Manchester United Merugi Terbanyak

MANCHESTER,– Penghentian Premier League sejak tiga pekan yang lalu karena pandemi Covid-19 benar-benar merugikan. Dari 20 tim di Premier League, Manchester United diperkirakan menderita kerugian finansial tertinggi.

Kemarin (7/4) Daily Mail mengkalkulasi hilangnya pemasukan klub-klub itu dari tiga bidang. Yakni dari hak siar televisi, pemasukan hari-H pertandingan, dan iklan komersial hari-H pertandingan berlangsung.

Daily Mail membeberkan United kehilangan GBP 48 juta (Rp 966,36 miliar) atas hak siar di semua matchweek tersisa. Lalu GBP 17,6 juta (Rp 354,33 miliar) dari pemasukan di hari-H laga. Terakhir dari iklan komersial hari-H berjumlah GBP 50,8 juta (Rp 1,02 triliun). Kalau ditotal, pandemi Covid-19 ini menghilangkan GBP 116,4 juta (Rp 2,34 triliun).

“Suka tak suka maka di akhir tahun pemasukan klub-klub Premier League akan menurun. Dan itu akan mempengaruhi banyak aspek musim berikutnya,” kata salah satu chief executive klub Premier League kepada Daily Mail.

Dosen ekonomi University of Liverpool yang studinya fokus soal sepak bola Kieran Maguire kepada The Athletic mengatakan meski United diperkirakan jadi klub paling rugi secara finansial karena pandemi Covid-19 namun secara citra klub itu masih sangat menjual. Apalagi United menegaskan tak akan merumahkan staf non kepelatihan saat pandemi berjalan.

“Citra yang baik ini akan mendatangkan keuntungan dann keputusan tak merumahkan 900 staf non kepelatihan sangat pas dan mungkin hanya membebani keuangan klub antara GBP 1 juta (Rp 20,13 miliar) sampai GBP 1,5 juta (Rp 30,19 miliar). Tapi gara-gara prinsip menjaga relasi dengan staf itu citra United tetap bergengsi,” kata Maguire.

Berbeda dengan Liverpool yang akhirnya mengubah keputusannya soal merumahkan staf non kepelatihannya. Jika Senin (6/4) Liverpool mengumumkan menghentikan staf non kepelatihan dengan alasan mengikuti anjuran pemerintah, kemarin (7/4) Liverpool mengubahnya.

Salah satu yang aspek yang paling terdampak adalah transfer pemain yang tak akan jor-joran musim depan. Sky Sports menulis juara Liga Champions musim lalu Liverpool batal bernegoisasi dengan RB Leipzig untuk transfer penyerang Timo Werner. Kabarnya Si Merah berani membayar Werner sebesar GBP 50 juta (Rp  1 triliun).

Selain masalah tranfer strategi beberapa klub untuk mengembangkan atau membangun stadion kandang miliknya jadi tertunda. Misalnya Everton yang akan membangun markas baru sedang Chelsea merenovasi Stamford Bridge.

Bahkan pemindahan lokasi sentralisasi latihan anyar Liverpool di Kirkby yang sudah 80 persen jadi pun ditunda. Sampai musim 2020-2021, Liverpool akan memusatkan aktivitasnya di lokasi lama Melwood.

Nah, jika tim enam besar (United, Manchester City, Liverpool, Chelsea, Tottenham Hotspur, dan Arsenal) plus Wolverhampton Wanderers masih punya cadangan pemasukan dari hasil laga di pentas Eropa (Liga Champions dan Liga Europa), maka yang paling apes adalah tim di luar itu.

Contoh tim promosi yang sedang menanjak prestasinya, Sheffield United, berpotensi kehilangan total sekitar GBP 41,9 juta (Rp 843,56 miliar) di akhir musim. Padahal mereka saat ini ada di posisi tujuh klasemen dan berpeluang tampil di ajang Eropa musim depan. (dra)

error: Content is protected !!