Kualitas Udara Pontianak Berbahaya, Warga Diimbau Kurangi Aktivitas di Luar Rumah

PERDALAM PARIT: Satu alat berat sedang menggali parit di Jalan Perdana, Senin (1/3). Ini dilakukan untuk memudahkan petugas pemadam kebakaran mendapatkan air karena kawasan ini kerap terjadi kebakaran lahan. MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

PONTIANAK – Wali Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Edi Rusdi Kamtono mengimbau masyarakat agar mengurangi aktivitas di luar rumah karena saat ini kualitas udara di kota itu mulai memburuk dan membahayakan bagi kesehatan akibat asap dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

“Melihat kondisi udara yang demikian, kami minta masyarakat tetap menggunakan masker apabila keluar rumah dan mengurangi aktivitas di luar rumah,” kata Edi Rusdi Kamtono di Pontianak, Senin.

Kebakaran lahan terjadi di sejumlah lokasi di Kecamatan Pontianak Tenggara dan Selatan dan sepekan terakhir.

Berdasarkan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Kota Pontianak tanggal 1 Maret 2021 pukul 13.00 WIB, terpantau kualitas udara Particulate Matter (PM) 2,5 dengan angka 411 atau masuk kategori berbahaya, sedangkan berdasarkan PM10 mencapai angka 261 atau sangat tidak sehat.

Saat ini pihaknya bersama TNI/Polri beserta petugas pemadam kebakaran swasta berupaya memadamkan api pada titik-titik wilayah yang terjadi kebakaran lahan. Hal ini bertujuan untuk mengurangi asap yang kian tebal dan mempengaruhi kualitas udara.

“Apalagi kondisi yang ada diperparah dengan asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di kabupaten sekitar, seperti Kubu Raya dan lainnya. Pemadaman kita lakukan secara sporadis supaya tidak ada lagi titik api karena lahan gambut ini rawan sehingga api bisa menyala kembali,” ujarnya.

Edi menambahkan status Kota Pontianak saat ini sudah masuk darurat asap sehingga perlu melakukan penanganan darurat terhadap kebakaran lahan. Penanganan kebakaran lahan sebagian sudah diatasi, namun hal ini tidak bisa hanya sesaat tetapi harus secara sporadis.

“Hanya hujan yang bisa efektif memadamkan api secara total, tetapi hujannya harus deras, kalau hujan tidak deras, tidak terlalu signifikan,” ungkap Edi.

Dengan ditetapkannya status Pontianak darurat asap, dirinya meminta seluruh pihak bersinergi dalam menanggulangi kebakaran lahan yang terjadi. Pihaknya juga mengalokasikan anggaran untuk menangani kebakaran lahan melalui dana yang tersedia di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pontianak. “Selain itu pula kita (Pemkot Pontianak) ada dana tidak terduga untuk penanganan kebakaran lahan ini,” katanya.

Edi menambahkan hingga saat ini luas areal lahan yang terbakar hampir mencapai 40 hektare, dan sebagian lahan yang terbaka, sudah dikantongi nama pemiliknya.

Pemilik lahan ada yang memang berdomisili di Pontianak, ada juga yang di luar Pontianak sehingga tidak tahu kalau lahannya terbakar, dan pihaknya melakukan penyegelan terhadap sejumlah lokasi lahan yang terbakar. “Harus ada tindakan hukum terhadap mereka supaya ada efek jera tidak membakar lahan dan tidak lalai,” katanya.

Keluhkan Jarak Pandang

Sejumlah nakhoda kapal motor (KM) angkutan sungai mulai mengeluhkan jarak pandang yang sangat pendek karena semakin tebalnya jarak pandang dampak kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah di Kalbar dalam dua pekan terakhir.

“Hari ini jarak pandang di pagi hari sangat pendek sekali, yakni sekitar 20 meter saja, karena tebalnya kabut asap dampak Karhutla,” kata Usman salah seorang nakhoda KM yang melayani angkutan barang dan orang di alur Sungai Kapuas, Senin.

Dia menjelaskan, kabut asap cukup tebal dia rasakan sekitar pukul 02.00 WIB hingga pukul 07.00 WIB sehingga sangat membahayakan transportasi di sungai.

“Kabut asap tebal mulai dirasakan dalam tiga hari terakhir dampak semakin banyaknya kebakaran hutan dan lahan, sehingga sangat mengganggu jarak pandang kami,” ungkapnya.
Dampak semakin tebalnya kabut asap itu, sehingga dia dan rekan sesama nakhoda terpaksa membawa KM dengan pelan guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, seperti tabrakan atau lainnya.

“Bahkan kami harus berhenti atau menambat KM karena jarak pandang yang sangat pendek, yakni di bawah 10 meter, hal itu dilakukan guna mencegah tabrakan,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Usman berharap segera turun hujan, karena dampak tidak hujan telah menyebabkan Karhutla yang memicu kabut asap sehingga selain tidak baik bagi kesehatan juga mengganggu aktivitas transportasi sungai dan lainnya.

Hal senada juga diakui oleh Heri yang juga salah seorang nakhoda KM angkutan sungai dari Pontianak tujuan hulu Sungai Kapuas dan sebaliknya. “Kabut asap sejak beberapa hari ini sangat mengganggu transportasi air, karena jarak pandang yang sangat pendek,” ujarnya.

Dia juga berharap, Kalbar umumnya diguyur hujan sehingga lahan gambut tidak mudah terbakar lagi dan bencana kabut asap segera berakhir.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Mempawah, Kalimantan Barat menyebutkan terpantau sebanyak 176 titik panas atau hot spot di Provinsi Kalbar pada hari ini, Senin (1/3), yang tersebar di tujuh kabupaten/kota, tertinggi di Kabupaten Kubu Raya sebanyak 103 titik panas, kemudian Mempawah 47 titik panas, Ketapang tujuh titik panas, Kota Pontianak enam titik panas, Kabupaten Sambas enam titik panas, Kayong Utara empat titik panas, Bengkayang dan Melawi masing-masing satu titik panas. (ant)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!