Lagi, Tiga Orang Utan Dilepasliarkan ke Tanagupa

LEPAS LIAR: Proses pelepasliaran orang utan di kawasan Taman Nasioanl Gunung Palung di Teluk Melano, Kecamatan Simpang Hilir, kemarin. BKSDA FOR PONTIANAK POST

TELUK MELANO – Pelepasanliaran tiga orang utan kembali dilakuan di Taman Nasional Gunung Palung (Tanagupa) ke kawasan Bukit Kubang di wilayah kerja RPTN Batu Barat SPTN Wilayah II Teluk Melano, Kecamatan Simpang Hilir. Pelepasliaran tersebut sebelumnya diduga akibat terjadinya kebakaran hutan dan lahan di sekitar kawasan.

Untuk diketahui, mengenai ketiga orang utan tersebut bernama arang (betina), bara (jantan), jerit (betina) ditemukan di luar kawasan Taman Nasional di Kabupaten Ketapang, dan selanjutnya dilepasliarkan ke kawasan Taman Nasional di Kabupaten Kayong Utara bersama Tanagupa, BKSDA Kalbar, dan Yayasan IAR Indonesia.

Sepanjang 2018 – 2019, Tanagupa telah menerima tujuh orangutan di mana dari tujuh orang utan tersebut, lima di antaranya dilepasliarkan ke Bukit Kubang, Kecamatan Simpang Hilir.

Kepala Seksi I Balai Taman Nasional Gunung Palung (BTNGP) Sukadana, Bambang Hari Trimarsito menjelaskan, Taman Nasioanl Gunung Palung (TNGP), BKSDA Kalbar, dan Yayasan IAR Indonesia telah melakukan upaya penyelamatan terhadap tiga orang utan yang diduga akibat terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Sedangkan untuk penemuan orang utan tersebut, menurut dia, berada di luar kawasan.

“Mengetahui adanya informasi tersebut kita segera melakukan penyelamatan sebelum dilepasliarkan ke kawasan Taman Nasional di Kayong Utara,” terangnya kemarin saat ditemui di kantor BTNGP Sukadana, Rabu (2/9).

Sejauh ini, menurut dia, hanya menerima laporan pelepasliaran satwa orang utan di wilayah Taman Nasional. Selain itu, sambung Bambang, berkaitan dengan orang utan yang merupakan satwa dilindungi ini, masyarakat harus dapat mengetahui. Dia berpesan jika menemukan orang utan sebaiknya dapat menyampaikan informasi tersebut kepada perugas. “Sebab untuk tahun ini saja orang utan tersebut hingga keluar bisa saja disebabkan terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang hingga menimbulkan kabut asap,” ungkapnya kepada wartawan.

Bambang mengaku, memang terdapat kawasan yang terbakar, akibat terjadinya kebakaran hutan dan lahan, di antara batas-batas wilayah. “Iya untuk kawasan memang ada yang terbakar. Tetapi hanya diantara batas-batas wilayah saja,” ungkapnya.

Sementara itu, Adi Irawan, dokter hewan IYARI Ketapang, menjelaskan ketiga orang utan tersebut memang diduga akibat terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Selanjutnya mereka melakukan upaya penyelamatan. “Proses penyelamatan yang dilakukan guna memeriksa kondisi kesehatan orangutan tersebut bersama,” terangnya kemarin di Sukadana.

Ia menambahkan, setelah memastikan tiga orang utan tersebut kondisinya sehat, selanjutnya dilakukan pelepasliaran di kawasan TNGP. Tentunya, dia menambahkan, sebelumnya terlebih dahulu melakukan koordinasi beraama BKSDA dan TNGP.

Berkaitan dengan hal ini pula, ia mengimbau kepada masyarakat jika menemukan orang utan yang masuk ke dalam perkebunan masyarakat, agar tidak melakukan tindakan-tindakan yang dinilai membahayakan. Sebab, diingatkan dia bahwa hal tersebut sangat membahayakan kepada masyarakat maupun orang utan itu sendiri. Ia pun menyarankan sebaiknya jika menemukan dapat segera melapor.

“Sebaiknya jika menemukan orang utan dapat memberikan informasi kepada kami, dan biarkan kami yang mengambil tindakan tersebut. Karena, khawatir akan ada salah dalam penaganan orang utan tersebut. Apa lagi orangutan merupakan satwa yang dilindungi oleh negara,” tutupnya. (dan)

loading...