Langkah Tepat Menangani Keracunan

Keracunan dapat disebabkan oleh makanan, obat, maupun gas yang dihasilkan dari berbagai hal. Ketika mengalaminya, perlu penanganan yang tepat agar tak berisiko mengancam nyawa. Bagaimana cara mengatasi keracunan?

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Dokter Umum Ryan Arifin menjelaskan tanda keracunan yang dialami seseorang berbeda-beda. Gejala Keracunan atau intoksikasi tergantung dari bahan penyebab keracunannya.

“Penting untuk mengenali penyebab keracunan. Beberapa gejala keracunan makanan misalnya akan muncul mual, muntah, atau diare setelah mengonsumsi makanan yang telah terkontaminasi,” kata Ryan.

Kontaminasi tersebut dapat disebabkan oleh kuman atau racun yang masuk ke dalam makanan. Kemudian, bisa juga racun yang masuk melalui saluran pernapasan misalnya dari mesin dan knalpot kendaraan, generator set (genset), kompor gas atau minyak, water heater, serta alat pemanggang yang menggunakan arang. Gasini  tidak memiliki rasa atau bau tertentu, dan berbahaya apabila terhirup dalam jumlah banyak. Jika terhirup, karbon monoksida akan berikatan dengan hemoglobin, yaitu bagian sel darah merah yang seharusnya mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Akibatnya, bila karbon monoksida terhirup dalam jumlah banyak akan terjadi hipoksia.

Saat sesak napas akibat keracunan karbon monoksida jangan diberi minum karena akan menyebabkan aspirasi. Air minum akan masuk ke paru sehingga akan berpotensi menimbulkan gagal napas. Usahakan bahan penyebab (karbon monoksida) dijauhkan dari penderita dan ruangan yang terkontaminasi. “Segera buka ventilasi ruangan agar karbon monoksida keluar ke udara bebas,” katanya.

Dokter di RSUD Abdul Aziz Singkawang ini menuturkan apabila terjadi keracunan makanan, mencegah dehidrasi adalah pertolongan pertama paling penting. Untuk mencegah dehidrasi penderita dapat minum air putih sedikit demi sedikit, serta menghindari makanan yang merangsang, seperti makanan pedas atau terlalu manis untuk mencegah muntah.

“Jangan minum obat antimuntah maupun antidiare tanpa anjuran dari dokter. Karena muntah dan diare sebenarnya merupakan respon tubuh untuk mengeluarkan racun yang masuk melalui makanan,” tutur Ryan.

Untuk mengatasi keracunan dibutuhkan penanganan medis. Keracunan akibat karbon monoksida yang masuk ke saluran napas dan menimbulkan gejala sesak napas merupakan kondisi gawat darurat sehingga lebih baik segera dibawa ke IGD RS untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

“Untuk keracunan makanan, bila gejala mual muntah dan diare memberat segera bawa ke unit gawat darurat segera,” ujarnya.

Apakah penanganan keracunan disesuaikan dengan usia? Lulusan Fakuktas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Untan Pontianak ini menjelaskan sebenarnya prinsip mengatasinya sama saja.

“Hanya dosis obat-obatan antidotum disesuaikan dengan berat badan dan kondisi khusus pasien (misal pasien hamil, pasien dengan kondisi gagal ginjal, pasien usia tua dan pasien anak-anak). Terpenting penting untuk segera membawa pasien keracunan ke fasilitas kesehatan. Jika tidak diatasi dengan baik dapat berakibat fatal,” pungkasnya.

loading...