Malu Menjadi Seorang Doktor

opini pontianak post

ilustrasi opini

Oleh: Aswandi

SEORANG dosen telah mengabdikan dirinya dalam melaksankan tugas tri dharma perguruan tinggi, antara lain melakukan kegiatan mengajar, melaksanakan penelitian, dan pengabdian pada mayarakat yang menjadi tugas dan kewajibannya, sesekali menulis di jurnal ilmiah, baik jurnal nasional terakreditasi maupun jurnal internasionl, juga mendapat kesempatan menjadi nara sumber atau pembicara di berbagai forum ilmiah dan melakukan kritik konstruktif terhadap fenomena ketatanegaraan di negeri ini.

Ia lakukan kegiatan tersebut selama 30 (tiga puluh) tahun tanpa henti, hingga kini belum juga mendapatkan gelar akademik tertinggi yakni guru besar atau profesor. Di luar sana terdengar khabar beberapa orang yang kesehariannya atau tugas utamanya bukan sebagai seorang akademisi, melainnya diantaranya politisi, negarawan dengan mudahnya memperoleh jabatan profesor kehormatan. Melihat fenomena ini, betapa malunya dosen tersebut dan ia tumpahkan perasaan malunya dalam sebuah opini bejudul “Saya Malu Menjadi Dosen di Indonesia”.

Menurut pendapat pribadi penulis, tidak harus malu melihat fenomena seperti itu karena di sana ada “integritas” yang tidak pernah lekang karena panas dan tidak pernah lapuk karena hujan, ia tetap berdiri kokoh sekokoh batu karang atau hidup beradab dan bermartabat yang tidak selalu diperoleh karena segudang gelar yang dimiliki. Malulah kepada semut, serangga kecil, namun memiliki integritas. Dari pada merenung yang tidak jelas manfaatnya, maka sebaiknya belajar dan perbaharui diri kita secara terus menerus karena ilmu pengetahuan yang kita miliki saat ini sudah kadaluarsa, puteri penulis mengatakan setidaknya sudah ketinggalan selama 18 tahun, selain itu jauh lebih baik lakukan pekerjaan yang bermanfaat bagi diri kita dan bagi orang lin.

Pak Harto adalah contoh atau tauladan dalam banyak urusan, tak terkecuali dalam persoalan gelar doktor ini. Bapak Adi Sasono selaku Menteri Koperasi menceritakan pengalamannya bersama pak Harto selaku presiden RI ke-2, menurutnya, “pak Harto termasuk orang pintar dan cerdas, namun beliau tidak pernah mau menunjuk-nunjukkan kepintaran dan kecerdasannya, banyak pihak ingin memberinya gelar doctor honorius causa, namun semua ditolaknya, beliau tahu banyak orang bersedia membayar untuk mendapatkan gelar doktor tersebut”, dikutip dari sebuah buku berjudul “Pak Harto The Untold Stories (2012).

Doktor adalah adalah gelar kesarjanaan tertinggi yang diberikan oleh perguruan tinggi kepada seseorang yang telah memiliki dan berhasil mempertahankan disertasinya. Dan doktor paling sedikit mempunyai filosofi keilmuan bidang pengetahuan dan ketrampilan tertentu. Ia mempu menemukan, menciptakan dan/atau memberikan kontribusi kepada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui penalaran dan penelitian ilmiah.

Beberapa tahun lalu, penulis menghadiri seminar nasional di Kota Malang dengan nara sumber bapak Dr. Nucholish Madjid seorang cendikiawan (almarhum). Pada saat istirahat (ishoma), penulis menghampiri beliau dan beliau menanyakan keadaan penulis, antara lain pertanyaan beliau, “dinda Aswandi bekerja dimana dan di Malang sedang tugas apa?”. Penulis jawab, “saya adalah dosen di Universitas Tanjungpura di Pontianak, dan saat ini sedang melanjutkan studi doctoral (S3) di Universitas Negeri Malang”. Beliaupun mengucapkan selamat seraya menjelaskan makna dari kata “Doktor”.

Menurut beliau, kata doctor berasal dari Bahasa Ibrani, yang bermakna “Di atas”. “Ini tantangan buat adinda jika nantiya menjadi seorang doctor, seorang doktor dari segi keilmuan dan keahliannya saja ia harus berada di atas dari mereka yang belum doktor”. Profesor Dr. Andi Hakim Nasution mantan Rektor IPB menambahkan, “seorang doktor sejati, selain dari segi keilmuan dan keahliannya di atas keilmuah dan keahlian orang lain, seorang doktor harus memiliki integritas (akhlak mulai atau terpuji)”. Ketika Profesor Frans Magnis Suseno bersama Profesor Dr. Syafie Ma’arif menjadi nara sumber pada seminar dan bedah buku di PCC Pontianak, waktu itu penulis menjadi moderator seminar sempat menanyakan atau mengklarifikasi apa yang dinyatakan oleh bapak Nucholish Madjid dan bapak Andi Hakim Nasution tentang makna kata “Doktor adalah di Atas”, dua orang guru besar tersebut sependapat. Jawaban mereka menambah keyakinan penulis mengenai makna kata “Doktor adalah di Atas”. Jujur penulis akui, penjelasan tersebut menjadi factor motivasi bagi penulis untuk selalu mempelajari atau memahami secara lebih mendalam tentang bidang ilmu yan menjadi keahlian penulis, tiada hari tanpa membaca, terutama bidang keahlian, yakni manajemen perubahan.

Alhamdulillah di sekitar kita telah banyak doktor, namun sangat disayangkan  mereka sangat kurang mempublikasikan pikiran, keahlian dan karyanya sehingga kitapun tidak mengetahui apa keahlian mereka itu. Sekalipun ada diantara mereka berusaha mempublikasikan karya tulisnya, namun masih sebatas untuk tujuan jangan pendek, yakni memperoleh fee dan angka kredit.

Menjadi seorang doktor tanpa atau minus prestasi akademik sudah terasa sangat memalukan, terasa :”Aib”, Penulis sudah sejak lama merasakan hal tersebut, faktanya hampir 20 tahun memperoleh gelar akademik tertinggi doktor, sekalipun tidak ada yang melarang, penulis belum berani menuliskan gelar doktor di depan nama diri kecuali untuk urusan administrasi kepegawaian. penulis tidak tahu bagaimana lagi perasaan seorang guru besar (profesor) tanpa prestasi akademik, tentu saja prestasi akademik di atas doktor, saya khawatir masyarakat mengalikan mereka yang minus prestasi akademik tersebut dengan bilangan nol (0). Syukur saja, di negeri ini, tidak ada mahasiswa/i yang berani mengajukan dua pertanyaan kepada dosen yang mengecewakannya akibat dosen tersebut dinilai mereka kurang kompeten dalam keilmuannya dan sangat lemah dalam strategi pembelajarannya. Dua pertanyaan mahasiswa tersebut untuk dijawab oleh dosen yang mau memulai perkuliahan, yakni: tolong bapak/ibu dosen memilih, bapak/ibu atau kami yang keluar dari ruang perkuliahan ini?, kami dari jauh, mengeluarkan biaya tidak sedikit dan mengorbankan usia produktif kami datang ke kampus ini untuk mencari dan mendapatkan pengetahuan dan pengalaman demi masa depan kami yang lebih baik. (**)

Penulis: Dosen FKIP UNTAN

Read Previous

Alfredo dan Rezky Wakili Kalbar Lomba Olimpiade Matematika Nasional

Read Next

Mempawah Expo 2019 Sukses

Tinggalkan Balasan

Most Popular