Mahasiswi UGM Ungkap DNA Rumah Tinggal Tradisional Melayu Kalbar

UJIAN TERBUKA : Ujian Terbuka Promosi Doktor Indah Kartika Sari, Mahasiswi Fakultas Teknik UGM, yang digelar secara virtual dan disaksikan oleh Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji, Senin (27/7). ISTIMEWA

Bisa Menjadi Basis Data Pengembangan Rumah Tinggal Arsitektur

DNA Arsitektur Rumah Tradisional Melayu di Kalimantan Barat (Kalbar,) menjadi judul disertasi oleh Indah Kartika Sari, Mahasiswi Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada (UGM). Putri asal dari Kalbar ini menggelar Ujian Terbuka Promosi Doktor Arsitektur di hadapan para penguji, dengan penguji tamu kehormatan Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji.

SITI SULBIYAH, Pontianak

Ujian terbuka tersebut digelar secara daring di Balai Petitih Kantor Gubernur Kalbar, Senin (27/7). Tak hanya gubernur, Ketua MABM Kalbar, Chairil Effendy, serta arsitek senior, Yori Antar, turut menjadi penguji tamu dalam ujian terbuka tersebut.

Dalam paparannya, Indah menyatakan bahwa penemuan penelitian DNA arsitektur ini dapat mengembangkan praktek dalam ilmu arsilektur, yakni melalui pendekatan DNA arsitektur yang dapat dilakukan penelusuran identitas dalam replikasi arsitektur. Identitas yang ditemukan itu dapat menjadi basis data dalam memetakan keanekaragaman arsitektur.

“Dalam hal arsitektur tradisional, data identitas dari temuan DNA arsitektur dapat menunjukkan kekayaan warisan budaya Indonesia di mata dunia. Pada sampel rumah tradisional melayu, temuan ini merupakan salah satu langkah dalam menemukan identitas rumah melayu yang dapat menjadi guideline dan basis data dalam pengembangan rumah tinggal arsitektur pada masa kini maupun ke depan,” jelas dia.

Dia menjelaskan, DNA arsitektur merupakan kerangka kerja yang mengandung instruksi yang terkait peraturan hirarki, urutan dan kode yang menjadi acuan dalam replikasi arsitektur melalui transmisi genotipe dan transformasi fenotipe. Gen sebagai ekspersi DNA berfungsi menyampaikan informasi genetik dari generasi ke generasi. Dalam ilmu arsitektur, gen merupakan informasi genetik yang selalu direplikasi, berwujud, dan setiap gen memiliki fungsi yang berbeda.

“Rumah Tinggal Tradisional Melayu di Kalbar berupa rumah panggung dengan tiga tipe di antaranya Rumah Potong Limas, Rumah Potong Kawat dan Rumah Potong Godang. Ketiga tipe tersebut memiliki arti dari rumah tinggal kerabat keraton atau tokoh masyarakat, rumah tinggal saudagar dan rumah tinggal rakyat biasa,” paparnya.

Penelitian ini berangkat dari adanya perkembangan globalisasi dan lingkungan yang dapat memberi pengaruh terhadap identitas dari keragamaan arsitektur pada setiap wilayah. Kerentanan dalam transformasi bentuk arsitektur dapat berdampak pada identitas yang dapat bertahan ataupun menghilang. Rumah tinggal tradisional yang memiliki bentuk arsitektur yang khas kini kian berangsur mulai menghilang.

“Maka perlu adanya pelestarian dengan DNA Arsitektur dimiliki setiap rumah tinggal tradisional,” ucap dia.
Sementara itu, Gubernur Kalbar, Sutarmidji mengapresiasi atas disertasi yang dilakukan oleh Mahasiswi Fakultas Teknik UGM melalui Ujian Terbuka Promosi Doktor Arsitektur tersebut. Penelitian tersebut dapat menjadi literatur Rumah Tradisional Melayu di Kalbar.

“Atas Nama Pemerintah Provinsi Kalbar, saya ucapkan selamat kepada Indah Kartika Sari yang telah lulus dengan predikat Cumlaude untuk disertasinya DNA Arsitektur Rumah Melayu dan ini menjadi suatu literatur yang baik setelah dilengkapi kajian-kajian yang horizontal dan dilengkapi kajian dengan vertikal,” kata dia.

Dia berharap, ke depan, ada lagi penelitian lain dalam bidang ilmu lainnya yang mengkombinasikan DNA tradisional Melayu dengan rumah tradisional lainnya. Dengan adanya kombinasi tersebut, suatu bangunan dapat mencerminkan keberagamanan arsitektur etnik, dengan tidak mengurangi DNA arsitektur aslinya.

“Filosofi-filosofi dalam setiap ruang baik kajian horizontal maupun vertikalnya harus diungkap serta aksesoris-aksesoris rumah itu juga. Sebab rumah tradisional Melayu tidak memandang kasta melainkan menunjukan kealiman dan kedudukan seseorang. Hal ini yang harus diungkap lebih luas agar kita bisa mengetahui kebudayaan melayu maupun kebudayaan lainnya yang dikaji berdasarkan rumah tradisional,” jelas dia. (*)

loading...