Masihkah Tersisa Jejak-Jejak Ramadhan Dalam Diri

Oleh: Thamrin Usman

Ketua Yayasan Mujahidin & Guru Besar Ilmu Kimia Untan

RAMADHAN telah hadir bersama untuk yang kesekian kalinya dalam hidup manusia.Masihkah tersisa nilai nilai kemuliaan bulan suci ini dalam jiwa raga kita?

Predikat Taqwa adalah tujuan yang akan dicapai ketika seorang muslim yang beriman dipanggil untuk melaksanakan Saum Ramadhan.Dalam Surat Al Baqarah 183 yang artinya “Wahai Orang orang yang beriman ! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”.

Puasa Ramadhan memanggil orang islam yang beriman.Ini bermakna bahwa tidak sembarang manusia yang dipanggil dan diwajibkan untuk berpuasa.Panggilan kewajiban dengan tujuan agar menjadi orang yang bertaqwa.Sebuah predikat(kualifikasi) mulia dengan reward dan keistimewaan dihadapan Allah SWT.

Dalam Surat Al Anfal 2-4 Allah SWT mencirikan orang beriman yaitu orang orang yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hatinya dan apabila dibaca ayat ayat Allah bertambah kuatlah imannya dan mereka bertawaqal hanya kepada Allah.Mereka mengerjakan Salat,menginfakkan sebagian rezeki yang Allah berikan kepadanya.Mereka akan memperoleh derajat tinggi di sisi Tuhannya,ampunan dan rezeki yang mulia.

Puasa Ramadhan sebagai sebuah proses yang disediakan untuk kaum mukminin mukminat agar menjadi orang yang bertaqwa.Sebuah keistemewaan yang luar biasa.Allah beserta orang orang yang bertaqwa(An Nahl 127-128).Dicintai oleh Allahu Rabbi(Ali Imran 76).Diberikan jalan keluar dan rezeki yang tidak disangka sangka(Ath Thalag 2-3).Dianugerahi Al Furqan yaitu pembeda yang haq dan bathil(Al Anfal 29).Diganjar dengan hadiah Surga(Al Qamar (54-55).

Allah yang Maharahman dan Maharahim kepada hambaNya telah menyediakan cara untuk manusia yang beriman agar dinaikkan derajatnya menjadi orang yang beraqwa melalui Puasa Ramadhan.Sadarkah manusia akan hal ini? Ketika di antara kaum muslimin muslimat terpanggil atas seruan Allah ini lantas sejauh mana jejak jejak Saum Ramadhan sebelumnya itu tertinggal dalam diri?

Ketika diberikan nikmat Allah sebagai seorang pemimpin masih adakah jejak jejak tersebut yang menjiwai gaya dan model kepemimpin yang diterapkan.Amanahkan dalam mengelola kekuasaan tersebut.Dzalimkah kita terhadap mereka yang dipimpin,dekatkah kita dengan Allah melalui do’a dan hajat yang dipanjatkan kepadaNya.Yakinkah rezeki halal yang diperoleh.Sadarkah dikarenakan ucapan dan tindakan,mereka yang dipimpin merasa dihina.Dapatkah kita membedakan antara yang haq dan yang bathil(Al Furqan) dan hal hal lain seperti yang tersurat dalam Firman Allah ?

Saat amanah Allah tidak diberikan dalam memimpin,sebagai kaum muslimin muslimat sudahkah kita berupaya terus memposisikan diri sebagai orang orang yang beriman dan sebagai orang orang yang bertaqwa dari hasil ramadhan sebelumnya?Adakah fitnah yang keluar dari mulut kita sehingga menyengsarahkan orang lain.Sudahkah kita menyisihkan sebagian rezeki yang Allah berikan untuk fakir miskin?Terlalu banyak pertanyaan yang ditujukan kepada diri sendiri dalam rangka melihat masih adakah jejak jejak saum ramadhan yang tertinggal untuk kemuliaan.

Ibarat sebuah batery maka ketika saatnya perlu diisi ulang(Recharge),maka keimanan dan ketaqwa juga perlu diperlakukan pengisian ulang.Masih ada kesempatan yaitu Ramadhan 1442H ini.Manfaatkanlah dengan baik.Raih derajat kemuliaan yaitu Taqwa.Pastikan diri tergolong kepada orang orang yang beriman yang dipanggil Allah untuk berpuasa.Semoga Allah memberkahi Ramadhan ini dan Allah jadikan ummat islam sebagai ummat yang terbaik di muka bumi. (*)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!