Manulife Peduli Kesehatan Nasabah

DIGITALISASI MANULIFE: Para staf PT. Manulife Indonesia sedang mengadakan rapat yang membahas soal  percepatan layanan ke berbagai nasabah via program digital terbaru Manulife di ruang kerja anyar, Kamis (3/12). ISTIMEWA

JAKARTA – Para pelaku industri asuransi jiwa dituntut bersikap adaptif guna menjaga kinerjanya, mengingat tahun depan diperkirakan kondisi perekonomian belum berjalan normal. Pelaku industri diharapkan mampu membaca perubahan konsumen yang terjadi saat pandemi Covid-19, serta melakukan digitalisasi layanan kepada nasabah.

Sejalan dengan itu, PT. Asuransi Jiwa Manulife Indonesia (Manulife Indonesia) juga senantiasa memfokuskan diri kepada kebutuhan nasabah yang kian beragam dan berubah seiring dengan tantangan kehidupan yang dinamis.

Presiden Direktur dan CEO Manulife Indonesia, Ryan Charland di Jakarta, Kamis (3/12), mengatakan masalah kesehatan dan tantangan ekonomi akibat pandemi Covid-19 menjadi salah satu fokus perhatian Manulife Indonesia. Dia menambahkan, pada 2021 Manulife Indonesia akan terus memberikan solusi perencanaan keuangan, terkait dengan biaya kesehatan dan proteksi keuangan keluarga. Apalagi, tak dipungkiri dia, pandemi Covid-19 masih akan mewarnai perjalanan pada tahun depan.

Tak hanya kesehatan dan proteksi keuangan, pelaku industri asuransi jiwa, menurut dia, juga dituntut untuk menjaga keselamatan masyarakat. Menyikapi hal itu, mereka pun menerapkan layanan non face to face.

Di tengah pandemi, tenaga pemasar mereka tetap berupaya memberikan layanan terkait advis finansial, meskipun tanpa bertatap muka. Untuk itu, para tenaga pemasar telah dibekali mereka dengan pelatihan yang mumpuni dan profesional, agar tetap optimal membantu masyarakat di tengah pandemi.

Ryan mengatakan di tengah pandemi, Manulife terus mendampingi para nasabah, termasuk membayar klaim Covid-19 dari para nasabah. Dia menjelaskan, hingga 9 November ini, jumlah klaim yang dibayarkan tercatat sebesar Rp54,5 miliar. Jumlah tersebut termasuk manfaat rawat inap dan perlindungan jiwa. Sedangkan, klaim keseluruhan Manulife Indonesia (konsolidasi) per-Oktober 2020 year to date tercatat sebesar Rp4 triliun.

“Pembayaran klaim dilakukan Manulife Indonesia setelah nasabah memenuhi semua persyaratan yang telah ditentukan,” papar Ryan.  Sementara itu, total donasi yang diberikan Manulife Indonesia tercatat lebih dari Rp4 miliar yang diberikan kepada sekitar 200 pusat pelayanan kesehatan di Indonesia.

 

Digitalisasi Pemasaran

Seperti diketahui, pandemi menjadi momentum bagi industri asuransi jiwa untuk menerapkan digitalisasi layanan, termasuk pemasaran produk. Ke depan, layanan digital menjadi tren yang tak dapat dihindari. Digitalisasi layanan diyakini turut meningkatkan inklusi keuangan nasional.

“Dengan menggunakan teknologi informasi ini diharapkan daya jangkau industri asuransi kepada nasabah akan lebih efektif dan efisien,” ujar anggota Dewan Komisioner, Kepala Eksekutif Pengawas IKNB Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Riswinandi.

Selain itu, industri asuransi, menurut dia, harus bisa memaksimalkan potensi besar di sektor digital. Apalagi, penetrasi asuransi saat ini diakui dia relatif masih kecil, tidak pernah di atas 3 persen dengan total potensi 270 juta jiwa. Jika saja 20 persen  masyarakat sadar asuransi, dia berasumsi, industri ini akan meningkat secara signifikan.

Terkait hal itu, OJK telah memberikan persetujuan kepada sembilan perusahaan asuransi untuk memasarkan produknya secara digital, termasuk Manulife Indonesia. Hal ini diharapkan dapat memudahkan nasabah mendapatkan pelayanan Manulife Indonesia dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang berlaku.

Presiden Direktur dan CEO Manulife Indonesia, Ryan Charland menyambut baik upaya pemerintah menggarap sektor digital sebagai platform bisnis di masa mendatang. Pihaknya saat ini sudah menerapkan pelayanan berbasis digital kepada para nasabahnya, termasuk pengajuan klaim secara online dan polis elektronik. (ote)

error: Content is protected !!