Malu Menjadi Seorang Doktor

Aswandi*

Oleh: Aswandi*

DUA minggu terakhir ini, media masa baik cetak maupun elektronik memuat berita penting (head line) tentang carut marut pemberian gelar doctor kehormatan dan profesor plagiator. Fenomena tersebut menginspirasi penulis memuat kembali sebuah opini berjudul; “Malu Menjadi Seorang Doktor.”

Seorang dosen telah mengabdikan dirinya dalam melaksanakan tugas tri dharma perguruan tinggi, antara lain melakukan kegiatan mengajar, melaksanakan penelitian, dan pengabdian pada mayarakat yang menjadi tugas dan kewajibannya. Sesekali menulis di jurnal ilmiah, baik jurnal nasional terakreditasi maupun jurnal internasional bereputasi, telah menulis banyak buku ajar. Selain itu, juga mendapat kesempatan menjadi nara sumber atau pembicara di berbagai forum ilmiah dan melakukan kritik konstruktif terhadap fenomena ketatanegaraan di negeri ini. Ia tekuni kegiatan tersebut selama 30 (tiga puluh) tahun tanpa henti, hingga kini belum juga mendapatkan gelar akademik tertinggi yakni guru besar atau profesor. Di luar sana terdengar kabar beberapa orang yang kesehariannya atau tugas utamanya bukan sebagai seorang akademisi, melainkan diantaranya politisi, negarawan dan pengusaha dengan mudahnya memperoleh gelar doktor kehormatan dan jabatan profesor. Melihat fenomena ini, betapa malunya dosen tersebut dan ia tumpahkan perasaan malunya dalam sebuah opini bejudul “Saya Malu Menjadi Dosen di Indonesia.”

Menurut pendapat pribadi penulis, tidak harus malu melihat fenomena seperti itu karena di sana ada “integritas” yang tidak pernah lekang karena panas dan tidak pernah lapuk karena hujan. Ia tetap berdiri kokoh sekokoh batu karang atau hidup beradab dan bermartabat yang tidak selalu diperoleh karena segudang gelar yang dimilikinya. Malulah kepada semut, serangga kecil, namun memiliki integritas, sekalipun hanya mempunyai setetes air di mulutnya, tetapi ia ingin memadamkan api yang membakar Ibrahim RA. Malulah kepada cacing, binatang kecil yang hidung di tanah yang kotor, tetapi selalu berpikir untuk menyuburkan tanah di mana ia tinggal agar melalui tanah tersebut sayur-mayur hidup subuh dan tanaman segera berbuah, sedikit contoh makhluk berintegritas.

Daripada merenung yang tidak jelas manfaatnya, maka sebaiknya belajar dan perbaharui diri kita serta menulis secara terus menerus karena ilmu pengetahuan yang kita miliki saat ini sudah kadaluarsa atau teorinya sudah basi, puteri penulis (mahasiswa program PhD Osaka Univerity Jepang) mengatakan setidaknya ilmu pengetahuan yang kita pelajari saat ini sudah ketinggalan selama 18 tahun. Bahkan, ada yang sudah ketinggalan 30 tahun, tetapi tetap saja digunakan sebagai referensi perkuliahan, selain itu jauh lebih baik lakukan pekerjaan yang bermanfaat bagi diri kita dan bagi orang lain.

Pak Harto adalah contoh atau tauladan dalam banyak urusan, tak terkecuali dalam persoalan gelar doktor ini. Bapak Adi Sasono selaku Menteri Koperasi menceritakan pengalamannya bersama pak Harto selaku presiden RI ke-2, menurutnya, “Pak Harto termasuk orang pintar dan cerdas, namun beliau tidak pernah mau menunjuk-nunjukkan kepintaran dan kecerdasannya, banyak pihak ingin memberinya gelar doctor honorius causa, namun semua ditolaknya, beliau tahu banyak, bagaimana memperoleh gelar doctor dan profesor tersebut (maaf demi menghormati kezuhudan beliau, penulis sengaja tidak menuliskannya)”, dikutip dari sebuah buku berjudul “Pak Harto The Untold Stories (2012). Menurut penulis, tidak dapat digeneralisasikan untuk semua, masih banyak doctor dan profesor di dunia ini memiliki integritas tinggi.

Doktor adalah adalah gelar kesarjanaan tertinggi yang diberikan oleh perguruan tinggi kepada seseorang yang telah memiliki dan berhasil mempertahankan disertasinya. Dan, doktor paling sedikit mempunyai filosofi keilmuan bidang pengetahuan dan ketrampilan tertentu. Ia mampu menemukan, menciptakan dan/atau memberikan kontribusi kepada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui penalaran dan penelitian ilmiah.

Beberapa tahun lalu, penulis menghadiri seminar nasional di Kota Malang dengan narasumber bapak Dr. Nucholish Madjid seorang cendikiawan (almarhum). Pada saat istirahat (ishoma), penulis menghampiri beliau dan beliau menanyakan keadaan penulis, antara lain pertanyaan beliau, “Dinda Aswandi bekerja di mana dan di Malang sedang tugas apa?”. Penulis jawab, “Saya adalah dosen di Universitas Tanjungpura di Pontianak, dan saat ini sedang melanjutkan studi doctoral (S3) di Universitas Negeri Malang.”

Beliau pun mengucapkan selamat seraya menjelaskan makna dari kata “Doktor”. Menurut beliau, kata doctor berasal dari Bahasa Ibrani, yang bermakna “Di atas”. “Ini tantangan buat adinda jika nantiya menjadi seorang doktor, seorang doktor dari segi keilmuan dan keahliannya saja ia harus berada di atas dari mereka yang belum doktor”.

Ketika Profesor Frans Magnis Suseno bersama Profesor Dr. Syafie Ma’arif menjadi narasumber pada seminar dan bedah buku di PCC Pontianak, waktu itu penulis menjadi moderator seminar sempat menanyakan atau mengklarifikasi apa yang dinyatakan oleh bapak Nucholish Madjid tentang makna kata “Doktor adalah di Atas”. Dua orang guru besar tersebut sependapat. Jawaban mereka menambah keyakinan penulis mengenai makna kata “Doktor adalah di Atas”. Jujur penulis akui, penjelasan tersebut menjadi faktor motivasi bagi penulis untuk selalu mempelajari atau memahami secara lebih mendalam tentang bidang ilmu yang menjadi keahlian penulis, tiada hari tanpa membaca, terutama bidang keahlian, yakni “Manajemen Perubahan Pendidikan”.

Alhamdulillah di sekitar kita telah banyak doctor. Namun, sangat disayangkan  mereka sangat kurang mempublikasikan pikiran, keahlian dan karyanya, bahkan banyak diantara kita yang tidak mengetahui apa keahlian para doctor yang ada di sekitar kita. Sekalipun ada diantara mereka berusaha mempublikasikan karya tulisnya, tetapi masih sebatas untuk tujuan jangan pendek, yakni memperoleh fee dan angka kredit. Akhirnya segera naik pangkat, berakhir sampai di sini. Setelah itu, mana publikasi karya tulisnya?.

Profesor Dr. Andi Hakim Nasution mantan Rektor IPB menambahkan, “Seorang doktor sejati, selain dari segi keilmuan dan keahliannya di atas keilmuah dan keahlian orang lain, seorang doktor harus memiliki integritas (akhlak mulai atau terpuji).”

Oleh karena itu, sangatlah beralasan jika mahasiswa menuntut agar gelar doktor kehormatan yang telah diberikan oleh universitas melalui rektornya kepada seseorang yang diragukan integritasnya segera dicabut. Terhadap kejadian tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI mengingatkan kepada semua perguruan tinggi meninjau kembali mekanisme pemberian gelar doctor kehormatan agar peristiwa yang sama tidak terulang kembali.

Menjadi seorang doktor tanpa atau minus prestasi akademik sudah terasa sangat memalukan dan terhina, penulis rasakan sudah menjadi ”Aib”, diperparah lagi doktor yang memiliki kualitas karakter rendah dan akhlak lemah lebih memalukan lagi.  Penulis sudah sejak lama merasakan hal tersebut, faktanya hampir 20 tahun memperoleh gelar akademik tertinggi doktor, sekalipun tidak ada yang melarang, penulis belum berani menuliskan gelar doktor di depan nama diri, kecuali untuk urusan hidden marketing oleh penerbit dan untuk urusan administrasi kepegawaian. Penulis tidak tahu bagaimana lagi perasaan seorang guru besar (profesor) tanpa prestasi akademik, tentu saja merasa lebih malu lagi. Sebaliknya, jika doktor dan profesor tanpa prestasi akademik tidak menaruh rasa malu, secara psikologis dapat diduga bermasalah atau berpenyakit, dan penulis khawatir masyarakat mengalikan mereka yang minus prestasi akademik tersebut dengan bilangan nol (0). Syukur saja, di negeri ini, tidak ada mahasiswa-mahasiswi yang berani mengajukan dua pertanyaan kepada dosen yang mengecewakan mereka akibat dosen tersebut dinilai kurang kompeten dalam keilmuannya dan sangat lemah dalam strategi pembelajarannya. Dua pertanyaan mahasiswa tersebut untuk dijawab oleh dosen yang mau memulai perkuliahan, yakni: “Tolong bapak/ibu dosen memilih, bapak/ibu atau kami yang keluar dari ruang perkuliahan ini?, kami dari jauh, mengeluarkan biaya tidak sedikit dan mengorbankan usia produktif kami untuk datang ke kampus ini mencari dan mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang lebih baik demi masa depan kami yang lebih baik pula.” Akhirnya, penulis simpulkan bahwa kualitas dan integritas seorang doktor sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh dirinya sendiri dan oleh proses pembelajaran yang dijalaninya.**

*Penulis adalah Dosen FKIP Untan.

error: Content is protected !!