Lepasnya Retina dari Posisi Asli

Retina mata merupakan bagian penting yang berfungsi memproses cahaya yang ditangkap oleh mata. Cahaya akan diubah menjadi sinyal listrik dan diteruskan ke otak. Kemudian diproses di dalam otak dan diinterpretasikan sebagai gambar yang dilihat oleh mata. Tapi, bagaimana jika retina tersebut terlepas dari mata? Apa saja dampak buruknya?

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Ablasio retina. Gangguan pada mata ini masih terdengar awam di telinga masyarakat. Namun, tidak bagi Angga Dinata. Sang istri, Ayudia pernah didiagnosa ablasio retina. Bahkan, hal ini sempat membuat keduanya merasa terpuruk, khususnya sang istri yang merasa takut jika matanya tidak bisa sembuh.

Kisah ablasio retina yang dialami bermula ketika Ayudia atau biasa disapa Ayu mengeluh mata kanannya tidak dapat melihat dengan baik. Menurut pengakuan Ayu, ketika dia sedang memandang atau menatap lawan bicara, bagian mata seperti tertutup tirai. Ada bagian-bagian yang hilang.

“Saya berfikir itu mungkin hanya masalah mata biasa. Bisa saja karena terlalu lelah. Tapi, karena takut saya memutuskan membawa istri ke rumah sakit terdekat,” ucapnya.

Kala itu, dokter menyarankan memeriksakan mata Ayu ke dokter spesialis mata. Dokter sudah mengindikasi jika sang istri mengalami masalah pada mata kananya. Hasil dari pemeriksaan menunjukkan Ayu terindikasi ablasio Retina pada mata kanannya. Penyebabnya karena minus tinggi pada mata bagian kanannya. Ditambah lagi beberapa waktu lalu Ayu juga menjalani aktivitas olahraga yang cukup berat.

“Retinanya yang tipis ini menjadi mudah robek. Kini, Ayu tengah menjalani pengobatan agar retinanya dapat normal kembali,” kata Angga.

Dokter spesialis mata, Sri Yuliani Elida mengatakan ablasio retina adalah salah satu penyakit mata yang kerap menjadi kekhawatiran banyak orang. Sebab, kondisi berupa terlepasnya retina atau selaput jala dari posisi aslinya (lepasnya retina dari lapisan dalamnya) ini bisa membuat mata buta secara permanen.

Ablasio retina bisa dilihat berdasarkan penyebabnya. Ablasio retina terbagi dalam tiga jenis, yakni regmatogen, traksional dan eksudatif. Ablasio regmatogen adalah jenis ablasio yang paling kerap dijumpai. Retina orang yang mengalaminya akan berlubang, robek atau rusak.

Penyebab ablasio retina regmatogen adalah menurunnya kualitas tubuh vitreous atau badan bening di mata lantaran usia yang makin tua. Akibatnya, gel vitreous keluar ke bagian bawah retina hingga lama-kelamaan mengendap. Endapan vitreous lantas membuat retina tertarik dari lapisan yang menopangnya.

“Retina tak lagi mendapat asupan nutrisi yang cukup dan membuat kemampuan penglihatan berkurang,” kata Elida.
Ablasio retina traksional jarang terjadi. Penyebab ablasio retina ini karena adanya jaringan parut yang tumbuh secara abnormal pada permukaan retina. Jaringan ini lambat laun membuat retina lepas dari lapisan yang menaunginya. Pada level tertentu, penderita bisa sangat terganggu karena hilangnya penglihatan.

Elida menuturkan orang yang rentan menderita ablasio traksional adalah para pengidap diabetes yang pada saat yang sama mengalami retinopati diabetik akut. Pengidap diabetes melitus yang tidak menjalani pengobatan secara konsisten dan menyeluruh bisa mengalani masalah pada sistem vaskular retina.

“Masalah itulah yang kelak membuat jaringan parut tumbuh abnormal dan mempengaruhi retina. Bila tak segera diatasi, jenis ablasio retina tersebut bisa menyebabkan kebutaan total,” tuturnya.

Ablasio retina eksudatif dipicu oleh radang atau tumor koroid. Koroid adalah selaput yang banyak mengandung pembuluh pada mata. Dokter di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Pontianak ini menjelaskan penyakit ini muncul, cairan vitreous menumpuk di rongga mata tanpa adanya lubang atau robekan.

“Posisi retina bisa terangkat akibat menumpuknya cairan atau eksudat (campuran serum, sel, atau sel yang rusak yang keluar dari pembuluh darah) yang muncul karena peradangan,” jelasnya.

Gejala ablasio retina tidak meliputi rasa sakit yang berlebihan meski mata terlihat dalam kondisi memprihatinkan. Orang yang menderita ablasio retina hanya menunjukkan gejala, seperti penglihatan terhalang objek seperti tirai transparan yang menutupi mata akibat keruhnya vitreous oleh darah.

Muncul seperti kilatan-kilatan cahaya secara mendadak saat melihat (fotopsia), biasanya dalam keadaan gelap. Muncul floater atau bintik-bintik kecil yang melayang-layang ketika melihat. Penglihatan mulai kabur. Penurunan ketajaman penglihatan dan mata terasa berat.

Lantas apa penyebab ablasio retina? Elida mengungkapkan ablasio retina dapat disebabkan oleh penyakit diabetes, trauma, benturan serta metastase tumor. Selain itu, seseorang dengan indikasi minus mata yang sangat tinggi juga mudah terserang ablasio retina. Karena retinanya tipis dan mudah robek.

“Maka dari itu, penderita mata minus tidak diperkenankan melakukan aktivitas olahraga yang berat, seperti menyelam, taekwondo, karate dan lainnya,” ungkapnya.

Umumnya, akan dilakukan prosedur operasi untuk mengatasi ablasio retina. Dokter akan memilih metode operasi yang tepat sesuai dengan kondisi yang dialami setiap pasien. Sebab, tidak semua kondisi ablasio yang dialami sama. Begitu pula jenisnya. Terdapat lima jenis operasi penanganan ablasio retina.

Pertama, laser atau fotokuagulasi. Dengan metode ini, sinar laser ditembakkan melewati lensa menuju area retina yang robek. Sinar laser kemudian membuat jaringan parut yang akan menempel pada jaringan lain yang telah robek.
Kedua, cryosurgery. Prosedur bedah yang juga sering disebut cryopexy atau cryotherapy ini dilakukan dengan mendinginkan retina untuk menghancurkan jaringan yang abnormal atau rusak. Operasi ini memunculkan bekas luka tipis yang akan menyambungkan retina ke posisinya kembali.

Ketiga, scleral buckling. Dokter akan menjahit semacam kumpulan karet silikon pada sklera yang lokasinya di bagian luar putih mata. Jahitan ini dibuat permanen.

Keempat, vitrektomi. Dokter akan mengambil gel vitreous dari mata dan menggunakan gelembung gas atau minyak silikon sebagai penopang retina. Cairan pengganti itu harus diambil 2-8 bulan setelah operasi.

Kelima, pneumatic retinopexy. Metode ini bisa digunakan jika kadar ablasio retina belum terlalu parah. Dokter akan membekukan area retina yang rusak untuk memasukkan gelembung ke rongga vitreous. Retina bakal terdorong dan menempel ke posisi semula. **

loading...