Lembaga Anti Narkoba Kalbar, Akan Libatkan Pecandu dalam Penyuluhan Bahaya Narkoba

PONTIANAK- Sempat mengalami kevakuman, kepengurusan Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Anti Narkoba (LAN) Provinsi Kalimantan Barat periode 2020-2025 resmi berganti. Hendri Rivai, terpilih secara aklamasi dalam musyawarah yang digelar pada Rabu (29/7) malam.

“Alhamdulllah, saya dipercaya untuk menjadi Ketua DPD LAN Kalimantan Barat,” kata Hendri saat ditemui Pontianak Post, kemarin.

Dalam kesempatan itu, pria yang sehari-hari berprofesi sebagai advokat ini  mengakatan, Lembaga Anti Narkoba merupakan organisasi yang fokus pada program pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan peredaran narkoba.

Dijelaskan Hendri, pada prinsipnya, sistem kerja Lembaga Anti Narkoba tidak jauh berbeda dengan oraganisasi-oraganisasi yang bergerak di bidang pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan narkotika. Dimana, Lembaga ini bermitra dengan Badan Narkotika Nasional (BNN), yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 6 tahun 2010.

Intinya, kata Hendri, Lembaga Anti Narkoba Kalbar siap menjadi mitra strategis pemerintah, dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba, khususnya Kalimantan Barat.

Terlebih, tingkat kejahatan dan penyalahgunaan narkotika di Kalimantan Barat cukup tinggi. Apalagi, Kalimantan Barat merupakan provinsi yang berbatasan dengan Negara Malaysia, sehingga cukup rentan terhadap penyelundupan dan peredaran narkotika.

“Sebagai daerah yang berbatasan dengan Negara tetangga (Malaysia), Kalbar sangat rentan terhadap peredaran dan penyelundupan narkoba. Untuk itu, saya berharap lembaga ini dapat kontribusi positif bagi Kalimantan Barat. Terutama dalam program pencegahan dan pemberantasan narkoba,” tegasnya.

Dalam menjalankan tugasnya, Hendri akan berkoordinasi dengan BNN Provinsi Kalbar, Polri, Forkompinda, dan universitas. Termasuk membentuk dan mengukuhkan pengurus di tingkat cabang (kabupaten).

Hendri menyakinkan, jika posisinya sebagai Ketua DPD Lembaga Anti Narkoba Kalimantan Barat sekaligus advokat, ia tidak sembarangan akan mengambil klien. Terlebih untuk kasus kejahatan narkotika.

“Secara professional, saya memang bekerja sebagai advokat, siapa pun yang minta bantuan, saya akan bantu. Akan tetapi, karena saya sudah berberada di lembaga ini, maka saya akan memilah juga secara professional. Apakah dia korban narkotika atau penjual? Kalau dia ditangkap sebagai penjual atau kurir, ya saya berhak untuk menolak. Karena saya anggap dia adalah pelaku kejahatan,” katanya.

“Tetapi, jika dia korban, maka saya akan melakukan pembelakaan. Apalagi banyak korban pengguna narkoba  yang salah dalam penanganan hukumnya. Yang awalnya mereka korban, akhirnya menjadi penjual juga,” sambungnya.

Yang terpenting, lanjut Hendri, Lembaga Anti Narkoba ini tidak hanya bergerak pada bidang pencegahan dan pemberantasan, tetapi juga rehabilitasi. Sehingga, bisa membantu para korban penyalahguanaan narkoba untuk bisa sembuh dari jeratan barang haram itu.

Hendri juga mengatakan, pihaknya juga akan melibatkan para mantan pencandu narkoba dalam upaya pencegahan dan penyuluhan kepada masyarakat.

“Kedepan, kami juga akan melibatkan para mantan pecandu narkoba, untuk sosialisasi dan penyuluhan bahaya narkoba kepada masyarakat,” pungkasnya. (arf)

loading...