Kursus Singkat Ramadan

Dr.H.Hamzah Tawil,M.Si / Wakil ketua II BAZNAS KALBAR dan Dosen UNU Kalbar

Oleh: Dr. H. Hamzah Tawil. M.Si

RAMADAN itu area dan arena studi yang disiapkan Allah SWT sebagai bukti kasih dan sayang- Nya kepada umat manusia. Lantas Allah SWT mengundang umat yang beriman untuk ikut serta dalam madrasah Ramadan. Ini semacam ‘kursus singkat’ (Short-course) dalam program tahunan. Bagi mereka yang senang dengan kedatangan Ramadan ini maka bagi mereka hak untuk menikmati indahnya iman.

Tetapi bagi mereka yang merasa sebaliknya, maka bagi mereka pulalah yang akan memetik hasilnya sehingga, dalam ujung Surah al-Baqarah 183, Allah SWT menggunakan istilah “Iaallkum tattaquun” yang dalam terjemahan bebasnya, “semoga kalian dapat menjadi orang yang bertaqwa’ : Artinya, akan ada (banyak) orang yang tidak berhasil mencapai itu. Karena itu, dalam sebuah arena studi, selalu ada ‘yang berhasil’  dan ada yang gagal bagaimana agar kita dapat berhasil?

Mari kita pahami dulu beberapa terminologi populer ini. Di antara istilah ‘olahraga’ (bodywash), ‘olah pikir’ (brainwash), dan ‘olah jiwa’ (spiritualwash), agaknya yang pertama lebih familiar dibanding dua yang terakhir. Tetapi belakangan, istilah “Spiritual Quotient” atau kecerdasan spiritual menjadi diskursus yang banyak digemari tidak  hanya di dunia lslam melainkan cukup berkembang pesat di Barat. Berbagai hasil penelitian  modern membuktikan bahwa  kecerdasan spiritual memiliki  posisi dan peran yang sangat  penting dalam kehidupan  manusia.

Ciri orang yang cerdas secara spiritual di antaranya adalah ia bisa memberi makna dalam kehidupannya; sehingga ia memiliki sikap yang positif dalam memandang setiap persoalan, optimis dan  tidak mudah stress.

Dari hasil penelitian yang  dilakukan di Pesantren Hidayatullah Surabaya tentang pengaruh salat Tahajjud oleh Dr. Mohammad Sholeh untuk disertasi doktor di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, pada tahun 1999-2000 menunjukkan bahwa tahajjud maupun puasa mampu menurunkan kadar sekresi hormon kortisol, yang secara medis mampu meningkatkan respon ketahanan tubuh imonologik. Kesimpulan yang hamper sama juga diperoleh dari hasil penelitian Dr. dr. Zainullah tentang pengaruh Puasa Ramadan, untuk disertasi program dokrornya di tempat yang sama.

Rajin beribadah, cerdas spiritualnya: Imam serta ibadah kepada Allah seharusnya menjadikan seseorang memiliki jiwa yang tenang, damai serta bahagia. Dimana perasaan tenang, damai dan bahagia itu merupakan indikator orang yang cerdas secara spiritual. Allah menjanjikan orang-orang yang beriman dan beribadah kepada-Nya: “(yaitu) orang- orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’du 1’1: 28).

Akan tetapi pada kenyataannya masih banyak orang yang merasa beriman kepada Allah, dan rajin beribadah sedang jiwanya tidak menunjukkan tanda-tanda ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan itu. Apa yang salah?

Jika hal diatas terjadi, boleh jadi imannya baru sebatas pengetahuan, belum menjadi sistem keyakinan. Demikian juga ibadah yang dilakukan boleh jadi baru merupakan gerakan fisik yang tidak disertai dengan gerakan hati. Padahal lslam mengajarkan kepada kita untuk meluruskan niat dan motivasi, khusyu’ dalam ibadah, bersyukur kepada- Nya, berserah diri (tawakkal) kepada-Nya setelah berikhtiyar secara maksimal, Ridha dengan apa yang diberikan oleh Allah. Ternyata, antara ikhtiar yang berdimensi rasional dan tawakkal yang berdimensi  spritual. jika digabungkan akan menjadi kekuatan yang dapat menumbuhkan dua kecerdasan sekaligus: akal dan hati.

Jika seseorang tidak rela dengan keadaan dirinya, masih merasa terganggu jika karyanya tidak diperhatikan dan dihargai manusia, selalu merasa diperlakukan tidak adil, mudah hasud dengan keberhasilan orang lain, dan tidak mudah memaafkan kesalahan orang lain, itu artinya iman tersebut dan amal shalehnya masih harus disetting ulang.

Kecerdasan spiritual

Ibadah Ramadan merupakan salah satu bentuk ibadah yang memiliki potensi sangat besar untuk mencerdaskan spiritual (spiritualwash) bahkan mencerdaskan iman. Hal ini karena seluruh rangkaian ibadah di bulan Ramadan didesain oleh Allah untuk mengasah kembali kecerclasan ruhiyah manusia.

Jika seorang mukmin melakukan amaliyah Ramadan dengan benar selama sebulan penuh, bukan saja memiliki kecerdasan spiritual, bahkan lebih dari itu mampu membangun “keceradasan iman” lbadah Ramadan mengkondisikan hati untuk ikhlas, menciptakan suasana ibadah dengan khuyu’, mengosong- kan perutnya dengan berpuasa, berusaha bersabar dengan berbagai ujian, mendorong untuk melakukan perbuatan yang baik kepada orang lain, dan masih banyak lagi.

Perilaku di atas secara empiris mampu menurunkan gelombang otak dari posisi Betha ke posisi diantara Alfa-Theta, dimana seseorang akan merasakan ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan. Intuisi dan inspirasi yang brilian mudah muncul dalam suasana seperti ini. Sistem perkabelan otaknya (neuropeptide) serasi dan kortisol pada struktur darahnya dalam keadaan yang rendah, sehingga tidak mudah dihinggapi stress dan fisiknya menjadi sehat.

Lebih dari itu, yang jelas puasa Ramadan yang dilakukan dengan benar akan mengantarkan seseorang mencapai kualitas takwa Dengan takwa fisik lebih sehat spiritual menjadi lebih cerda. Rohani menjadi bersih, dan yang tidak kalah pentingnya di ridhai oleh Allah. Kualitas ini tidak mungkin dicapai oleh orang lain selain orang-orang yang beriman kepada Allah SWT. (*)

Penulis, Wakil Ketua 2 Baznas Kalbar dan Dosen UNU Kalbar

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!