Lulusan SMK dan Menjawab Tantangan Tenaga Kerja di Masa Pandemi

Oleh :  Chr. Marcieny

Pada masa new normal, roda ekonomi dan kebutuhan tenaga kerja diprediksi tidak sama lagi. Banyak peluang baru, baik di perusahaan maupun sektor usaha bakal bergeser kepada mereka yang menguasai kompetensi dan keterampilan khusus untuk mengisi pasar.Kompetensi dan keterampilan tersebut tidak lain dimiliki oleh lulusan pendidikan vokasi, seperti lulusan diploma di jenjang pendidikan tinggi dan lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) di jenjang pendidikan menengah. keterampilan lulusan SMK juga sangat dibutuhkan guna membangkitkan kembali berbagai bidang usaha pasca-pandemi Covid-19.

Di tengah  isu angka pengangguran yang katanya bakal tembus di angka 5 juta orang akibat pandemi Corona, lulusan SMK pun harus menjawab tantangan pasar kerja yang makin kompetitif. Tugas guru dan sekolah adalah menciptakan peluang bagi siswa untuk berkreasi dan berkembang sesuai dengan minat dan bakatnya, serta mendukung unit usaha yang dikerjakan siswa. Karena tanpa dukungan semua pihak, lulusan SMK mungkin tak bedanya dengan anak SMK yang lebih punya kecenderungan untuk bekerja pada orang lain.

Pembicaraan tentang soft skills tidak dapat dilepaskan dari pengertian kompetensi. Kompetensi dapat diartikan sebagai motif, sikap, keterampilan, pengetahuan, perilaku atau karakteristik pribadi lain yang penting untuk melaksanakan pekerjaan atau yang membedakan antara kinerja rata-rata dengan kinerja superior.

Spencer and Spencer (Idawati, 2004) mengemukakan kompetensi khususnya kompetensi kerja terdiri dari 5 komponen. Komponen tersebut adalah: (1) Knowledge, yaitu ilmu yang dimiliki individu dalam bidang pekerjaan atau area tertentu, (2) Skill, yaitu kemampuan untuk unjuk kerja fisik atau mental, (3) Self Concept, yaitu sikap individu, nilai-nilai yang dianut serta citra diri, (4) Traits yaitu karakteristik fisik dan respon yang konsisten atas situasi atau informasi tertentu, dan (5) Motives yaitu pemikiran atau niat dasar yang konstan yang mendorong individu untuk bertindak atau berperilaku tertentu Skill dan knowledge sering disebut hard skills, sedangkan self concept, traits dan motives disebut soft skills.

Dalam menghadapi era global dengan akselerasi yang cepat maka diperlukan tenaga kerja yang tidak hanya mempunyai kemampuan bekerja dalam bidangnya (hard skills) namun juga sangat penting untuk menguasai kemampuan menghadapi perubahan serta memanfaatkan perubahan itu sendiri (soft skills). Oleh karena itu menjadi tantangan pendidikan untuk mengintegrasikan kedua macam komponen kompetensi tersebut secara terpadu dan tidak berat sebelah agar mampu menyiapkan SDM utuh yang memiliki kemampuan bekerja dan berkembang di masa depan.

Integrasi soft skills dalam proses pendidikan di SMK merupakan langkah strategis yag perlu segera dilakukan guna menghasilkan lulusan yang benar-benar dibutuhkan oleh pihak industri.

Langkah ini sekaligus sebagai upaya meningkatkan relevansi kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja/industri. dengan mengintegrasikan soft skills dalam kurikulum, proses pembelajaran dan iklim budaya sekolah diharapkan SMK mampu menghasilkan lulusan paripurna yang memiliki kemampuan utuh berupa hard skills yang terintegrasi dengan soft skills yang diperlukan dalam kehidupannya.

Mengingat pentingnya integrasi soft skills dalam proses pendidikan, perlu dikembangkan pola-pola implementasi integrasi soft skills dalam proses pendidikan diSMK. Setiap SMK hendaknya mampu mengembangkan model yang sesuai dengan karakteristik sekolah.

Salah satu sistem pelatihan kompetensi pada pendidikan kejuruan adalah sistem magang bagi siswa SMK. Di Jerman sistem ini disebut dual siytem dan di Australia disebut dengan apprentice system. Di Indonesia, sistem magang pada SMK operasionalnya disebut dengan Pendidikan Sistem Ganda  dan saat ini sering disebut sebagai Praktik Kerja Industri (Prakerin) yang merupakan bagian dari PSG pada SMK.

Prakerin merupakan bagian dari program bersama antara SMK dan Industri yang dilaksanakan di dunia usaha dunia industri (DUDI). Pendidikan kejuruan adalah suatu program pendidikan yang menyiapkan individu peserta didik menjadi tenaga kerja profesional maupun untuk dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 15 disebutkan bahwa pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik untuk bekerja dalam bidang tertentu.

Menyiapkan tenaga kerja sesuai kebutuhan DUDI menjadi pusat perhatian pendidikan kejuruan. Untuk itu, pemerintah telah menerapkan konsep link and match dalam penyelenggaraan pendidikan kejuruan. Perubahan dari pendidikan berbasis ganda sesuai dengan kebijakan link and match, mengharapkan supaya program pendidikan kejuruan itu dilaksanakan di dua tempat. Sebagian program pendidikan dilaksanakan di sekolah, yaitu teori dan praktik dasar kejuruan. Sebagian lainnya dilaksanakan di dunia kerja, yaitu keterampilan produktif yang diperoleh melalui learning by doing.

Wardiman menyebutkan bahwa pelaksanaan pembelajaran komponen pendidikan adaktif, dan teori kejuruan menjadi tanggung jawab sekolah. Komponen pendidikan praktik dasar profesi dilaksanakan antara sekolah dengan dunia usaha/industri pasangannya, sedangkan komponen pendidikan praktik keahlian profesi menjadi tanggung jawab institusi pasangan masing-masing sekolah dalam pelaksanaan prakerin. Dengan demikian, kemitraan SMK dengan dunia usaha dan industri bukan lagi merupakan hal penting, tetapi merupakan keharusan.

Empat konsep yang menjadi bagian penting dari pelaksanaan praktik kerja industri adalah (1) partnership, (2) flexibility, (3) relevance, (4) accreditation. Pelaksanaan prakerin bukan sekedar penempatan siswa pada industri dan mendapatkan pengalaman bekerja, namun diharapkan sekolah dapat menyediakan kebutuhan industri akan sumber daya yang memiliki keterampilan dasar sebagai modal awal bagi siswa untuk dapat dilibatkan dalam pengalaman kerja dan berinteraksi dengan karyawan lainnya. Karena itu perjanjian kerjasama antara sekolah dan industri seharusnya mencakup kemampuan siswa untuk dapat bekerja dan membantu perusahaan dalam meningkatkan produksinya.

John Oxenham mengatakan bahwa apabila lulusan suatu sekolah tidak dapat dipekerjakan atau memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan jenis dan tingkat pendidikan yang dimilikinya, sekolah atau guru-guru dianggap tidak berhasil dengan tugasnya.

Hal ini berarti sekolah dianggap tidak mampu memenuhi kebutuhan masyaakat atau dunia kerja. Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan kejuruan adalah peningkatan keterkaitan dan keterpaduan (link and match) dalam implementasi Pendidikan Sistem Ganda (PSG). Dalam hal ini, guru-guru yang terlibat secara langsung dalam pelaksanaan On job Training (OJT). Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa Pendidikan Nasional merupakan suatu sistem pendidikan yang terpadu yang mencakup semua jenis, satuan, jalur, jenjang, dan kegiatan pendidikan yang berkaitan satu sama lain, ditata secara sistematis sebagai upaya untuk mencapai tujuan Pendidikan Nasional. Salah satu jenis sekolah lanjutan tingkat atas yang sekarang mendapat perhatian khusus dari pemerintah adalah SMK. Isi pendidikan sekolah kejuruan itu berkaitan langsung dengan proses industrialisasi atau dunia usaha, terutama jika dikaitkan dengan fungsinya sebagai produsen tenaga kerja menengah terampil.

Finch, C.R. & John. R.C. menyatakan perlunya melakukan identifikasi dan seleksi kurikulum, pengembangan materi kurikulum, dan pengembangan paket-paket yang didasarkan atas kompetensi dan pengajaran individual. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan kurikulum SMK yang berorientasi kepada sistem ganda, perlu dilakukan identifikasi dan pemilihan materi pengajaran yang relevan dengan dunia kerja atau dunia industri. Selain itu, harus dilakukan pengembangan materi secara terpadu yang disesuaikan dengan tuntutan dunia usaha atau dunia industri melalui pengembangan paket-paket belajar atau modul.

Penerapan kebijaksanaan link and match pada hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan lapangan kerja. Hal ini sebagai usaha untuk mencari titik temu antara dunia pendidikan sebagai produsen dan dunia kerja/industri sebagai konsumen. Menurut Pakpahan, tujuan gerakan link and match adalah untuk mendekatkan pemasok (supplier) dengan mutu sumber daya manusia, terutama yang berhubungan dengan kualitas ketenagakerjaan. Sedangkan konsep dasar penerapan pendidikan sistem ganda itu sendiri adalah penyelenggara pendidikan yang mengintegrasikan secara tersistem kegiatan pendidiakan di sekolah dengan kegiatan pendidian (praktek) di dunia industri.

Apa yang sebenarnya harus kita lakukan terhadap SMK? hal mendesak yang harus dibenahi adalah soal disiplin dan etos kerja. Bagi perusahaan itu lebih penting daripada kemampuan teknis. Ironisnya, citra SMK justru jauh dari itu. Citra SMK justru adalah tidak disiplin, dan nyaris identik dengan kenakalan dan kebrutalan.

Di samping perbaikan kurikulum, membenahi materi yang diajarkan, SMK perlu diubah dalam hal pendekatan. Ini bukan SMA biasa. Ini adalah tempat membina para calon pekerja industri. Para siswa harus dididik untuk sejak awal mengenal apa dan bagaimana industri manufaktur itu. Yang lebih penting adalah, mereka harus dididik soal bagaimana seorang pekerja manufaktur harus bersikap. Kita memerlukan SMK dengan pendekatan khusus untuk membentuk disiplin, motivasi, dan etos kerja. Semoga dimasa Pandemi ini lulusan SMK masih bisa menjawab kebutuhan tenaga kerja menengah terampil yang diperlukan oleh industri.

*) Penulis adalah Kepala SMKN 1 PUTUSSIBAU

 

error: Content is protected !!