Manusia itu Umat yang Satu

opini pontianak post
ilustrasi opini

Oleh: Baihaqi, MA

KEPENTINGAN manusia secara individu, maupun secara berkelompok di dalam menggapai kebutuhan hidupnya baik yang bersifat primer maupun sekunder tidak bisa dielakkan. Bahkan di zaman ini, kebutuhan akan pangan, kesejahteraan ekonomi, jabatan bahkan politik, tidak segan-segan harus mengorbankan manusia yang lain. Kepentingan untuk memenuhi kebutuhan hasrat manusia itu terkadang harus mengorbankan kemerdekaan manusia sebagai penghuni permukaan bumi yang diciptakan oleh Tuhan, agar supaya manusia itu bisa berbuat baik kepada Tuhan-nya dan kepada sesama manusia (hambun minallahi, wa hablun minannasi).

Terjadinya perbedaan pandangan pemikiran, terkadang dijadikan alat untuk menjelekkan, bahkan tidak segan perbedaan pandangan pemikiran itu dijadikan ‘senjata’ untuk menghabisi manusia yang lain, dengan membuat argumen “bahwa dia atau mereka sudah sesat, kafir, keluar dari ketentuan Tuhan dan bahkan alasan yang ekstrim terkadang disampaikan, kalau dibiarkan maka akan membahayakan yang lain, sehingga harus dimusnahkan”. Apapun alasan yang disampaikan, kalau melihat sejarah, bukankah para Nabi di utus oleh Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa, kepada manusia di mana ketika itu masyarakatnya dalam keadaan jahiliyah, contoh ketika Nabi Muhammad SAW di utus di tengah Masyarakat Arab Jahiliyah, dimana ‘minuman keras’ sudah menjadi budaya, membunuh anak kandung yang berjenis perempuan juga menjadi hal yang biasa mereka lakukan, bahkan untuk meraih kekuasaan sebagai kepala suku/kabilah mereka harus saling membunuh satu sama lain. Lalu apakah lantas Tuhan menghukum orang-orang yang berbuat dosa dengan mengutus Nabi Muhammad SAW agar supaya membunuh mereka yang berbuat jahat?

Justru dengan diutusnya para Nabi dan Rasul, Allah SWT hendak ingin memperbaiki manusia, yang akhlaknya dalam keadaan kotor, jahat dan tidak benar. Dengan menyatakan bahwa “bahwa sesungguhnya ini (manusia) adalah umat yang satu dan aku Tuhan kalian, maka sembahlah aku” (QS. Al-Anbiya’ ayat 92). Kalau memang manusia adalah umat yang satu, tentu harus dilihat persamaan pada diri manusia, bahwa semua manusia itu berhak untuk bahagia, mempunyai hak yang sama di dalam hidup, karena permukaan bumi ini, diciptakan untuk semua manusia, tidak hanya untuk satu golongan manusia. Ketika perbedaan fisik, perbedaan perkataan, dan perbedaan pemikiran dijadikan alasan agar manusia yang lain bisa menyerang dan menghabisi manusia yang tidak sama dengannya, maka sesungguhnya peradaban manusia ada pada posisi yang sangat randah. Karena agama sangat menghargai perbedaan sebagaimana firman Allah SWT dalam kitab al-Qur’an surah al-Hujarat ayat 13 “sesungguhnya kami menciptakan manusia dari laki-laki dan perempuan dan kami jadikan mereka itu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling kenal-mengenal dan sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling Taqwa diantara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan maha Maha Mengenal”.

Secara kodrat fisik memang manusia dijadikan oleh Allah dalam keadaan berbeda, tetapi keinginan untuk bahagia, sejahtera, sama di hadapan hukum, mendapatkan keadilan dan hal-hal yang positif, siapapun manusianya, jenis apapun bahasa dan kulitnya, maka seluruh manusia itu sama. Yaitu ingin mereka juga bahagia, sejahtera, mendapatkan keadilan dan kemerdekaan. Maka tidak bisa dibenarkan apapun alasan yang diutarakan untuk menghabisi manusia dengan berbagai macam argumen yang dibuat, karena bagaimanapun manusia itu Tuhan yang menjadikan.

Sebab itulah agama diturunkan ke atas permukaan bumi ini, agar manusia bisa keluar dari permasalahan hidup yang sedang dialami, dengan cara mengikut apa yang disampaikan oleh para Nabi dan utusan Allah SWT. Agar supaya manusia di dalam menggapai kebutuhan hidupnya tidak lupa akan hak orang lain, yang juga ingin mendapatkan kebahagiaan. Ketika itu dinafikan, maka yang terjadi adalah ‘hukum rimba’, peradaban manusia tidak kalah ubahnya dengan hewan, yang kuat memangsa yang lemah.

Penulis: Dosen IAIN Pontianak

loading...