Lirik Usaha Madu Kelulut

///PETANI KELULUT: Abdul Gani saat menunjukkan rumah kelulut miliknya kepada Kepala Bappeda Kartiyus dan Sekda Yosepha Hasnah, baru-baru ini. HUMASKAB FOR PONTIANAK POST///

TERNAK kelulut mulai dilirik masyarakat sebagai salah satu usaha yang dapat meningkatkan ekonomi. Karena madunya berkhasiat bagi kesehatan dan memiliki nilai ekonomi tinggi.

Seperti yang dilakukan warga Baning Panjang, Kecamatan Kelam Permai, Abdul Gani. Ia mengatakan, melihat hutan semakin habis, kalau kelulut tidak dikembangkan, maka akan punah. “Maka kita inisiatif untuk membeli induk kelulut dan kita satukan di sini untuk dikembangkan,” katanya.

Ia mengatakan membeli induk kelulut itu rata-rata 300 ribu perpohon yang diambil dari tengah hutan di Desa Ransi Panjang, Ensaid Panjang, Sungai Maram dan Baning Panjang. Saat ini, usia peternakan kelulut milik Abdul Gani sudah berusia 2 tahun, serta sudah menghasilkan madu.

Dalam satu sarang, bisa menghasilkan setengah liter madu kelulut. Terkait waktu panen, tergantung bunga yang ada. Maka di sekeliling sarang, Abdul Gani tanami dengan bunga-bungaan. “Setelah madunya diambil, 15 hari kemudian sarang sudah terisi lagi dengan madu yang baru,” ujarnya.

Ia mengaku pernah sekali panen menghasilkan 50 liter. Harga jualnya pun menarik, mulai Rp400 ribu perliter hingga Rp800 ribu untuk luar pulau.

Terkait rasa, Abdul Gani menjelaskan, madu kelulut ini ada percampuran rasa manis, asam, dan pahit. Tiga rasa menjadi satu karena tergantung sumber makananya atau tanaman bunga yang tersedia. Madu kelulut ini juga memiliki khasiat untuk mengobati kulit yang gatal-gatal.

Kepala Bappeda Kabupaten Sintang, Kartiyus pun ikut datang ke peternakan milik Abdul Gani. Ia mengatakan, usaha ternak kelulut sebagai penerapan dari konsep ekonomi lestari yang selalu digaungkan oleh Bupati Sintang. “Konsep dan penerapan ekonomi lestari yang dimaksudkan oleh Bupati Sintang itu ya seperti ini sebenarnya,” pungkasnya. (ris)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!