Lelah Perjalanan Terbayar Melihat Antusias Akseptor Yang Ingin Dilayani

Perjalanan ke Desa Sungkung usai diguyur hujan. Akses jalan yang rusak, membuat Desa Sungkung sulit dicapai. Foto istimewa

Beratnya Medan Petugas PLKB Menuju Sungkung

Medan yang sulit tidak membuat semangat Yunita Sari, seorang Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) honorer di Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang melemah. Baginya kepak lelah keringatnya, terbayar ketika melihat masyarakat datang berbondong-bondong untuk mendapatkan pelayanan pemasangan alkon.

MIRZA AHMAD MUIN, Bengkayang

DESA Sungkung, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang dulu sempat viral. Curhatan anak desa setempat yang meminta tas ke presiden melalui media sosial rupanya sampai ke istana negara. Sejak itu pula, Desa Sungkung mendadak jadi sorotan. Karena dari permintaan tas itu pula, akhirnya merembet pada persoalan akses jalan yang sulit.

Desa Sungkung sendiri, merupakan satu dari delapan desa yang berada di Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang. Delapan desa itu meliputi Desa Siding, Hlibuei, Tangguh, Tamong, Tawang, Sungkung 1, Sungkung 2 dan Desa Sungkung 3. Tempat dimana Yunita Sari, seorang Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) honorer bertugas.

Dari tahun 2016 bertugas. Hingga saat ini, ia betul-betul menikmati pekerjaanya sebagai PLKB. Menurutnya ada rasa kepuasan, ketika kepak lelahnya dihargai oleh masyarakat yang datang berbondong-bondong untuk mendapatkan pelayanan KB darinya.

Kecamatan Siding, kata dia beberapa desanya memang sulit dijangkau. Desa Sungkung salah satunya. Untuk menuju ke sana, ia tak bisa menggunakan motor sendiri. Medannya sangat sulit. Apalagi ketika cuaca ekstrim. Jalan kaki, mendorong motor hingga terjatuh pernah ia alami dan sudah menjadi pemandangan jamak bagi masyarakat setempat.

“Kita tak bisa pergi sendiri pakai motor. Kalau kesana, saya biasanya pakai ojek motor. Bersama-sama rombongan lain. Biaya pulang dan perginya besar bagi saya yang honorer. Kalau ditotal sejutaan. Itu belum biaya makan dan minum selama seminggu. Biasanya untuk makan dan minum disana, saya patungan dengan teman,” ujar Yunita kepada Pontianak Post, ketika menghadiri pelantikan kepengurusan IPeKB Kabupaten Bengkayang, belum lama ini.

Ia menuturkan, perjalanan ke Desa Sungkung, bisa memakan waktu 6 sampai 7 jam. Itu karena akses jalan baru dibuka. Sehingga banyak jalan rusak dan terjal ditemui. Sulitnya medan dan biaya yang besar pula, yang membuat kedatangannya ke Sungkung selama setahun bisa hitungan jari.

Biasanya momentum kegiatan besar ia manfaatkan untuk datang ke sana. Menurutnya dengan pergi bersama rombongan, biaya yang dikeluarkan juga sedikit ringan. Namun tak ditutupi, selama ia bertugas di Kecamatan Siding sejak 2016 lalu, tak jarang ia pergi ke sana (Sungkung) sendirian.

Menjadi petugas PLKB Di Kecamatan Siding bukan hal mudah. Dalam satu Kecamatan ia harus memegang delapan desa. Layaknya, di satu desa PLKB bertugas menangani dua atau tiga desa. Namun karena keterbatasan tenaga, membuatnya harus mengcover delapan desa sekaligus.

Jarak tempuh dan akses dibeberapa desa yang sulit memang menjadi kendala utama baginya. Guna mensiasatinya, ia juga melibatkan kader di desa setempat. Melalui kader-kader inilah, ia merasa tugasnya terasa ringan. Terlebih soal pendataan penduduk. Sinergi dengan Camat dan Kepala Desa pun selalu ia lakukan.

Namun untuk pemasangan alat kontrasepsi, tetap ia lakukan langsung. Terlebih untuk daerah-daerah yang sulit dijangkau, kedatangannya selalu ditunggu oleh masyarakat. “Untuk pemilihan alkon, mereka justru memilih menggunakan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP),” ungkapnya.

MKJP dipilih, karena masyarakat tidak ingin bolak-balik ke pelayanan kesehatan. Pertimbangan kuatnya, karena akses yang sulit. Dengan didatangi ramai masyarakat, bagi Yunita menjadi penambah semangat dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang PLKB honorer. Keringat dan kepak lelah ketika menuju kesana hilang ketika melihat masyarakat datang berbondong-bondong untuk meminta dipasangkan alkon jenis MKJP.

Ditanya program kependudukan, khusus di Kecamatan Siding kata dia cukup berhasil. Ia kerap digurau warga karena selalu menyarankan masyarakat untuk KB. Mereka takut, jika KB, bisa-bisa TK dan SD tutup dikarenakan angka kelahiran menurun. “Sebenarnya dengan mengatur jarak kelahiran, sebagai upaya perencanaan menuju keluarga bahagia sejahtera. Dengan perencanaan pula, kehidupan berumah tangga ke depan lebih terencana,” ujarnya.

Di tahun ini, dari datanya terdapat 180 orang di desa binaannya yang memasang alkon MKJP. Iapun tidak bakal bosan mensosialisasikan program Bangga Kencana kepada masyarakat. Menurutnya, bukan soal besar kecilnya gaji yang ia terima sebagai PLKB. Apa yang ia lakukan saat ini, merupakan wujud pengabdiannya kepada negara.(**)

error: Content is protected !!