Lima Mahasiswa Fisip Jadi Korban Kekerasan Aparat

Winda, salah satu peserta mahasiswa menjadi korban saat aksi tolak UU Omnibuslaw Cipta Kerja.

PONTIANAK – Lima orang mahasiswa Fakults Ilmu Sosial dan Politik Universitas Tanjungpura (Fisip Untan), diduga menjadi korban kekerasan aparat, pada aksi menolak Undang undang Omnibus Law, di bundaran Digulis, Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Pontianak Selatan, pada Rabu (28/10) malam.

Tindakan kekerasan itu, dikutuk Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fisip Untan.

Pelaksana tugas (Plt) Presiden Mahasiswa BEM Fisip Untan, Muhammad Budi Alfarizi mengungkapkan beberapa peserta aksi dari Fisip Untan sempat ditahan dan mengalami luka serius setelah dipukul oleh pihak Kepolisian.

“Kami Keluarga Besar Fisip Untan menyayangkan sikap represif aparat yang membuat rekan-rekan kami terluka serta menahan tanpa alasan yang jelas,” kata Budi Alfarizi.

Dia mengungkapkan, setidaknya ada lima mahasiswa Fisip Untan yang sempat ditahan polisian, namun sudah dilepaskan. Pihaknya juga menyesalkan pihak kepolisian yang sempat melepas atribut sebagai tanda pengenal yang digunakan mahasiswa.

Budi Alfarizi, menyayangkan komentar Polda Kalbar dibeberapa media yang menyatakan tidak ada melakukan pemukulan pada massa aksi. Padahal dari mahasiswa Fisip sendiri saat ini masih ada dua orang yang terluka dan masih dirawat di Rumah Sakit.

“Sangat aneh bila dikatakan tidak ada pemukulan , padahal 2 orang ini sebelum ditarik pihak kepolisian dari lapangan dalam kondisi baik-baik saja. Tapi setelah ditangkap mereka harus mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit,” ungkapnya.

BEM Fisip Untan sendiri menuntut agar Polda Kalbar memberikan sanksi tegas kepada oknum anggotanya, yang melakukan kekerasan kepada peserta aksi.

Dia menyatakan, keadilan harus ditegak tanpa pandang bulu, sehingga tidak ada yang ada namanya seorang yang kebal hukum, sekalipun dia ada penegak hukum.

Salah satu Mahasiswa Fisip Untan yang menjadi korban tindakan kekerasan, yang diduga dilakukan oknum polisi saat pengamanan adalah Winda Darmawan mengatakan, dirinya mengalami luka-luka karena tindak kekerasan aparat kepolisian yang mengamankan aksi demontrasi.

Winda bercerita pada awalnya dia berniat membantu temannya yang tertangkap, ketika terjadi kericuhan antara peserta aksi dan aparat kepolisian. Saat itulah dirinya langsung mendapat tindakan kasar dari aparat yang tidak menggunakan seragam.

“Ada polisi tidak pakai seragam datang langsung nendang saya sampai jatuh. Terus saya ditarik ke kerumunan polisi, disitu saya dipukul, sampai saya hampir tak sadarkan diri,” ungkap dia.

Winda menceritakan pada saat posisinya hampir tidak sadarkan diri, dia masih mendapat perlakuan tidak mengenakan, seperti dimaki dan dilempar pakai botol.

“Ada enam sampai tujuh orang orang polisi tidak berseragam maupun berseragam memukul saya,” tuturnya.

Dalam kondisi setengah sadar tersebut, lanjut Winda, dia mendapat bantuan dari satu peserta aksi dan beberapa tim medis. Bahkan rekan Winda yang menolong sempat mendapat perlakuan sama dari pihak kepolisian.

“Kawan saya yang datang dihalangi untuk membantu. Beruntung saya berhasil dibawa sampai samping sekretriat. Kawan yang bantu dipukul, bahkan tim medis satu orang dipukul,” ungkapnya.

Winda sendiri saat ini sedang mendapatkan perawatan itensif di Rumah Sakit. Dia mengalami luka diatas plipis kanan, bagian belakang badan, dan benjolan di bagian kepala belakang.

Winda menerangkan, di sekretariat UKM, ia diberi minum dan luka-lukanya diobati. Setelah muntah-muntah, langsung dilarikan ke rumah sakit.

“Dari hasil pemeriksaan yang dijelaskan dokter, saya mengalami gejala typus. Aneh, karena sebelum demontrasi saya masih dalam keadaan sehat,” katanya.

Winda berharap, kedepan polisi tidak bersikap represif dalam mengamankan aksi demontrasi Mahasiswa. Jangan semena-mena memukul peserta aksi.

Aliansi Mahasiswa Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera) mengecam tindakan kekerasan yang dilakukan aparat. Polisi melakukan tindakan brutal dengan memukul dan menangkap paksa peserta aksi.

Kordinator Lapangan Ampera, Ansarrudin mengatakan, Dari data yang dikumpulkan terdapat16 orang mahasiswa yang ditangkap pada aksi dan sudah di lepaskan. Dari 16 orang yang di tangkap sebanyak 10 orang mahasiswa mengalami luka ringan hingga berat.

“Mahasiswa yang mengalami luka berat ada tiga orang dan sempat di larikan ke rumah sakit,” kata Ansarrudin.

Menurut dia, daei keterangan korban tindakan tersebut berasal dari aparat. Bahkan sampai saat ini ada yang masih dirawat di rumah sakit, karena mengalami luka serius, akibat tindak kekerasan oleh kepolisian.

Dia menyesalkan, sikap anggota Polda kabar yang seakan-akan cuci tangan dari kejadian aksi kemarin. Polisi menyebutkan bahwa tindakan refresif itu bukan berasal dari kepolisian. Pertanyaannya ?, lalu siapa lagi yang melakukan itu. Kemudian membuat pernyataan seolah-olah korban aksi yang dilarikan ke rumah sakit bukan karena tindakan brutal aparat tapi karena penyakit bawaan.

Dia menegaskan, bahwa mahasiswa yang mengalami luka ringan dan luka berat hingga di bawa ke rumah sakit adalah akibat dari tindakan refresif aparat yang brutal ketika melakukan pengamanan.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Kalbar, Kombes Pol Donny Charles Go mengatakan, aksi unjuk rasa sempat diwarnai ricuh saat menjelang malam hari.

“Sempat terjadi kericuhan saat menjelang malam, diawali dari pembakaran ban oleh pengunjuk rasa yang menganggu lalu lintas di sekitar lokasi” kata Donny.

Dia menjelaskan, bahwa awal mula pihak kepolisian masih memberikan toleransi kepada pengunjuk rasa yang melakukan aksinya melebihi waktu yang ditentukan. Namun terjadi dorongan saat pendemo mulai ingin menutup jalan dan melakukan pembakaran ban.

Setelah pukul 18.00, lanjut Donny, masa mencoba untuk menutup salah satu ruas jalan dan melakukan pembakaran ban dan dengan sengaja ban tersebut didorong ke arah petugas. Disaat itulah terjadi dorongan antara petugas dan massa.

Donny mengungkapkan, sempat ada suara letupan yang berasal dari tempat berbeda disekitar kerumunan pendemo. Letupan itu menimbulkan asap tebal yang mengakibatkan formasi mahasiswa dan aparat keamanan tercerai berai.

Selanjutnya petugas kepolisian memisahkan mahasiswa dan massa yang melakukan pembakaran tersebut dengan tujuan mengantisipasi adanya provokator atau penyusup.

“Ada 15 orang yang sempat diamankan di sekitar lokasi pembakaran ban, namun setelah dilakukan introgasi awal ternyata semuanya adalah mahasiswa sehingga saat itu juga dikembalikan ke korlap” jelasnya

Donny memastikan, selama pengamanan pihak kepolisian tidak ada yang melakukan pemukulan terhadap pendemo. Ia juga menyebutkan sebelum pelaksanaan pengamanan unjuk rasa seluruh personel diberikan arahan untuk bersikap humanis bahkan personel dilarang untuk membawa senjata api.

Beberapa jam paska aksi unjuk rasa tersebut, Donny menyebutkan, terdapat duq mahasiswa dan satu anggota kepolisian yang mendapatkan perawatan medis di rumah sakit Bhayangkara.

Dari laporan, lanjut dia, saat ini ada dua mahasiswa yang dirawat di rumah sakit Bhayangkara karena mengidap penyakit asma dan mengalami luka lecet yang tidak diketahui penyebab lukanya.Sedangkan untuk korban dari petugas kepolisian ada dua orang. Salah satunya Karo Ops Polda Kalbar Kombes Pol Suyanto.

*Adapun korban dari pihak kepolisian diduga terkena lemparan dalam bentuk serbuk yang mengenai mata sehingga harus mendapatkan perawatan kesehatan,” pungkasnya. (adg)

error: Content is protected !!