Lagi, Gadis Bawah Umur Dicabuli

ilustrasi

Belasan Kali Ruda Paksa Anak Tiri

Kubu Raya sepertinya masih menjadi daerah yang tak aman bagi anak. Bagaimana tidak, kasus kejahatan seksual kerap saja memakan korban. Kali ini dialami anak perempuan berusia 13 tahun. Disetubuhi belasan kali oleh bapak tiri.

ADONG EKO, Pontianak

PERBUATAN biadab itu dilakukan Julkarnain alias Jul, sejak korban masih duduk di bangku kelas IV sekolah dasar (SD). Perbuatan itu terus dilakukannya berulang kali, di saat sang istri pergi meninggalkan rumah untuk bekerja.
Hingga akhirnya perbuatan tak manusiawi itu terendus oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kabupaten Kubu Raya. Setelah mencari keterangan untuk memastikan dugaan tindak kejahatan itu, KPAID pada 29 Agustus lalu langsung melaporkan kejadian itu ke Mapolresta Pontianak.

Dari laporan itu, polisi bekerja cepat. Korban beserta ibu dan satu anggota keluarga lainnya dimintai keterangan. Dugaan korban telah disetubuhi semakin kuat dengan hasil visum yang diperoleh polisi. Di hari yang sama, 29 Agustus sekitar pukul 23.00 WIB, pelaku dibekuk di kediamnnya di salah satu kecamatan di Kabupaten Kubu Raya.
Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Kasatreskrim) Polresta Pontianak, AKP Rully Robinson Pulli membenarkan informasi kasus kejahatan seksual, dengan korban bocah perempuan berusia 13 tahun atau masih duduk di kelas VI SD.

Rully menjelaskan, pelaku adalah ayah tiri korban. Perbuatan itu, menurut dia, dilakukan pelaku sejak korban masih duduk di kelas IV SD hingga atau sejak 2017 hingga berakhir 26 Agustus lalu. “Kami menerima laporan itu dari KPAID Kubu Raya,” kata Rully, Sabtu (31/8) ditemui di Mapolresta Pontianak.

Rully menuturkan, setelah menerima laporan, pihaknya langsung melakukan pemeriksaan korban dan saksi-saksi serta melakukan visum. Hasilnya, dipastikan dia, semakin membuktikan bahwa korban memang telah disetubuhi.

“Dari hasil pemeriksaan, perbuatan itu telah dilakukan pelaku lebih dari sepuluh kali,” ungkapnya.

Berbekal dari alat bukti itu, pelaku yang diketahui berada di kediamannya, saat itu langsung mereka bekuk. Dari hasil interogasi, kepada mereka pelaku mengakui perbuatannya. Dari keterangan pelaku kepada mereka bahwa dia melakukan itu di dalam kamar korban saat istrinya telah meninggalkan rumah untuk pergi bekerja.

“Perbuatan itu selalu dilakukan di dalam kamar. Dilakukan satu sampai dua kali dalam seminggu sejak 2017 dan kejadian terakhir Senin, 26 Agustus sekitar pukul 05.00,” tutur Rully.

Rully menerangkan, dari keterangan korban, saat perbuatan itu dilakukan, korban sudah berusaha untuk melawan. Perlawanan yang dimaksud dia seperti berteriak meminta tolong, namun tidak ada yang mendengar, berusaha melarikan diri namun ditangkap pelaku.

“Terhadap pelaku akan dikenakan pasal 81 ayat 1 dan 2 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana penjara di atas 5 tahun,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua KPAID Kubu Raya, Abu Nawas, membenarkan, jika merekalah yang melaporkan kasus kejahatan seksual itu ke Mapolresta Pontianak. Menurut dia bahwa saat itu pihaknya mendapat informasi, jika ada anak di salah satu kecamatan di Kubu Raya menjadi korban kejahatan seksual oleh ayah tirinya.

Mendapatkan informasi itu, mereka pun melakukan penelusuran terhadap indentitas dan keberadaan korban. Dari penelusuran itu, korban diketahui mereka bersekolah di salah satu SD. “Kami datang ke sekolahnya, namun korban tidak ada. Informasi yang didapat korban diamankan di rumah neneknya,” kata Nawas.

Setelah mendapatkan kepastian kebenaran kasus tersebut, pihaknya pun langsung membuat laporan ke Mapolresta Pontianak. Di mana dari hasil pemeriksaan dan visum mereka berhasil mengungkap jika korban sudah disetubuhi. “Korban ini masih kelas VI SD. Kondisinya beberapa waktu lalu masih sering menangis, tetapi kami berikan pendampingan dan sekarang sudah kembali ke kediaman ibunya,” ucapnya.

Nawas menyatakan bahwa perbuatan pelaku itu sangat tidak manusia. Sebagai soerang ayah, dia menyayangkan, pelaku bukan melindungi, tetapi telah menghancurkan masa depan anaknya. Oleh karena itu, pihaknya memandang perlu untuk penegak hukum dengan menjatuhkan hukuman seberat-beratnya, sesuai dengan ketentuan yang ada di dalam UU.

“Kami berharap ancaman pidana penjaranya tidak hanya dapat ditambah sepertiga. Hukuman kebiri layak diberikan kepada pelaku, karena yang bersangkutan adalah orang terdekat korban,” tegasnya.

Nawas menyatakan, hukuman kebiri kimia itu layak diberikan, agar menjadi efek jera bagi pelaku lainnya. Apalagi tak dipungkiri dia jika kasus kejahatan seksual yang terjadi di Kubu Raya terbilang marak. “Untuk tahun ini saja, lebih dari lima kasus kejahatan seksuak sudah terjadi,” pungkasnya. (*)

Read Previous

PLN Siap Dukung Era Kendaraan Listrik

Read Next

Rumah Pupuk Organik Ubah Kulit Durian jadi Pupuk

Tinggalkan Balasan

Most Popular