitas. Ini merupakan sebuah bentuk bagaimana seorang guru melakukan hal yang relevan dengan keadaan siswa tetapi tetap masuk dalam koridor mata pelajaran.

Ilmu pendidikan selalu berkembang seiring dengan lajunya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, budaya, maupun tuntutan dan ekspektasi masyarakat.  Kuantitas dan kualitas seorang guru akan berimbas pada kualitas peserta didik. Guru harus mengikuti perkembangan (updating skills) pendidikan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Guru harus mempunyai bekal pengetahuan berbagai hal tentang konsep pembaharuan dalam pendidikan, tentang paradigma pembelajaran terkini (Technology based, Scientific approach) agar dapat  menjadi agent of change ketika menjadi pengajar , pendidik atau pengelola yang inovatif dan motivatif di era Revolusi Indsutri 4.0.

Revolusi Industri 4.0 banyak membawa perubahan dalam kehidupan manusia, yang secara fundamental telah mengubah cara beraktivitas manusia dan memberikan pengaruh yang besar terhadap dunia kerja. Pengaruh positif revolusi industri 4.0 berupa efektifitas dan efisiensi sumber daya dan biaya produksi meskipun berdampak pada pengurangan lapangan pekerjaan. Era Revolusi Industri 4.0 membutuhkan tenaga kerja termasuk guru yang memiliki keterampilan dalam literasi digital, literasi teknologi, dan literasi manusia.

Menurut Teori Darwin, “Bukan yang terkuat yang mampu bertahan, melainkan yang paling adaptif dalam merespon perubahan”. Dunia selalu berubah dan dinamis, akan selalu muncul masalah-masalah baru yang tidak  bisa dipecahkan dengan pola pikir dan cara-cara yang lama. Itulah pentingnya kreativitas dan inovasi menjawab berbagai perubahan.

Melalui pendidikan terlahir hal-hal kreatif, konstrukti dan inovatif dalam menapaki setiap perkembangan zaman. Keluarga, sekolah, dan masyarakat adalah ekosistem pendidikan yang harus bersinergi.

*) Penulis adalah Kepala SMAN 2 Ngabang Kabupaten andak

loading...