Masyarakat Belitang Terbuka dengan Pendatang

UPACARA ADAT: Upacara adat Ngumai Semengat Nyagu Ayu yang dilaksanakan di halaman Kantor Desa Menua Prama, Rabu (19/2) lalu, dengan dibawakan langsung oleh Temenggung Adat, Gunal Radinas. WWW.SEKADAUKAB.GO.ID

Menua Prama Gelar Ngumai Semengat Nyagu Ayu

BELITANG – Masyarakat adat Dayak Belitang sepakat untuk menerima para pendatang. Kesepakatan tersebut dibeberkan dalam upacara adat Ngumai Semengat Nyagu Ayu yang berlangsung di halaman Kantor Desa Menua Prama, Rabu (19/2) lalu.

“Masyarakat adat Dayak, secara khusus masyarakat Belitang, baik Belitang Hilir dan Belitang Hulu, sepakat untuk menerima saudara-saudara kita dari daerah asal, untuk saling bergandengan tangan di Betang Kenyalang Khatulistiwa. Dengan harapan tentunya saling menghargai tatanan budaya masing-masing,” ungkap Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kecamatan Belitang, Jono Sawa. Ditegaskan dia bahwa satu hal yang penting digarisbawahi mengenai ungkapkan di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. “Selama kesepakatan adat tersebut tidak bertentangan dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku,” ujar Sawa.

Sawa dengan lugas menyampaikan agar masyarakat menjaga norma-norma kebersamaan, untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan aman. “Menjunjung tinggi norma adat demi utuhnya persatuan dan kesatuan bangsa,” ucapnya.

Dalam sambutannya, Sawa menyampaikan bahwa adat ini merupakan penyelenggaraan kali kedua di Desa Menua Prama. Diungkapkan dia kembali bahwa sebelumnya pernah dilaksanakan pada saat terjadi peristiwa kerusuhan antarsuku sekitar tahun 1990-an. Runtutan panjang perkembangan masyarakat Menua Prama tersebut digambarkan dia. Dia mengungkapkan bahwa perkembangan masyarakat tidak terlepas dari program tata pemukiman oleh perusahaan sawit PT. KSP saat itu. “Masyarakat diarahkan dalam satuan pemukiman dengan komposisi masyarakat lokal dan warga transmigran,” kata dia.

Upacara adat ini dihadiri Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Sekadau, Fendy. Acara ini sendiri digagas oleh DAD Kecamatan Belitang dan difasilitasi oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik melalui program Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM). Digelar untuk mewujudkan dan memupuk rasa persatuan dan persaudaraan, menuju masyarakat yang aman dan damai. Untuk diketahui, prosesi ini juga merupakan langkah rekonsiliasi permasalahan yang terjadi dalam kontestasi pemilihan kepala desa beberapa waktu lalu.

Acara dimulai dengan pemancungan buluh muda oleh Fendy, dilanjutkan upacara adat Ngumai Semengat Nyagu Ayu kemudian acara ramah tamah. Turut hadir jajaran Badan Kesatuan Bangsa dan Politik, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Forkopimka Belitang, unsur pimpinan PT. AP Investment, tokoh masyarakat, dan para perangkat Desa Menua Prama. Prosesi adat dibawakan langsung oleh Temenggung Adat, Gunal Radinas.

Sebagai pendiri dan penggagas terbentuknya Desa Menua Prama, Herkulanus berharap pembangunan di Desa Menua Prama terus diisi. “Kami kecewa kalau hasil yang kami bangun ini tidak satu orang pun yang memetiknya. Jadi artinya kami yang menanam, tidak harus kami juga yang memanennya,” tegas Herkulanus.

Terkait masalah keamanan, pihak Kepolisian Sektor (Polsek) Belitang juga menekankan agar masyarakat meningkatkan persatuan dan kesatuan, demi terciptanya kondisi yang aman dan sejahtera. “Jangan kita terprovokasi masyarakat luar. Yang sudah, sudahlah, tapi saya yakin Desa Menua Prama warga-warganya taat hukum,” ungkap Kepala Polsek (Kapolsek) Belitang, IPTU Suritno.

Hal senada disampaikan Camat Belitang, Hermansyah. “Kita di Negara Kesatuan Republik Indonesia, punya keberagaman. Keberagaman timbul karena banyak perbedaan, baik ras, suku, agama, sosial-politik, budaya, ekonomi, dan sebagainya. Ngumai Semengat Nyagu Ayu diharapkan kita kembali lagi dalam satu keluarga Desa Menua Prama, tanpa memandang suku, ras, agama, maupun antargolongan,” ungkap Camat.

Dia juga berpesan agar seluruh warga Desa Menua Prama mendukung bekerja sama dengan kepala desa dan perangkat desa yang sekarang.

Dalam sambutannya Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Fendy, mengingatkan kembali penerapan filosofi di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Filosofi tersebut diharapkan dia hendaknya dijadikan pedoman dalam kehidupan masyarakat.

“Jangan karena kontestasi yang hanya 5 tahun, kita bermusuh-musuhan yang dimunculkan oleh pihak-pihak yang saya anggap kurang bertanggung jawab untuk kepentingan sesaat,” imbau Fendy.

Seperti yang telah diketahui bersama bahwa dalam proses Pemilihan Kepala Desa Menua Prama beberapa waktu lalu, Suyatno unggul dalam perolehan suara dan ditetapkan sebagai Kepala Desa Menua Prama periode 2019 – 2025. (humas)

loading...