Maksimalkan CSR, PT GKM dan PT SML Bantu Kemandirian Ekonomi Masyarakat

SANGGAU – PT. Global Kalimantan Makmur (GKM) dan PT. Semai Lestari (SML) yang merupakan anak perusahaan HPI Agro di Sanggau, menggiatkan kemandirian ekonomi masyarakat kepada kelompok tani di Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau, Jumat (7/8) lalu. Penyerahan bantuan Corporate Social Responsibility Programme (CSR) dilakukan oleh CA dan CSR HPI Agro Kalbar, Paulus Nokus.

Tiga kelompok tani (Poktan) yang mendapat bantuan tersebut yakni Poktan Pokat Samah di Desa Kuala Dua dengan kegiatan ternak babi. Kemudian, Poktan Tuan Riski di Desa Sejuah dan Poktan Tompa Jilompa di Desa Sebongkuh masing-masing budidaya ikan air tawar (Lele).

Ketua Kelompok Tani Pokat Samah (Desa Kuala Dua), Anton Tena mengatakan, untuk program Kemandirian Ekonomi Budi Daya Ternak Babi dipilih oleh poktan ini mengingat kebutuhan terhadap daging babi di wilayah setempat juga tinggi. Apalagi ketika momen gawai. Poktan yang dipimpinnya berjumlah sepuluh orang bersepakat untuk membeli 20 ekor babi kampung sebagai usaha ternak mereka.

“Kami pilih babi ini karena memang kami juga memelihara babi ternak. Kalau pas gawai kebutuhan babi juga banyak. Nah, kadang kalau pas gawai cari daging babi susah. Selain itu, babi kampung juga mudah dalam hal pemeliharaan,” katanya.
Untuk peternakan, pihaknya membuatkan kandang. Hal ini dilakukan mengingat adanya aturan tentang cara memelihara babi yang mesti dikandangkan. Cara ini, lanjut dia, juga sebagai upaya tetap memelihara kesehatan lingkungan masyarakat dari kotoran yang dihasilkan.

“Kalau untuk limbahnya, nanti akan kami buatkan khusus setelah melalui rembug dengan anggota poktan. Jadi kami berupaya agar tidak menimbulkan masalah lingkungan ke depannya,” tegas dia.
Terpisah, Ketua Kelompok Tani Tuah Riski (Desa Sejuah), Parto mengatakan pihaknya dibantu dana CSR untuk budidaya air tawar (ikan lele). Ada sedikitnya 20 orang yang tergabung dalam poktan yang dipimpinnya itu.

“Iya. Ada lima kolam yang kami persiapkan. Setiap kolamnya akan diisi ikan lele seribu ekor. Saat ini kolam sedang dalam tahap pengendapan air untuk menetralisir zat kimia dari terpal yang digunakan sebagai kolam,” ungkapnya.
Parto menjelaskan, kolam tersebut diisi dengan ikan lele, karena lebih bebas jenis air yang dapat digunakan. Selain itu mudah dalam pemeliharaan. “Ikan Lele ini lebih mudah di budi daya. Kalau ikan sisik dia harus sumber air mengalir. Makanya kami pilih Lele,” jelasnya.

Dari sisi penjualan, lanjut dia, ikan lele juga lebih mudah dipasarkan. Mengenai harga juga terjangkau. “Kalau di sini, di atas sepuluh kilogram, jualnya sekira Rp23–25 ribu perkilo. Tapi kalau eceran Rp35 ribu perkilo,” kata dia.

Sementara itu, Ketua Poktan Tompa Jilompa (Desa Sebongkuh), Salimin menyampaikan poktannya terdiri dari 12 orang. Usaha Ikan Lele sudah dilaksanakan sejak dua pekan terakhir yang berasal dari bantuan CSR. Bibit yang dipersiapkan sebanyak lima ribu ekor Ikan Lele.

“Dulunya saya pribadi, selama 5 tahun ternak itu. Karena ada informasi dari perusahaan, makanya kami berusaha mengajukan untuk bisa masuk program CSR dan dikelola oleh poktan,” jelas dia.

Terkait Program Kemandirian Ekonomi Masyarakat HPI Agro, CA dan CSR HPI Agro Kalbar, Paulus Nokus menyampaikan bahwa CSR tersebut bersifat berkelanjutan. Tentunya, dalam rangka pihak perusahaan meningkatkan ekonomi masyarakat yang ada di wilayah operasionalnya di Kalbar.
“(CSR) ini tidak hanya berhenti pada program hari ini saja. Nantinya, baik di wilayah operasional PT. GKM dan PT. SML akan banyak poktan yang tumbuh dan berkembang. Sehingga masyarakat kita semakin maju baik dari segi pengetahuan, kerjasama tim, dan menjalankan usahanya bisa terbantu. Jadi, perusahaan hadir bukan untuk dirinya (Perusahaan) sendiri tetapi juga untuk masyarakat bisa berkembang dan mandiri,” ungkapnya.

Paulus menambahkan bahwa prinsip ketaataan menjaga lingkungan dan kesehatan masyarakat, juga diterapkan untuk program–program CSR yang dibina. “Makanya sejak awal kita tekankan dan minta komitmen semua poktan binaan agar disiplin menjaga lingkungan. Kalau lingkungan tercemar kita semua juga yang rugi, karena kita tinggal di situ,” katanya.

“Jadi, arahnya kita akan terus fokus pada peningkatan perekonomian masyarakat, tapi di satu sisi tetap taat dan tertib terhadap pengelolaan lingkungan termasuk persoalan limbah,” tegas dia. (sgg/*)

loading...