Lama Menderita Sakit, Tak Pernah Dapat Bantuan

TERSANDAR LEMAH: Ariansyah hanya dapat tersandar lemah di pangkuan Rahayu (ibunya). Kondisi tersebut dikarenakan anak berusia delapan tahun tersebut tak bisa berbuat apa-apa lantaran penyakit yang telah lama dideritanya. SIGIT ADRIYANTO/PONTIANAK POST

 

Potret Kehidupan Bocah Ariansyah

Seorang anak berusia delapan tahun bernama Ariansyah, yang merupakan warga Dusun Merpati RT 04 RW 07, Desa Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya hanya dapat bersandar lemah di pangkuan sang ibu. Ada hal yang memang nampak berbeda dari tubuh anak yang karib disapa Ari ini jika dibandingkan dengan anak lain seusianya.

Sigit Adriyanto, Sungai Kakap

KONDISI anak semata wayang dari pasangan Julianto dan Rahayu itu terlihat sangat kurus, terlebih berat badannya yang diperkirakan hanya sembilan kilogram saja. Tentu hal tersebut bukan merupakan hal yang lazim untuk anak yang sudah berusia delapan tahun. Disertai perasaan yang luar biasa sabar, Rahayu terus merawat buah hatinya itu. Ari juga diakuinya sangat jarang lepas dari gendongannya.

Selain sangat kurus, badan Ari juga tampak sangat kaku. Saking kurusnya, jika dilihat secara kasat mata di bagian kedua kaki dan tangannya yang terlihat hanyalah pemandangan seperti kulit yang menempel ke tulang. Akibat dari kondisi tersebut, dalam kesehariannya hampir tak ada aktivitas yang bisa dilakukan Ari. Hal itu diperparah karena ia tak mampu berjalan dan duduk sendiri seperti yang lain.

Bahkan dari pengakuan Rahayu (ibunya), Ari sesekali kerap menjerat di pangkuannya yang diselingi air mata yang jatuh dan menetes di pipi. Namun tak ada yang dapat mengerti apa yang menjadi keluhan Ari, sebab ia tak bisa berbicara. Yang hanya bisa dilakukan oleh Rayahu hanyalah mengelus tubuh anaknya tersebut sembari menahan perih melihat anaknya menjerit diiringi tangis.

Kepada wartawan, Rahayu mengungkapkan tak ada hal-hal yang mencurigakan dari awal kelahiran hingga pada proses pertumbuhan Ari, yang lahir dengan bobot hanya dua kilogram lebih saja. Akan tetapi, gejala-gejala terkait penyakit Ari baru mulai nampak beberapa bulan pasca lahir, yang dimulai saat Ari mengalami sakit demam yang diserta panas tinggi. “Jadi awalnya dia (Ari) terkena step, dan sudah dua kali,” katanya saat ditemui wartawan, Minggu (25/8).

Step yang pertama, kata Rahayu saat Ari menginjak usia tiga bulan, yang disusul dengan step ke dua pada usia delapan bulan yang membuat tumbuh kembang Ari mulai berubah dan terasa sangat lambat. Melihat kondisi itu pertama kali, Rahayu dan Julianto (suaminya) pun tak tinggal diam. Ari bahkan sempat dirawat dengan cara pengobatan tradisional.

“Awalnya kita tahu itu, yang kita coba lakukan adalah dengan pengobatan tradisional. Bahkan sudah dibawa kemana-mana, namun tetap tak ada perubahan,” ungkapnya.

Setelah berulang kali melakukan pengobatan tradisional dan tetap tak menemukan hasil, Rahayu dan Julianto akhirnya sepakat untuk membawa Ari ke Puskesmas, dengan harapan mendapatkan perawatan medis agar si buah hati bisa sembuh. Hasilnya, pihak Puskesmas saat itu mengatakan bahwa Ari ada masalah di saraf. “Dari Puskesmas bilang kemarin hanya masalah di sarafnya saja. Itu juga sudah enam tahun lalu saat Ari masih berusia dua tahun,” paparnya.

Mendengar kondisi tersebut, Ia dan sang suami kemudian hanya bisa pasrah dengan keadaan Ari setelah memutuskan untuk tak lagi membawa Ari ke rumah sakit. Keputusan itu bukannya tanpa alasan, namun karena orangtua Ari yang tak memiliki biaya, sebab ayah Ari (Julianto) yang hanya bekerja serabutan.

Sehingga kondisi tersebut harus memaksa Ari dibawa pulang dan hanya dilakukan perawatan seadanya saja. “Tentunya sebagai orangtua, kita sangat ingin bawa dia (Ari) berobat ke dokter. Tapi kembali lagi, itu kan perlu uang yang sangat banyak. Sedangkan kita tidak punya itu (uang),” katanya dibarengi haru.
Selama ini, kata dia, tak pernah ada bantuan dari pemerintah yang diterimanya dalam bentuk apapun.

Bahkan ketua RT setempat yang jelas-jelas mengetahui kondisi anaknya tersebut seakan hanya menutup mata dan tidak mau tahu soal warganya yang sedang kesusahan.

Begitu juga dari pihak Puskesmas yang tidak pernah berkunjung ke rumahnya untuk melihat perkembangan Ari. “Tak pernah dapat bantuan apa-apa. Waktu itu pernah ada bidan dari kabupaten saat kami masih ngontrak. Mereka juga foto-foto kondisi Ari, namun juga tak ada dampak apa-apa yang kami rasakan sampai saat ini,” timpalnya.

Padahal, kata Rahayu kondisi ekonomi keluarganya sedang begitu pelik. Dia tidak hanya dihadapkan dengan masalah kesehatan Ari. Namun juga masalah rumah kecilnya yang kian hari kian parah. Bagaimana tidak, rumah kecil miliknya yang hanya berlantaikan papan dan beratap daun itu memang sudah tampak sudah usang dan rusak.

Dia mengakui kalau hujan turun, Ia beserta keluarga kecilnya tersebut kerap kali kebasahan. Hal itu dikarenakan atap rumahnya itu sudah rusak. Hanya saja itu tak dianggap jadi masalah besar kala hujan turun, namun Ia tetap memikirkan bagaimana kondisi Ari agar bisa dipindahkan ketempat yang aman dan tak basah terkena air hujan.

Kedepan, dirinya pun berharap agar pemerintah terkait dapat meringankan beban yang dialami keluarganya itu. “Khususnya untuk pengobatan anak sayalah yang paling utama. Entah dirawat ke rumah sakit atau apa lah, yang penting Ari bisa cepat ditangani,” pungkasnya. (**)

Read Previous

Bupati Ajak Generasi Muda Lestarikan Budaya

Read Next

Pohon Durian Unggul Jangan Ditebang, Bibitnya akan Diperbanyak

Most Popular