Lebih dari 300 Rumah Rusak Dampak Gempa magnitudo (M) 6,1

AMBRUK: Warga mengamati kondisi rumahnya yang rusak pascagempa di Jawa Timur, Sabtu (10/4). BNPB mencatat lebih dari 300 rumah rusak dan sedikitnya tujuh jiwa melayang. ANTARAFOTO

MALANG – Gempa dengan magnitudo (M) 6,1 berdampak pada kerusakan bangunan rumah di sejumlah wilayah di Provinsi Jawa Timur. Data BNPB, Sabtu (10/4), pukul 20.00 WIB,  lebih dari 300 rumah rusak dengan tingkatan berbeda, mulai dari ringan hingga berat.

Sedangkan kerusakan fasilitas umum antara lain 11 sarana pendidikan, tujuh kantor pemerintah, enam sarana ibadah, satu rumah sakit dan satu pondok pesantren. Sedangkan korban meninggal dunia, BNPB masih menunggu verifikasi dari BPBD. Data korban meninggal dunia untuk sementara berjumlah tujuh orang, luka berat dua dan luka ringan 10..

Sementara itu, BPBD Kabupaten Lumajang menginformasikan adanya titik pengungsian di Desa Kali Uling, Kecamatan Tempur Sari. BPBD masih melakukan pendataan jumlah warga mengungsi di lokasi pengungsian.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati mengatakan, berdasarkan dari data yang diperoleh beberapa wilayah yang terkena gempa tersebut, antara lain Kabupaten Malang, Blitar, Lumajang dan Kota Malang, guncangan gempa terjadi pada pukul 14.00 WIB.

“Terkait dengan parameter gempa, BMKG memutakhirkan parameter gempa M 6,1. Pusat gempa berada di laut dengan jarak 96 km arah selatan Kotan Kepanjen, Kabupaten Malang, Provinsi Jatim, dengan kedalaman 80 km,” ujar Raditya dalam keterangannya, Sabtu (10/4).

Raditya menambahkan, BPBD Kabupaten Malang menginformasikan guncangan dirasakan sedang hingga kuat selama 5 detik. Masyarakat setempat tidak panik. Sedangkan di Kota Malang, BPBD melaporkan guncangan selama 12 detik dengan intensitas sedang. Masyarakat panik dan berhamburan keluar bangunan.

“Hal serupa dirasakan masyarakat Blitar yang merasakan guncangan kuat selama 30 detik. Mereka berhamburan keluar bangunan karena panik. Di Lumajang, masyarakat di sana merasakan guncangan selama 20 detik. BPBD memantau masyarakat panik dan berhamburan keluar rumah,” katanya.

Beberapa BPBD di wilayah tersebut masih memonitor kondisi di lapangan pascagempa. Sementara itu, BMKG melaporkan guncangan gempa bumi dengan parameter MMI sebagai berikut, Turen V MMI. Skala V MMI menggambarkan getaran dirasakan hampir semua penduduk, orang banyak terbangun.

Wilayah Karangkates, Malang dan Blitar IV MMI. Skala ini menggambarkan bila pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah.

Selanjutnya, wilayah Kediri, Trenggalek, Jombang III-IV MMI dan Nganjuk, Ponorogo, Madiun, Ngawi, Yogyakarta, Lombok Barat, Mataram, Kuta, Jimbaran, Denpasar III MMI. Skala III MMI menggambarkan getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan akan truk berlalu.

Sedangkan wilayah lain, Mojokerto, Klaten, Lombok Utara, Sumbawa, Tabanan, Klungkung, Banjarnegara II MMI. Skala II MMI menggambarkan getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang.

Terpisah, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa gempa di selatan Malang memiliki kemungkinan sangat kecil untuk dapat memicu aktifnya gunung api.

“Kecuali gunung api tersebut memang sedang aktif. Jika gunung api sedang tidak aktif maka gempa tektonik akan sulit mempengaruhi aktivitas vulkanisme,” kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami, BMKG, Daryono di Jakarta, Sabtu.

Di samping itu, lanjut dia, gempa itu juga tidak cukup kuat untuk mengganggu kolom air laut sehingga tidak berpotensi tsunami.

Ia mengatakan mekanisme sumber gempa ini berupa pergerakan sesar naik (thrust fault).

“Mekanisme sumber sesar naik ini sebenarnya sensitif terhadap potensi tsunami, namun patut disyukuri bahwa gempa ini berada di kedalaman menengah dan dengan magnitudo 6,1 sehingga tidak cukup kuat untuk mengganggu kolom air laut, sehingga gempa ini tidak berpotensi tsunami,” ujarnya.

Ia menambahkan gempa selatan Malang ini juga bukan termasuk Gempa Megathrust, tetapi gempa menengah di Zona Beniof, karena deformasi atau patahan batuan yang terjadi berada pada slab lempeng Indo-Australia yang menunjam dan tersubduksi menukik ke bawah Lempeng Eurasia di bawah lepas pantai selatan Malang.

Ia menambahkan dampak gempa ini mencapai skala intensitas skala V-VI MMI (Sebagian besar dinding bangunan permanen roboh. Struktur bangunan mengalami kerusakan berat. Rel kereta api melengkung) sehingga gempa ini berpotensi merusak.

Ia juga menyampaikan, gempa ini memiliki spektrum guncangan yang luas yang dirasakan hingga daerah Banjarnegara di barat dan Bali di timur.

“Hasil monitoring BMKG hingga sore ini menunjukkan telah terjadi tiga kali gempa susulan (aftershock) dengan kekuatan kurang dari magnitudo 4,0 yang tidak berdampak dan tidak dirasakan,” katanya.

Ia menambahkan zona gempa selatan Malang itu merupakan kawasan aktif gempa dan sering terjadi gempa dirasakan.

“Catatan sejarah gempa menunjukkan bahwa gempa selatan Malang magnitudo 6,1 ini berdekatan pusat gempa merusak Jawa Timur yang terjadi pada masa lalu, pada tahun 1896, 1937, 1962, 1963 dan 1972,” paparnya.(jp/ant)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!