Lawan Banyak Menekan

FOTO : Marcus Fernaldi Gideon–Kevin Sanjaya Sukamuljo

BASEL— Badminton lovers Indonesia sedang dilanda kekecewaan berat. Baru hari pertama turun lapangan, ganda putra nomor satu dunia Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo langsung digulung kekalahan. Padahal pasangan yang dijuluki Minions itu jadi harapan utama untuk merebut gelar juara dunia yang pertama kalinya tahun ini.

Di St. Jakobshalle kemarin, Marcus/Kevin takluk kepada pasangan Korea Selatan Choi Solgyu/Seo Seung Jae dalam tiga game yang berlangsung ketat, 21-16, 14-21, 21-23. Rasanya seperti diingatkan kembali ke All England 2019, di mana keduanya sudah angkat koper di babak 32 besar. Itu merupakan masa kelam bagi Minions. Tidak hanya gagal menciptakan hat-trick, dalam beberapa turnamen selanjutnya mereka juga didera kekalahan. Perlu dua bulan untuk mengembalikan kepercayaan diri mereka di lapangan.

Kegagalan Minions mengatasi pasangan peringkat ke-23 dunia itu jelas di luar dugaan. Terlebih mereka juga baru saja menjadi kampiun secara berturut-turut di Indonesia Open dan Japan Open. Memang harus diakui persiapan cukup mepet, tetapi itu bukan alasan. Sebagai ganda putra terbaik dunia, Marcus/Kevin sudah terlatih untuk tampil prima walau maraton turnamen sekalipun. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?

“Mereka banyak menekan kami. Bolanya nggak gampang mati. Kami banyak nggak siap, terlalu buru-buru. Sedangkan mereka memperlambat tempo jadi mengganggu permainan kami,” jelas Marcus seperti dikutip dalam siaran pers PP PBSI.

Apa yang disampaikan Marcus itu memang benar adanya. Tidak seperti biasanya, Minions terlalu banyak memberikan peluang kepada lawan untuk menekan sehingga permainan Choi/Seo semakin berkembang. Di sisi lain, lawan juga telah aklimatisasi dengan situasi lapangan. Pasangan ini harus terlebih dulu merangkak dari putaran pertama, berbeda dengan Marcus/Kevin yang mendapat bye.

Kans untuk lolos ke babak 16 besar sebenarnya terbuka lebar ketika mereka berhasil unggul di set pertama. Akan tetapi, keadaan malah berbalik dan membuat Minions terpaksa main rubber game. Pola permainan cepat yang sudah jadi ciri khas pasangan ini, akhirnya jadi bumerang bagi mereka. Sudah menyentuh math point terlebih dulu, Choi/Seo justru mengunci mereka dengan merebut tiga poin beruntun. Deuce tidak terhindarkan.

“Poin-poin akhir kami kurang tenang dan banyak melakukan kesalahan sendiri,” ucap Kevin. “Mereka bermain dengan sangat baik,” imbuhnya.

Marcus/Kevin jelas terpukul. Dibanding dengan dua edisi sebelumnya, Kejuaraan Dunia 2019 yang paling buruk hasilnya. Selama ini mereka selalu terhenti di babak perempat final. Tahun lalu keduanya sengaja disimpan supaya peak performance ada di Asian Games 2018. Seharusnya ini jadi peluang bagi Minions untuk melengkapi predikat mereka sebagai pasangan terbaik dunia.

Selain itu, kejuaraan dunia ini menjadi test case untuk ke Olimpiade Tokyo 2020. Barangsiapa yang mampu merebut predikat juara dunia di sini, dipercaya bakal meraih kesuksesan pada multievent terbesar di dunia itu. Beban itu sudah pasti menghantui Marcus/Kevin.
“Pasti ada (beban). Setiap turnamen pasti ada. Jadi lakukan yang terbaik saja,” ungkap Marcus.

Di sisi lain, Fitriani jadi wakil Indonesia selanjutnya yang mengikuti jejak suram Marcus/Kevin. Tetapi itu bukan hal mengejutkan sebab lawannya ialah unggulan kedua Tai Tzu Ying. Tunggal putri peringkat ke-28 dunia itu kalah mudah dengan skor 21-15, 21-14. (feb)

Read Previous

Finalis Bujang Dare Kunjungi Pontianak Post

Read Next

Dari Ospek Turun ke Hati

Most Popular