Perjuangan Anak Kepulauan Riau Meraih Sarjana 
Lebih Dekat Kuliah di Kalbar, Kapal Pelni Jadi Andalan

MENGAJAR: Tolhah, seorang guru honorer saat mengajar di SMA Negeri 1 Serasan Timur, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, belum lama ini. ISTIMEWA 

Mayoritas warga pulau yang tinggal di wilayah Kepulauan Riau memilih melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Kalimantan Barat. Jarak yang lebih dekat dan biaya yang murah, jadi alasannya. Mereka mengandalkan kapal laut Pelni sebagai moda transportasi. 

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

Tolhah masih setengah percaya, impiannya menjadi seorang guru akhirnya tercapai. Sambil senyum-senyum, matanya menerawang jauh, mengingat masa-masa sulit ketika menjadi mahasiswa pada 2014 hingga 2018 lalu. Pria 25 tahun itu bersyukur, semua bisa dilalui dengan baik.

“Kalau dipikir-pikir memang berat, tapi alhamdulillah cita-cita saya dari kecil ingin jadi pengajar tercapai, walaupun masih honorer,” katanya saat ditemui di rumahnya, di Pulau Serasan, Kecamatan Serasan, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, belum lama ini.

Tolhah

Bagi Tolhah yang tinggal di daerah Tertinggal, Terpencil, Terdepan dan daerah Perbatasan (T3P), tak banyak pilihan pekerjaan yang bisa dipilih. Sebagian besar warga di sana hidup dari mata pencaharian sebagai nelayan dan petani, termasuk kedua orang tuanya.

Sementara keinginannya menjadi guru mulai tumbuh saat ia tahu jumlah guru di daerahnya sedikit. “Waktu SMP, sekitar umur 14 tahun, saya baru sadar ternyata guru di daerah ini orangnya tak banyak. Padahal pendidikan penting, makanya saya ingin sekali jadi guru,” ujarnya.

Akan tetapi, untuk bisa menjadi guru, bukan hal mudah. Lulus SMA tahun 2014, Tolhah sempat kebingungan untuk melanjutkan pendidikan. Selain memikirkan biaya, tujuan untuk kuliah juga jauh. Jika ke ibu kota provinsi di Tanjung Pinang misalnya, butuh waktu tempuh dua hari menggunakan kapal laut.

Yang lebih dekat justru ke Kota Pontianak, Kalbar. Sama-sama menggunakan kapal laut, tapi hanya butuh waktu satu hari saja. Itulah mengapa banyak warga di Kepulauan Natuna memilih untuk melanjutkan kuliah ke Kalbar.

Dengan modal keyakinan yang kuat, Tolhah akhirnya memutuskan kuliah di Pontianak. Ia mendaftar ke Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) PGRI Pontianak, jurusan pendidikan geografi. Bermodal uang saku dari orang tua yang tidak banyak, bungsu dari tujuh bersaudara itu harus pandai-pandai berhemat di tanah rantau.

Empat tahun menempuh pendidikan di pulau seberang, ia merasa sangat terbantu dengan adanya layanan kapal perintis dari Pelni. Perjalanan seharian di laut yang awalnya dirasa melelahkan, lama kelamaan menjadi biasa. Selain paling dekat, biaya menggunakan Pelni juga paling murah.

Karena itu, ia lebih sering menggunakan kapal Pelni ketika mudik atau kembali ke Pontianak. “Biasanya menggunakan KM Sabuk Nusantara atau Bukit Raya milik Pelni, lumayan murah biaya sekitar Rp180 ribu. Cocok lah untuk mahasiswa, jadi hemat biaya,” ujarnya.

Begitu masuk kuliah, tekadnya memang bagaimana harus bisa cepat lulus. Ia tak ingin terlalu lama membebani orang tuanya. Sesuai rencana, Tolhah akhirnya bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu. Lulus di tahun 2018, ia langsung pulang kampung. Dan di tahun yang sama, ia diterima menjadi honorer komite di SMA Negeri 1 Serasan Timur, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.

Setahun kemudian, masih di sekolah yang sama, pria ramah itu diangkat sebagai guru honorer oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau. Ia merasa sangat senang cita-citanya menjadi guru bisa tercapai. Sejak 2019 hingga saat ini ia terus mendedikasikan diri, mengajar anak-anak pulau di kampung halamannya.

“Alhamdulillah senang bisa menjadi honorer pemerintah provinsi dan bisa membanggakan kedua orang tua,” pungkasnya.

Keberadaan kapal perintis Pelni yang beroperasi di wilayah T3P, juga dirasakan manfaatnya oleh Mia Audina. Ia adalah warga Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau yang juga pernah berkuliah di IKIP PGRI Pontianak. Wanita 24 tahun itu memilih kuliah ke Kalbar karena lebih dekat.

Dari pulau tempat tinggalnya, ia biasa menggunakan KM Sabuk Nusantara. Ia hanya cukup merogoh kocek sekitar Rp20 ribu untuk membeli tiket. Waktu tempuh dari Pulau Tambelan ke Pontianak kurang lebih selama 15 jam.

“Biaya menggunakan kapal Pelni lebih murah jika dibandingkan dengan kapal lainnya. Berbeda jika menggunakan kapal milik swasta, harga tiket sekitar Rp55 ribu hingga Rp70 ribu,” ungkapnya.

Sebenarnya, Mia sapaan karibnya bisa saja memilih kuliah di Tanjung Pinang. Tapi justru, jarak ke sana lebih jauh dan biayanya lebih mahal. Jika menggunakan kapal laut, perlu waktu sekitar 24 jam. Kalau ingin cepat bisa naik pesawat. Tapi harga tiketnya berkisar antara Rp370 ribu sampai Rp400 ribu.

“Makanya banyak warga kami (Pulau Tambelan) yang kuliah di Pontianak, dekat dan murah. Apalagi naik Pelni,” kata sarjana pendidikan yang lulus tahun 2020 itu.

Terpisah, Kepala Operasi PT. Pelni (Persero) Pontianak  Mulyadi  mengatakan, mayoritas warga yang tinggal di Kepulauan Riau memang lebih memilih melanjutkan pendidikan di Kalbar. Hal itu lumrah terjadi sejak tahun 80 an. Tepatnya pada awal kapal milik Pelni beroperasi di wilayah perairan Kalbar tahun 1983.

“Memang mayoritas masyarakat Kepulauan Riau menempuh pendidikan tinggi di Provinsi Kalbar,” ujarnya saat diwawancarai Pontianak Post, Senin (23/8).

Ada tiga kapal perintis milik Pelni beroperasi di daerah yang juga dikenal dengan sebutan Kepulauan Tujuh itu. Yakni KM Sabuk Nusantara 80 yang masuk ke pelabuhan Kota Pontianak. Kemudian dua kapal lainnya yakni KM Sabuk Nusantara 48 dan 83 masuk ke pelabuhan Sintete, Kabupaten Sambas.

Kapal perintis Sabuk Nusantara 80, beroperasi mulai dari Pulau Kijang, Kabupaten Bintan lalu masuk ke pulau-pulau kecil, kurang lebih ada 15 pulau, baru kemudian ke pelabuhan di Kota Pontianak. Lalu untuk KM Sabuk Nusantara 48 dan 83 yang melayani rute hingga pelabuhan Sintete, pangkalannya  berada di Tanjung Pinang.

“Dengan adanya tiga kapal (perintis) yang melayani daerah kepulauan tersebut, masyarakat tidak mesti harus menunggu (jadwal keberangkatan) lama. Tiga kapal tersebut juga telah diatur trayeknya supaya silang dan tidak beruntun. Jadi bisa lebih cepat,” terangnya.

Sejatinya program kapal perintis tersebut dicanangkan oleh pemerintah pusat untuk melayani wilayah T3P. Kapal-kapal itu disebut juga kapal tol laut khusus untuk penumpang. Untuk operasionalnya bersifat penugasan, dengan dana subsidi dari APBN. Itulah mengapa harga tiketnya bisa jauh lebih murah. “Apalagi yang kami layani memang merupakan masyarakat kelas menengah ke bawah,” katanya.

Mengenai kualitas pelayanannya pun, menurut Mulyadi setiap tahun terus meningkat. Di era kejayaan kapal laut sampai sekitar tahun 1995, dalam satu kapal dengan kapasitas dua ribu misalnya, saat itu bisa membawa sampai lima ribu ayau tujuh ribuan penumpang. Sehingga pelayanan yang diberikan tidak prima.

Tapi seiring dengan semakin terjangkaunya harga tiket pesawat, jumlah penumpang kapal terus menurun. Kondisi itu justru membuat pelayanan bisa semakin dimaksimalkan. Apalagi Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) telah mengeluarkan kebijakan, bahwa kapal laut wajib membawa penumpang  sesuai  dengan kapasitas.

“Jika kapal Lawit dengan kapasitas seribu orang lalu ditambah dispensasi menjadi 1.600  orang, maka Pelni hanya melayani jumlah tersebut. Terlebih dengan pandemi Covid-19 ini, hanya setengah dari kapasitas,” tutupnya. (*)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!