Masuk Dalam Manifest, Paulus dan Indra Terhindar dari Kecelakaan SJ-182

Paulus Yulius Kollo (Kiri) dan Indra Wibowo (kanan), calon penumpang yang masuk dalam manifes tragedi Sriwijaya Air SJ-182, menunjukkan dokumen tiket Sriwijaya Air SJ-182 jakarta Pontianak dan hasil tes usap antigen

PONTIANAK – Dua calon penumpang yang sudah masuk dalam daftar manifes tragedi Sriwijaya Air SJ-182, Paulus Yulius Kollo (24) dan Indra Wibowo (21) selamat akibat tak mengantongi negatif swab PCR sebagai syarat untuk bisa terbang ke Pontianak. Keduanya memilih tak melanjutkan perjalan menggunakan pesawat lantaran tak mampu membayar tes usap kilat.

“Akhirnya kami putuskan naik kapal saja karena tes PCR mahal,” ungkap Paul, sapaan akrab Paulus, saat ditemui Pontianak Post, Selasa (12/1).

Dia menceritakan, semula ia dan Indra akan berangkat dari Makassar hendak ke Pontianak sejak tanggal 4 Januari 2021. Perjalanannya ke ibukota Kalimantan Barat itu, membutuhkan transit satu kali di Jakarta, dan akan melanjutkan perjalanan pada tanggal 5 Januari 2021. Karena waktu itu hanya mengantongi hasil tes swab antigen, maka keduanya tak bisa melanjutkan perjalanan ke Pontianak.

“Akhirnya saya menginap di rumah keluarga yang ada di Jakarta. Dan Pihak maskapai Sriwijaya me-reschedule jadwal jadi hari Sabtu (tanggal 9 Januari), dengan harapan kami bisa melengkapi dokumen,” kata dia.

Setelah di cek ke sejumlah fasilitas kesehatan yang ada Jakarta, pemuda asal Kupang ini terkejut karena harga tes usap kilat sebesar Rp2,6 juta per orang. Karena merasa berat dengan biaya tersebut, maka ia dan Indra memutuskan untuk ke Pontianak dengan menggunakan kapal Lawit. Jumat Sore mereka berangkat.

“Sepanjang perjalanan, tidak ada sinyal. jadi tidak tahu ada apa-apa (kecelakaan pesawat),” kata dia.

Dia menceritakan, ketika sampai di muara Sungai Kapuas, Minggu (10/1) pagi, barulah mendapat sinyal dan banyak notifikasi pesan masuk menanyakan perihal kabarnya. “Saya telpon keluarga pagi itu. Orang tua menangis karena mengira saya salah satu korban,” kata dia.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Indra. Setelah ponselnya mendapat sinyal, keluarga dan karib kerabat banyak menghubungi. Lantas segera menghubungi keluarga untuk memberikan kabar bahwa ia tak menaikan pesawat yang naahs tersebut. “Orangtua menangis. keluarga juga sudah menggelar doa,” ungkap pemuda asal Aceh tenggara ini. (sti)

error: Content is protected !!