Masjid Agung Alikhlas Dibuka di Tengah Status Zona Merah

KETAPANG – Masjid Agung Alikhlas Ketapang kembali dibuka untuk umum. Per 22 Mei mendatang, masjid terbesar di Ketapang ini akan memulai kegiatan keagamaan seperti biasa. Imbauan untuk tidak melakukan salat lima waktu berjemaah, termasuk salat Jumat, telah dicabut seiring dengan terbitnya pengumuman yang ditandatangani oleh yayasan dan pengurus Masjid Agung Alikhlas Ketapang pada 16 Mei 2020.

Masjid yang terletak di jantung Kota Ketapang ini sebelumnya ditutup dari berbagai aktivitas keagamaan seiring dengan merebaknya kasus Covid-19. Ditambah lagi dengan keluarnya imbauan dari Menteri Agama RI untuk melakukan salat di rumah. Hal tersebut dilakukan untuk memutus matarantai penyebaran Covid-19, khususnya di Ketapang.

Hingga saat ini Ketapang menjadi salah satu dari tiga daerah yang ditetapkan sebagai zona merah penyebaran Covid-19 di Kalbar. Terdapat 12 kasus positif Covid-19 yang tersebar di lima kecamatan di Ketapang. Empat kasus positif berada di Kecamatan Delta Pawan yang merupakan Ibu Kota Ketapang. Kemudian lima kasus di Kecamatan Benua Kayong yang wilayahnya berdampingan dengan Kecamatan Delta Pawan. Dua kecamatan ini ditetapkan sebagai zona merah. Selain 12 kasus positif, masih ada 21 orang yang dinyatakan reaktif saat dirapid test.

Sementara terkait pengumuman pembukaan aktivitas di Masjid Alikhlas tersebut, dibenarkan dan ditandatangani langsung oleh Ketua Yayasan Aklikhlas Ketapang, Yusman.

“Iya, (pengumuman) itu sudah saya tandatangani,” kata Yusman, saat dikonfirmasi kemarin (16/5).
Dia menjelaskan, dibukanya masjid tersebut berdasarkan beberapa pertimbangan. Di antaranya saran dan masukan dari jemaah, serta mengamati berbagai tempat yang telah membuka kembali aktivitas masjid sebagai tempat ibadah berjamaah yang berada di sekitar Kota Ketapang, provinsi lain, bahkan luar negeri. Oleh karena itu, pada Jumat (15/5) dilaksanakan rapat antara Pengurus Yayasan Alikhlas dengan Pengurus Harian Masjid Agung Alikhlas Ketapang.

Yusman menjelaskan, sejak Covid-19 merebak di Indonesia, termasuk di Ketapang, pihaknya langsung mengikuti arahan pemerintah untuk menutup seluruh kegiatan di masjid tersebut. “Selama ini kami selalu mengikuti imbauan pemerintah. Sudah delapan jumat Masjid Alikhlas tidak melaksanakan salat Jumat,” jelasnya.

Akan tetapi, lanjut Yusman, selama delapan pekan masjid tersebut ditutup dari berbagai aktivitas keagamaan, tidak diikuti oleh masjid-masjid yang ada di Ketapang. Masjid-masjid di Ketapang masih dibuka dan tidak ada penindakan. Bahkan, menurut Yusman, satu-satunya masjid yang tutup di Ketapang hanya Masjid Agung Alikhlas. “Saya perhatikan, yang tutup di Ketapang itu hanya Alikhlas. Jadi saya merasa bersalah. Belum lagi protes dari jamaah, kenapa hanya Alikhlas yang tutup,” ungkapnya.

Oleh karena itu, pihaknya berinisiatif untuk membuka kembali masjid tersebut seperti biasa. Selain karena adanya saran dan masukan dari jamaah, masjid tersebut juga memerlukan biaya operasional. Setidaknya masjid tersebut membutuhkan biaya Rp30 juta untuk biaya operasional. Baik untuk membayar listrik, PDAM, petugas kebersihan, keamanan dan sebagainya. “Jika kami terus-terusan tutup, tidak ada income untuk kebutuhan masjid. Sementara pemasukan kas masjid dari jamaah setiap pekannya,” paparnya.

Sebelum membuka kembali masjid tersebut, pihak yayasan dan pengurus masjid telah berkoordinasi dengan Pemda Ketapang. Namun, menurutnya, Pemda juga tidak bisa memberikan ketegasan untuk menutup semua masjid di Ketapang. Pemda hanya menyarankan agar masjid-masjid mengikuti imbauan dari Kementerian Agama. Bahkan, dalam tiga kali rapat sebelumnya juga tidak membuahkan keputusan terkait masjid ini.

“Kami punya komitmen, jika di kemudian hari Pemda mempunyai komitmen untuk menutup semua masjid dan tempat keramaian, kami siap untuk mengikuti. Saya tidak meninggalkan Pemerintah dalam mengambil keputusan ini, hanya saja Pemda tidak memberikan kepastian dan hanya meminta mengikuti arahan dari Menteri Agama,” ujarnya.

Ada enam poin yang disampaikan dalam pengumuman tersebut. Di antaranya aktivitas salat lima waktu, salat tarawih dan salat jumat per 29 Mei 2020, termasuk juga dapat melaksanakan salat Idulfitri 1441 Hijriah. Kemudian penerimaan dan penyaluran zakat dan sebagainya juga dapat dilakukan per 17 Mei 2020. Termasuk juga tadarus, akad nikah, rapat dan kegiatan perpustakaan kembali dibuka. Hanya yang masih belum dibuka untuk kegiatan tabligh akbar, seminar dan pelatihan.

Setiap pelaksanaan kegiatan tersebut harus tetap menggunakan protokol kesehatan. Mulai dari mencuci tangan, menggunakan masker, membawa sajadah masing-masing, menjaga jarak 20 centimeter dan menggunakan pintu masuk yang telah ditetapkan. Pengurus masjid hanya tidak memperkenankan jamaah yang dalam keadaan sakit, anak-anak dan lansia untuk datang ke masjid. “Pengumuman ini berlaku efektif sejak ditandatangani dan menghapus segala ketentuan sebelumnya,” bunyi poin terakhir dalam surat tersebut. (afi)

Read Previous

Pesta Panen Padi di Tengah Pandemi

Read Next

PDP Asal Sanggau Sembuh Corona