Manulife Luncurkan Tiga Aplikasi Terbaru

SERVIS CEPAT: (dari kiri) John Curtis, Ryan Charland, Hans de Waal, Oke Pitrajayakusuma, dan Jeffrey Kie dalam peluncuran produk layanan nasabah ePOS, pada acara Agent Manulife-Kick Off 2020 di Jakarta, kemarin. ISTIMEWA

Awali 2020 dengan Penguatan Layanan Digital

JAKARTA – Perusahaan asuransi jiwa PT. Asuransi Jiwa Manulife Indonesia (Manulife Indonesia) membuka tahun 2020 dengan memperkuat layanan digital. Mereka menghadirkan tiga layanan demi memberi kemudahan bagi nasabah dan tenaga pemasaran. Tiga layanan itu adalah online payment, e-POS, dan MiLearn.

“Inovasi di teknologi digital ini termasuk saluran baru pembayaran premi, mengubah tampilan notifikasi surat koresponden kepada para nasabah, termasuk juga melengkapi para tenaga pemasar dengan aplikasi digital untuk memenuhi kebutuhan nasabah akan respons yang cepat, tepat, dan realtime,” ujar Presiden Direktur dan Chief Executive Officer Manulife Indonesia Ryan Charland, saat peluncuran aplikasi di sela-sela kegiatan Agent Manulife-Kick Off 2020 di Jakarta, Kamis (9/1). Ia sangat gembira lantaran memasuki usia 35 tahun Manulife di Indonesia, bisa menghadirkan tiga layanan yang baik untuk nasabah dan tenaga pemasar. Online Payment atau pembayaran daring diperuntukkan mereka demi memudahkan para nasabah. Melalui layanan ini, dia menggambarkan bagaimana nasabah cukup melakukan klik dengan ujung jari pada link yang tersedia dan melakukan pembayaran.

“Ini memberikan kemudahan buat nasabah dalam melakukan pembayaran premi, sehingga memastikan proteksi mereka tetap berlangsung. Online payment ini melengkapi metode pembayaran yang tersedia di Manulife Indonesia, seperti kartu kredit, transfer, maupun autodebit,” kata Charland.

Sementara dua aplikasi lain yang mereka luncurkan dimaksud untuk mendukung kinerja tenaga pemasar yakni ePOS dan MiLearn. Lewat aplikasi ePOS, diharapkan dia agar agen dapat sepenuhnya submit bisnis-bisnis baru secara digital. Dengan demikian, dia berharap agar nanti semua dokumen persyaratan pembukaan polis, termasuk tanda tangan calon nasabah, dilakukan via gawai, tanpa mengisi secara manual di formulir kertas. Cara seperti ini, menurut dia, selain mempercepat waktu proses pembuatan polis dari berhari-hari menjadi cukup beberapa menit, juga mengurangi penggunaan kertas.

Sedangkan untuk aplikasi MiLearn atau aplikasi untuk pelatihan digital, dimaksudkan dia, agar bisa dimanfaatkan oleh tenaga pemasar, baik agen maupun financial specialist. Cara ini mereka lakukan lantaran berdasarkan survei Google Indonesia pada 2018, saat ini terjadi peningkatan waktu yang dihabiskan masyarakat Indonesia untuk online. Pengaruh keterlibatan daring terhadap keputusan pembelian yang mereka buat, diakui dia, juga meningkat. Dalam survei itu, menurut dia, terungkap bahwa sebanyak 68 persen merekka yang bergantung pada smartphone saat mencari informasi terkait pembelian, akan memutuskan untuk membeli. “Perubahan pola masyarakat itu secara tidak langsung juga memicu Manulife Indonesia untuk terus meningkatkan layanan,” kata Charland.

Ia meyakini, dengan adanya penguatan pada layanan digital akan meningkatkan target penjualan tahun ini. “Kami yakin akan meraih pertumbuhan yang signifikan di tahun 2020 ini,” tutur dia.

Ia enggan merinci berapa target yang akan diraih, namun sangat meyakini kondisi Indonesia saat ini akan lebih baik dari tahun sebelumnya. Dia menyebut tahun 2019 sebagai tahun politik, sehingga memengaruhi daya beli masyarakat. “Target kami tiap tahun naik, dan kami yakin tahun ini lebih bagus,” papar dia.

Sementara itu, Director and Chief Operating Officer Manulife Indonesia Hans De Waal, mengatakan bahwa mereka tidak hanya ingin fokus pada penjualan produk proteksi, tetapi terus berupaya meningkatkan pelayanan kepada nasabah. Saat ini mereka memiliki 2,5 juta nasabah dan 7 ribu agen di seluruh Indonesia.

Menurut Hans, keberpihakan pada nasabah juga sudah diperkuat dengan mengubah budaya kerja mereka dengan program Kaizen akhir pekan lalu. Lewat program itu, karyawan mereka bekerja lebih efektif, efisien, dan produktif. Hingga saat ini, program itu, diakui dia, telah menunjukkan sejumlah hasil, seperti proses klaim berjalan lebih mudah dan lebih cepat, bahkan hanya memerlukan waktu 3 – 6 hari setelah dokumen nasabah memenuhi syarat dan ketentuan. Penerapan program ini tetap akan dilanjutkan mereka, mengingat hasil yang berdampak positif bagi perusahaan, karyawan, maupun nasabah.

Menurut dia, bukti Manulife Indonesia fokus pada nasabah juga terlihat dari jumlah klaim yang dibayar. Berdasarkan data per-November 2019 lalu, mereka telah membayarkan klaim sebesar Rp5,3 triliun (unaudited) atau setara dengan Rp15 miliar perhari atau Rp608 juta perjam kepada nasabah. (ote)

Read Previous

Tahapan Pilkada Belum Dipahami

Read Next

Peluang Pasarkan Produk Herbal

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *